Manusia Vs. Mesin

Kala Pekerjaan Direbut oleh Komputer

Oleh: Maulida Sri Handayani - 1 Juli 2016
Dibaca Normal 3 menit
Hampir separuh dari pekerjaan yang ada di Amerika Serikat bisa digantikan oleh teknologi komputer 20 tahun mendatang, menurut penelitian Osborne dan Frey. Cara menghadapinya adalah dengan memilih profesi yang berhubungan dengan ilmu komputer atau bekerja dalam sektor kreatif. Atau, jadilah instruktur zumba.
tirto.id - Anda berprofesi sopir atau asisten hukum, dan usia produktif masih panjang? Ada baiknya Anda mulai berpikir banting setir. Profesi Anda beberapa puluh tahun lagi akan diambil alih komputer. Kecerdasan artifisial bisa mengerjakannya lebih baik dibanding Anda.

Michael A. Osborne dan Carl Benedikt Frey, peneliti dari Oxford University, pada 2013 menganalisis masa depan pekerjaan manusia yang dihadapkan perkembangan teknologi informasi. Mereka menyimpulkan ada banyak pekerjaan yang kelak digantikan komputer atau mesin atau otomaton. Salah satunya sopir.

Padahal, satu dekade lalu kemampuan mesin masih diragukan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti menyopir. Meski paham benar bahwa teknologi komputer menyediakan pekerjaan-pekerjaan baru, Levy dan Murnane dalam The New Division of Labor: How Computers Are Creating the Next Job Market (2004) masih menganggap peranan manusia penting.

Persepsi manusia, menurut duo ini, sulit ditiru sehingga mengemudikan kendaraan di lalu lintas sulit diotomatisasi. Mereka mencontohkan: “[…] berbelok ke kiri di tengah arus lalu lintas melibatkan begitu banyak faktor sehingga sulit membayangkan seperangkat aturan yang bisa mereplikasi perilaku seorang sopir […]”

Tapi enam tahun kemudian, pada Oktober 2010, Google mengumumkan hasil modifikasi Toyota Prius menjadi sepenuhnya otonom.

CEO produsen mobil listrik Tesla, Elon Musk, bahkan bilang bahwa urusan mobil otonom sudah selesai dan Tesla sedang mewujudkannya. Karena Google bukanlah perusahaan mobil, maka perusahaan teknologi informasi itu bukanlah saingan Tesla.

“Kami akan berujung pada [mobil yang] benar-benar otonom, dan kurasa kami akan mempunyainya sekitar dua tahun lagi,” Elon Musk mengatakannya dengan enteng pada Fortune, akhir 2015 lalu.

“Kami sudah punya semua bagian-bagian [mobil] dan hanya perlu menyempurnakannya, meletakkan dalam posisinya masing-masing, lalu memastikan semuanya bisa bekerja di lingkungan yang berbeda-beda—maka selesai,” katanya.

Selesai. Dengan kata itu, Elon Musk juga sedang memastikan profesi sopir akan selesai di kemudian hari. Travis Kalanick, CEO layanan berbagi tumpangan Uber, pernah mencuit pada awal 2015 bahwa layanan Uber akan nirsopir pada 2030.

Tapi pada 2016 ia merevisi pernyataannya. “Mungkin akan perlu waktu lebih lama lagi," katanya pada ceramah TED tahunan di Vancouver, meyakini proses menuju mobil tanpa-sopir akan terjadi lebih lama dari perkiraannya. "[Mobil-mobil nirsopir] bisa dijalankan di tempat-tempat tertentu dan tidak di tempat lain," imbuhnya.

Pada penelitian Osborne dan Frey, besarnya kemungkinan profesi sopir dan sopir taksi tergantikan oleh komputer ada pada angka 0,89 dari skala 0-1. Semakin besar angkanya, maka semakin besar kemungkinan sebuah profesi digantikan oleh mesin. Sopir bukan satu-satunya profesi yang akan tersingkir.




Barangkali Anda tak kaget kelak akan banyak pekerjaan tergantikan komputer, seperti selama ini teknologi mengambil alih pekerjaan kita satu per satu, dari mulai kalkulator hingga mesin cuci baju. Tapi, angka yang disampaikan Osborne dan Frey cukup mengejutkan. Hampir separuh dari 702 pekerjaan di Amerika Serikat, tepatnya 47 persennya, akan tergantikan oleh mesin dalam waktu 20 tahun.

Ini semua bisa terjadi karena komputer bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kita secara efisien. “Algoritma menawarkan keputusan-keputusan yang bebas dari heuristika dan bias manusia,” tulis Osborne dan Frey.

Duo peneliti ini memberi contoh soal bias manusia dengan penelitian Danziger (2011) yang menyebut hakim-hakim Israel lebih murah hati dalam memutus perkara pada persidangan-persidangan yang digelar setelah istirahat makan siang.

Algoritma dapat dirancang untuk mengeksekusi tugas tanpa ampun. Bandingkan dengan manusia yang harus memenuhi hal-hal di luar pekerjaannya, misalnya tidur, yang sesekali harus mengorbankan pekerjaan mereka. Belum lagi jika ada kendala emosional yang juga bisa menghambat pekerjaan. Selain terhindar dari bias, komputer juga tak membutuhkan banyak tempat. Sepuluh prosesor menghabiskan tempat jauh lebih sedikit dibanding sepuluh orang pegawai.

Akurasi kerja algoritma dan hal-hal yang pendukung efisiensi inilah yang membuat banyak pekerjaan, tak sebatas sopir, secara bertahap diambil alih komputer.

Dalam dunia kesehatan, tugas diagnostik sudah mulai terkomputerisasi. Misalnya yang dilakukan ahli-ahli onkologi di Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering yang menggunakan komputer Watson dari IBM untuk mendiagnosis perawatan dan pengobatan kanker kronis.

Pengetahuan dari 600.000 laporan bukti medis, 1,5 juta rekam medis dan percobaan klinis pasien, serta 2 juta halaman teks dari jurnal medis, digunakan untuk menentukan patokan dan pengenalan pola. Komputer membandingkan gejala-gejala perorangan, genetika, sejarah keluarga dan medikasi, lalu membuat diagnosis dan mengembangkan rencana perawatan yang kemungkinan keberhasilannya paling tinggi.

Ini juga terjadi di firma-firma hukum. Mereka bisa menugaskan komputer untuk memindai ribuan dokumen dan preseden hukum demi membantu penelitian pra-sidang. Sistem Symantec’s Clearwell yang menggunakan analisis bahasa untuk mengidentifikasi konsep-konsep umum dalam dokumen, bisa menampilkan hasilnya secara grafis. Ia juga mampu menganalisis dan memilah lebih dari 570 ribu dokumen dalam dua hari.

Dua contoh di atas memperlihatkan bagaimana pencatat transkrip medis, teknisi rekam medis & informasi kesehatan, serta paralegal (asisten hukum) bisa kehilangan pekerjaannya pada tahun-tahun mendatang. Kemungkinan ketiga profesi ini diambil alih mesin ada pada skala 0,89; 0,91 dan 0,94.

Lalu apa pekerjaan yang berumur panjang?

Kuncinya, kata Osborne dan Frey, ada tiga: kreativitas, kecerdasan sosial, serta manipulasi. Tentu akan lebih baik lagi jika Anda bisa menunggangi gelombang revolusi informasi. Anda, misalnya, bisa menjadi pengembang aplikasi telepon pintar. Anda juga bisa bekerja jadi pengelola akun media sosial. Contohnya mengelola akun pesohor Facebook macam Jonru.

Jika punya anak yang cenderung geek, ia bisa diarahkan untuk mempelajari ilmu data. Di bidang inilah Einstein-Einstein masa depan akan bermunculan. Suka seni desain? Arahkan ke bidang rancang UI (user interface) dan UX (user experience) pada dunia rancang websitus.

Atau, nyemplung ke dunia kreatif sekalian. Pekerjaan koreografer amat kecil kemungkinannya diambil alih komputer. Juga pekerjaan fisikal. Pelatih zumba dan fitness misalnya. Jadi atlet akan lebih baik lagi.

Faktor lainnya: tingkat pendidikan. Pekerjaan yang membutuhkan skill tinggi sulit digantikan komputer. Seorang sarjana, karenanya, secara umum akan lebih aman. Di sinilah situasi Indonesia agak mengkhawatirkan. Pekerja lulusan perguruan tinggi, menurut data BPS Agustus 2015, hanya mencakup 8,32 persen dari angka seluruh pekerja (9,6 juta dari 114,8 juta). Artinya, hanya sedikit pekerjaan yang sulit tergantikan oleh komputer.

Tapi, jangan terlalu resah juga. Bagaimanapun, kondisi tiap negara berbeda-beda. Studi serupa yang dilakukan di negara lain menunjukkan angka yang tak sama. Pajarinen dan Rouvinen (2014) misalnya, memperkirakan otomasi di Finlandia akan menggeser 35 persen tenaga kerja manusia, lebih kecil dari perkiraan Osborne dan Frey yang memberi angka ketersingkiran pegawai AS mencapai 47 persen. Brzeski dan Burk (2015) mengestimasi angka di Jerman yang justru lebih besar: 59 persen.

Mengingat kedatangan teknologi ke Indonesia kerap lebih lambat dibanding ke negara-negara pertama itu, besar kemungkinan tingkat ketersingkiran pegawai kita lebih kecil angkanya dan lebih lama prosesnya.

Juga ada studi terbaru dari Gregory Arntz dan U. Zierahn (2016) yang menyanggah penelitian Osborne dan Frey. Menurut mereka, pekerja yang berisiko digantikan oleh teknologi dan otomasi tingkat tinggi hanya 9 persen. Penyebabnya sederhana: banyak pekerjaan masih memerlukan pertemuan antar-manusia. Meski menurut Osborne dan Frey para pekerja bidang seperti pembukuan, akuntansi dan audit potensi otomasinya mencapai 98 persen, hanya 24 persen dari mereka yang bekerja tanpa interaksi dengan manusia lain. Ini tentu cukup melegakan.

Walau demikian, tak ada salahnya bersiap-siap bukan?

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti