Jurus Bertahan Musisi Masa Kini

Reporter: Nuran Wibisono - 24 September 2016
Dibaca Normal 3 menit
Penjualan album fisik terus turun. Para musisi masa kini ternyata tak lagi mengandalkan penjualan album untuk hidup. Pendapatan dari konser, merchandise terbukti bisa membuat mereka bertahan. Banyak musisi, terutama dari label besar yang marah karena pendapatannya tergerus oleh pembajakan. Karena itu, mereka murni mencari uang dari penjualan merchandise dan manggung.
tirto.id - Di era digital seperti sekarang, apakah rilisan album fisik bisa dibilang tamat? Itu pertanyaan yang muncul ketika internet muncul dan musik digital mulai berjaya. Kalau dilihat dari data yang dirilis oleh Nielsen, memang masa depan album fisik lumayan bikin cemas.

Di Amerika Serikat, misalkan. Tingkat penjualan album fisik menurun cukup drastis. Dari data Nielsen, pada 2013, penjualan album fisik berupa kaset dan CD berjumlah 165 juta keping. Angkanya turun 15 persen menjadi 140 juta saja pada 2014. Sedangkan konsumsi musik digital, meningkat 3,8 persen. Dari 314 juta unduh pada 2013, menjadi 326 juta unduh pada 2014.

Orang-orang dunia musik menyebut kondisi ini sebagai digital deflation atau deflasi digital, sebuah istilah untuk menyebutkan bagaimana sebuah konten berkurang nilainya karena perubahan konsumsi dari fisik ke digital. Media cetak adalah salah satu contoh industri yang mengalami deflasi digital, hingga disebut akan mengalami senja kala.

Tapi apakah musik Indonesia juga mengalami kiamat? Sepertinya tidak. Pola konsumsi musik memang bisa berubah, tapi kecintaan pada musik tak akan pernah berubah.



Royalti Musik dan Cara Lain Mencari Uang

Sebelum era digital datang, banyak musisi menggantungkan hidup dari penghasilan royalti. Besaran royalti ini bermacam-macam.

"Pada umumnya royalti artis berkisar antara 1 sampai 10 persen, tergantung pada bargaining power. Royalti bisa mencapai 20 persen, tapi biasanya itu untuk artis yang sudah terkenal," ujar Tori Sudarsono dari Departemen Licensing and Publishing di Guest Music Indonesia.

Jumlah royalti yang diterima musisi jelas tergantung pada penjualan album. Karena itu, banyak musisi, terutama dari label besar yang marah karena pendapatannya tergerus oleh pembajakan. Apalagi sekarang di era digital, penjualan album fisik juga semakin terus menurun.

Kemudian muncul pertanyaan: kalau penjualan album fisik menurun, lantas dari mana musisi mencari uang? Sedikit menyitir "Nyanyikan Lagu Perang" dari band Koil, jawabannya adalah pasti ada cara untuk mencari uang.

Dulu industri musik Indonesia sempat menaruh harap pada Ring Back Tone (RBT), sebuah fitur yang mengganti nada tunggu dengan lagu. RBT populer di Indonesia sejak 2006. Beberapa band sempat menangguk manisnya industri RBT.

Pada 2006, band pendatang baru bernama Samsons melepas lagu "Kenangan Terindah". Lagu ini diunduh sebanyak 4 juta kali, dan menghasilkan pemasukan sebanyak Rp32 miliar. Grup band D'Masiv juga pernah menghasilkan Rp48 miliar dari lagu "Cinta Ini Membunuhku". Pada 2009, grup band Wali mendapatkan rekor Museum Rekor Indonesia karena lagu "Baik-Baik Sayang" diunduh sebagai RBT sebanyak 8 juta kali dalam waktu 2 bulan saja. Dari satu lagu itu, Wali berhasil mendapatkan uang sebanyak Rp24 miliar.

Industri ini ternyata tidak bertahan lama. Karena dugaan pencurian pulsa dan penipuan melalui pesan pendek, akhirnya pemerintah bersama Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia menghentikan layanan SMS premium, termasuk layanan RBT, pada 18 Oktober 2011.

Namun, cara mencari uang dari musik tidak ikut berhenti. Hisham Dahud, analis senior untuk Hypebot, situs tentang musik, teknologi, dan bisnis; pernah menulis tentang 42 cara untuk mencari uang bagi musisi indie. Mulai dari honor konser, penjualan digital, penjualan album ketika pertunjukan, penjualan merchandise, YouTube Partner Program, hingga fans funding dan sponsorship.

Kini banyak band bawah tanah mencari uang dari konser dan penjualan merchandise. Band-band seperti Seringai, Koil, The S.I.G.I.T, Sore, merupakan band-band yang sukses "kaya" dari hasil konser dan jualan merchandise, tentu sembari berjualan album dengan kemasan yang menarik.

Album dengan kemasan yang menarik dan konten yang bagus pasti akan menarik para pembeli. Buktinya, saat kaset dan CD menurun penjualannya, ternyata tingkat penjualan piringan hitam malah naik. Di Amerika Serikat, pada 2013 ada 6,1 juta keping piringan hitam yang terjual. Jumlah itu meningkat jadi 9,2 juta keping pada 2014. Naik sekitar 51,8 persen. Asumsinya, selain mencari kualitas suara, orang cenderung mencari album fisik yang layak dijadikan koleksi.

Apakah uang dari konser ini besar? Untuk band-band bawah tanah yang sudah punya nama, hasilnya amatlah besar, bahkan bisa mengalahkan royalti album.

Hitungannya begini. Anggap saja royalti band A adalah 5 persen. Album yang terjual sekitar 300.000 keping (jumlah yang sulit dicapai di era digital). Harga satu CD di kisaran Rp50 ribu. Maka royalti yang didapat adalah Rp 2.500 kali 300.000 keping. Hasilnya adalah Rp750 juta. Jumlah ini punya beberapa catatan. Pertama, banyak band di era digital kesusahan menjual album fisik. Maka angka 300.000 keping adalah jumlah yang fantastis. Kedua, jumlah ini belum dikurangi beberapa hal seperti pajak penghasilan.

Maka band-band bawah tanah seperti Koil, The S.I.G.I.T, Sore, hingga White Shoes and The Couples Company mulai mencari cara lain untuk mencari uang. Misalnya dengan mengandalkan pemasukan dari merchandise atau manggung. Band dengan jumlah penggemar besar seperti Naif bahkan memilih untuk keluar dari label mayor, membuat label sendiri, menggratiskan albumnya, dan mengandalkan pendapatan dari manggung.

"Royalti dari penjualan album makin kecil. Kalau royalti per CD Rp1.000 dan kami biasanya menjual CD sebanyak 75.000 keping, maka kami cuma dapat Rp75 juta. Jumlah itu setara dengan tarif 1 1/4 tarif manggung kami," ujar pemain bass Naif, Mohammad Amil Hussein.

Begitu pula yang dilakukan oleh Koil. Band rock asal Bandung ini pernah menggratiskan 50.000 keping CD album ketiga, Blackligth Shines On, bagi para penggemarnya. Mereka murni mencari uang dari penjualan merchandise dan manggung.
"Royalti merchandise kini 60 persen dibanding royalti CD dan sejenisnya. Untuk manggung, kami biasanya manggung dua kali dalam seminggu dengan tarif rata-rata Rp35 juta hingga Rp45 juta," ujar Santi Yasfini, mantan manajer Koil, pada 2009 silam. Kalau pada tahun 2009, Koil manggung dua kali dalam seminggu, ini artinya ada 96 kali konser dalam satu tahun. Dengan honor Rp35 juta sekali manggung, maka band ini bisa mendapatkan pemasukan sebesar Rp3,3 miliar setiap tahunnya.

Terbukti, bahwa kata-kata mereka benar: memang ada banyak cara untuk mencari uang.

Baca juga artikel terkait ALBUM atau tulisan menarik lainnya
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Nuran Wibisono

DarkLight