Kaqotun, Upaya Sillas Melenturkan Citra Arab di Indonesia

Kontributor: Gregorius Manurung, tirto.id - 18 Jan 2023 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Selalu ada citra sakral, relijius, dan Islami dalam segala hal yang berhubungan dengan Arab dalam masyarakat Indonesia.
tirto.id - Beberapa tahun silam, solis Agnez Mo ramai jadi perbincangan di media. Penyebabnya: ia mengenakan pakaian hitam dengan aksara Arab. Salah satu tudingan yang banyak dilontarkan kala itu adalah Agnez Mo menghina Islam.

Padahal aksara Arab yang melekat dalam pakaian Agnez Mo berbunyi al muttahidah yang berarti persatuan.

Peristiwa tersebut adalah salah satu contoh bagaimana Arab dan bahasa Arab diimajinasikan oleh masyarakat Indonesia. Dalam bayangan banyak orang Indonesia, ada citra sakral, relijius, dan Islami dalam segala hal yang berhubungan dengan Arab.


Ada satu contoh lagi soal bagaimana bahasa Arab diidentikkan dengan agama Islam. Di salah satu episode Bajaj Bajuri, paman Said (salah satu karakter yang berdarah Arab) datang mengikuti selamatan. Karena yang bertugas memimpin doa berhalangan hadir, Said usul ke pamannya, dengan memakai bahasa Arab, agar beliau mau memimpin doa. Sang paman menggeleng dan menolak karena tak terbiasa memimpin doa dan takut salah.

Mendengar dua orang itu bercakap dalam Bahasa Arab, hadirin yang datang mengira itu adalah doa. Mereka menengadahkan tangan, dan berucap: amiiiin!


Citra bahwa bahasa Arab = Islam, coba dipatahkan oleh Sillas, band dream-pop asal Cirebon, melalui EP Kaqotun yang dirilis pada Oktober 2022.


Lahir Akibat Pandemi


Sillas lahir dari kepenatan Za’immuddin Mukarrom (vokal, gitar) saat virus Covid-19 varian Delta mengamuk pada Juli 2021. Zaim bekerja di bidang kesehatan sehingga setiap hari gerbong-gerbong cerita sedih dan masalah menghantam dirinya.

“Kudu ngeluarin sesuatu nih dari kepala. Akhirnya nulis-nulis, materi tiba-tiba banyak aja,” ucap Zaim.

Masalahnya, band Zaim sebelumnya, Kaveh Kanes, sedang tidak aktif. Pada momen itu, Eky datang.

Eky yang kini menjadi manajer Sillas mengenalkan Zaim pada Arief Fatchurrochman atau Obeth (gitar), Maulana Athar Rizvi Masdar atau Athar (bass), dan Raden Sudani Ramadhani atau Dani (drum). Mereka bersepakat membentuk band dengan nama Sillas dan mulai masuk studio.

Sillas punya satu prinsip dalam menggarap musik: setiap orang bertanggung jawab pada instrumen masing-masing. Setiap personel punya kontribusi dan eksplorasi sendiri, yang penting tidak melenceng dari fondasi tempo, atmosfer, dan tema besar yang disepakati di awal.

Dengan prinsip itu Sillas melahirkan empat lagu dalam Kaqotun yang dirilis oleh Anoa Records.

Kaqotun memiliki keunikan dibanding banyak rilisan indie-pop/dream-pop lokal. Sillas menggabungkan musik anak-cucu Cocteau Twins dan A.R. Kane dengan lirik-lirik berbahasa Arab. Ada tiga track dalam EP ini yang liriknya berbahasa Arab, yaitu “Hadza Huwal Hubbu”, “Mamlaka”, dan “Kaqotun”. Keluarga Zaim adalah inspirasi di balik penulisan lirik berbahasa Arab dari tiga track tersebut.


Awalnya Sillas sudah memiliki delapan materi dengan lirik berbahasa Inggris atau Indonesia. Namun, arah gerak berubah setelah Eky dan Gori, teman Zaim dari Jatiwangi, bertemu Zaim beserta orangtuanya. Dari pertemuan itu, Eky dan Gori berpendapat bahwa keluarga Zaim jauh dari citra keturunan Arab di Indonesia.

Zaim memiliki keluarga yang menurutnya bisa disebut moderat. Ayah Zaim, misalnya, sering berkunjung ke gereja pada hari Natal. Di sana ia mengucapkan selamat dan berdialog dengan umat Kristiani yang sedang merayakan Natal.

“Saya juga melihat Mas Zaim dari keluarga yang bisa dibilang liberal. Akhirnya kita coba membuat lirik bahasa Arab, jadi mencoba untuk menunjukkan bahwa bahasa Arab tidak sekaku itu sih sebetulnya,” ucap Athar.

Dalam menulis lirik, Zaim berkonsultasi dengan dua kyai di Cirebon, yaitu K.H. Usamah Mansyur dan Kyai Abdullah Masduki. Tujuannya agar tidak asal menerjemahkan. Selain itu, sempat muncul kecemasan dalam diri Zaim untuk menyanyikan bahasa Arab sebab bahasa Arab sangat bergantung pada bunyi.

Bahasa Arab didominasi oleh abjad konsonan. Ada yang berpendapat jumlah konsonan dalam bahasa Arab adalah 28, tetapi ada juga yang berpendapat berjumlah 26. Sementara untuk abjad vokal, jumlahnya pasti, yaitu tiga bentuk vokal dalam bahasa Arab.

Panjang-pendek, tebal-tipis, dan tunggal-majemuknya bunyi vokal akan menentukan dan membedakan makna setiap kata dalam bahasa Arab.

Saat berdiskusi, jawaban sang kyai menghilangkan kecemasan Zaim.

“Jawaban beliau simpel, karena itu dharurratun syi'ir. Itu berarti ketika bersyair, bahasa menjadi berubah. Tidak apa-apa, yang pentingkan kan meaning-nya kita nulisnya tetap sama,” terang Zaim.

Memainkan musik dengan lirik berbahasa Arab bukan perkara mudah sebab lagi-lagi, di Indonesia, segala sesuatu yang berunsur Arab akan diidentikkan dengan Islam dan musik reliji. Bahkan dalam penampilan Sillas di Majalengka pada 11 November 2022, beberapa penonton membentuk posisi tangan seperti sedang berdoa saat nomor “Kaqotun”dibawakan. Adegan itu seperti menegaskan bahwa lagu berbahasa Arab identik dengan lagu reliji.


Namun Sillas berupaya untuk memosisikan kembali bahasa Arab sebagai produk budaya, bukan milik agama tertentu.

“Di bahasa Arab ada umpatan, ada bahasa kasar, ada bahasa-bahasa jorok, dan itu ya tidak Islami ya menurut kita yang orang Islam. Itu ya bahasa umum, ya biasa aja,” ucap Zaim.


Bersafari untuk Silaturahmi


“Bukan mendobrak tembok, lebih ke menjaga silaturahmi lagi.”

Zaim ingat betul masa kecilnya yang dikelilingi rumah ibadah berbagai agama. Samping rumahnya adalah gereja Protestan, di depan ada gereja Katolik, dan ada masjid di belakang rumahnya. Zaim mengisi masa kecilnya dengan bermain di sekitar rumah ibadah itu .

“Jadi saya main bola, main kelereng, main di area semua tempat peribadatan. Itu hal yang biasa buat saya. Cuman ketika makin besar kok ada rasa tabu ya, ada rasa nggak enak ya, ada rasa seperti mengganggu dan ada jarak di antara kita,” ucap Zaim.

Dari memori masa kecil itu, Zaim bersama Sillas mencoba kembali menjalin silaturahmi dengan beragam agenda kunjungan terkonsep.

Ada empat kunjungan terkonsep yang Sillas selenggarakan selama 2022: Port Safary, Dharma Safary, Hubbu Safary, dan Suddenly Safary.

Semua bermula dari Port Safary pada Maret-April 2022, yang tajuknya diambil dari kota Cirebon sebagai kota pelabuhan.

“Keragaman itu, menurut saya, berawal dari port karena zaman dahulu mungkin ada perdagangan di sana, ada orang dari etnis di negara lain pindah ke Cirebon, akhirnya tinggal di sini,” ucap Athar.

Port Safary mengunjungi institusi pemerintahan seperti Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Cirebon dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Yang paling menarik adalah Dharma Safary. Selama Juli-Agustus 2022, Sillas mengunjungi tempat ibadah dan institusi pendidikan dari beragam agama. Di Cirebon, mereka mengunjungi Vihara Welas Asih dan Ponpes An-Nusuha, sementara Gereja Katolik Santa Maria yang mereka kunjungi terletak di Purwakarta.

Di hadapan umat Vihara Welas Asih dan Gereja Katolik Santa Maria itulah Sillas membawakan lagu-lagu dream-pop berbahasa Arab mereka. Sebuah pemandangan yang akan terkesan janggal jika masih berpatokan pada Arab adalah Islam atau lagu berbahasa Arab adalah lagu Islami.

Melalui Dharma Safary, Sillas mencoba membentuk kembali interaksi antarkelompok. Sillas juga mengaku menemukan banyak hal baru, begitu juga umat tempat ibadah tersebut.

Di Vihara Welas Asih, para personel Sillas menemukan dua patung yang adalah sosok umat muslim. Eksistensi dua patung itu berhubungan dengan Geger Pecinan 1740.

Konflik Geger Pecinan di Batavia merambat hingga ke Cirebon, Tegal, dan banyak kota di Pantura. Pada peristiwa berdarah itu, warga keturunan Tionghoa dan Jawa bersatu melawan kolonial Belanda. Dari Cirebon, keturunan Tionghoa bernama La Kwa Ya ikut bertempur. Selama bertempur, La Kwa Ya dibantu oleh dua sosok muslim yang akhirnya dijadikan patung di Vihara Welas Asih.

Menurut Obeth, keturunan Tionghoa memang memiliki budaya membuatkan patung untuk leluhur atau sosok yang dihormat karena telah memberikan jasa yang besar untuk kemaslahatan manusia. Dua patung tersebut dibangun lengkap dengan atribut muslim yang melekat, seperti peci.

“Seiring perkembangan, [pakaian] dua patung tersebut diubah bentuk dari peci ke topi yang secara kultur menjadi topi khas tionghoa oleh pengurus vihara dikarenakan situasi politik tahun 1965,” kenang Obeth.

Sementara di Gereja Katolik Santa Maria, Sillas didatangi beberapa umat dan seorang pastur bernama Romo Rudi seusai tampil. Romo Rudi bertanya, musik apa yang Sillas mainkan?

“Kami jawab indiepop, dreampop, shoegaze, postrock beserta beberapa referensinya seperti Sigur Ros, Slowdive dan beberapa lainnya. Respons beliau pada saat itu ya senang dengan musik Sillas, sepertinya menjadi referensi musik atau hal yang baru buat jamaat disana terlebih buat yang lebih muda,” kenang Obeth.

“Jadi, ternyata jaraknya dari kita doang, dari mereka nggak ada sebenarnya. Kita yang buat jarak itu, ketakutan kita,” tegas Zaim.

Mendengar peryataan Zaim, saya langsung teringat penggalan lirik dari nomor “Mamlaka”.

Min mustahili ikhtiraquha malam yatima fathuha min dakhili

Mustahil menembusnya, kecuali dibuka dari dalam

Baca juga artikel terkait MUSIK atau tulisan menarik lainnya Gregorius Manurung
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Gregorius Manurung
Penulis: Gregorius Manurung
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight