Menuju konten utama

Jungkir-Balik Karier Riyad Mahrez

Terpilih sebagai pemain terbaik Afrika 2016 dan melakoni musim lalu dengan gelimang kejayaan, konsistensi Riyad Mahrez kini dipertaruhkan.

Jungkir-Balik Karier Riyad Mahrez
Pemain Leicester City, Riyad Mahrez. FOTO/metro.co.uk

tirto.id - Menjadi yang paling luar biasa se-Afrika raya menyempurnakan pencapaian Riyad Mahrez sepanjang tahun lalu. Winger Aljazair ini terpilih sebagai pemain terbaik Afrika dengan mengantongi 361 suara, unggul dari penyandang tahta sebelumnya, Pierre-Emerick Aubameyang (Gabon), yang mendapat 313 suara, serta Sadio Mane (Senegal) di posisi ketiga dengan 186 suara.

Apa yang telah dilakukan Mahrez bersama Leicester City dengan merengkuh trofi juara Premier League 2015/2016 lalu memang sangat mengagumkan sekaligus mengejutkan. Dan bukan sesuatu yang mengherankan jika lelaki 25 tahun itu diganjar dengan gelar sebagai pemain terbaik benua hitam.

Tapi, sanggupkah Mahrez menjaga konsistensinya?

Para Penyihir Dari Aljazair

Riyad Mahrez adalah pesepakbola Aljazair pertama yang menjadi pemain terbaik Afrika sejak ajang penghargaan ini dinaungi oleh konfederasi sepakbola Afrika (CAF) sedari 1992. Selain legenda Maroko, Mustapha Hadji, pada 1998, belum ada lagi pesepakbola dari negara di kawasan pesisir pantai utara Afrika yang sanggup meraih gelar tersebut hingga akhirnya muncul nama Mahrez.

Pesepakbola dari Aljazair sebenarnya sering meramaikan ajang pemilihan pemain terbaik Afrika versi majalah France Football sekurun 1970-1994. Pengemas 100 caps di tim nasional Aljazair, Lakhdar Belloumi, pernah meraihnya pada 1981. Rekan senegara Belloumi, Ali Fergani, menempati posisi tiga terbaik di bawah kiper Kamerun, Thomas N'kono, di urutan kedua.

Edisi tahun berikutnya, 1982, Belloumi hanya masuk nominasi ketiga terbaik bersama Salah Assad yang juga dari Aljazair di posisi kedua. Thomas N'kono kali ini yang menjadi juaranya.

Aljazair kembali menempatkan 2 pemainnya di ajang serupa pada 1985. Hanya saja, Rabah Madjer dan Djamel Menad kala itu hanya masuk sebagai nominasi karena gelar pesepakbola Afrika terbaik diberikan kepada Mohammed Timoumi asal Maroko.

Dua tahun kemudian, Rabah Madjer membayar tuntas penantiannya. Bomber FC Porto ini mengungguli Youssouf Fofana (Pantai Gading) dan Francois Oman-Biyik (Kamerun) untuk menjadi yang terbaik di benua hitam pada 1987.

Penghargaan pemain terbaik Afrika versi majalah France Football 1990 menjadi ajang terakhir yang menyertakan nominator dari Aljazair. Kala itu, Rabah Madjer dan Tahar Cherif El-Ouazzani harus mengakui striker eksentrik Kamerun, Roger Milla, sebagai pesepakbola terbaik di benua mereka.

Setelah itu, sampai France Football menghentikan programnya pada 1994, lantas dilanjutkan oleh CAF sejak 1992, tidak ada lagi pesepakbola Aljazair yang bersinar terang. Hingga akhirnya, Mahrez sukses memungkasi masa suram itu berkat penampilan gemilangnya bersama Leicester City musim lalu.

Semusim Bertabur Prestasi

Perjalanan karier Riyad Mahrez sebenarnya tidak selalu berjalan mulus. Ibarat roller coaster, penampilannya dalam semusim bisa sangat memukau serta mencetak banyak gol, tapi pada musim yang lain terkadang biasa-biasa saja.

Hanya mengemas 17 laga di Le Havre yang berkompetisi di Ligue2 (satu tingkat di bawah kasta tertinggi Liga Perancis) pada 2013/2014, Mahrez ternyata diminati oleh Leicester City. The Fox yang saat itu masih berkiprah di Championship memboyong Mahrez cuma dengan 500.000 euro atau Rp7,5 miliar.

Satu musim sudah cukup bagi Mahrez untuk membawa Leicester City promosi ke Premier League. Meskipun The Fox nyaris terdegradasi di musim debutnya, namun Mahrez menjadi salah satu sosok sentral yang dengan heroik membawa Leicester City meraih gelar pertamanya sebagai jawara Premier League pada 2015/2016.

Winger 24 tahun ini selalu menjadi pilihan utama Claudio Ranieri dengan mencatatkan 3.057 menit dalam 37 penampilan dan hanya 2 kali diturunkan sebagai pemain cadangan. Jumlah gol yang dibuatnya dalam musim itu pun sangat mengagumkan: 17 gol, hanya kalah dari bomber utama The Fox, Jamie Vardy, yang mengemas 24 gol.

Jumlah 17 gol yang dicetak Mahrez di Premier League 2015/2016 itu menjadi torehan gol terbanyak dalam sepanjang kariernya dalam satu musim kompetisi. Di dua musim sebelumnya bersama Leicester City, ia hanya mampu menceploskan bola ke gawang lawan sebanyak 7 kali dalam 49 laga.

Performa gemilang pemain kelahiran Perancis ini pun membuahkan seabrek prestasi pribadi. Mahrez menyabet gelar Pemain Terbaik Aljazair 2015, Pemain Terbaik 2015/2016 versi Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA), Pemain Terbaik 2016 Pilihan Suporter versi PFA, Pemain Terbaik Leicester City 2015/2016, Pemain Terbaik Afrika 2016 versi BBC, dan tentu saja Pemain Terbaik Afrika versi CAF.

Infografik Pemain Terbaik Afrika

Pembuktian Konsistensi

Musim 2015/2016 barangkali merupakan musim terbaik Mahrez kendati bisa saja ia menorehkan prestasi yang lebih berkilau di kemudian hari mengingat usianya yang masih terbilang muda. Hanya saja, obsesi tersebut mungkin lebih sulit terjadi jika ia tetap bertahan di Leicester City.

Bagaimanapun juga, The Fox bukanlah tim yang sewaktu-waktu bisa terus bersaing di papan atas, apalagi mempertahankan gelar juara di kompetisi seketat Premier League dengan jajaran klub raksasanya. Dan hal itu berkali-kali diakui oleh sang pelatih, Claudio Ranieri.

Musim 2016/2017 adalah bukti bahwa Leicester City memang sangat sukar menjaga konsistensi. Walaupun tampil cukup mengejutkan di Liga Champions, namun Mahrez dan kawan-kawan sangat kepayahan di Premier League, bahkan hingga paruh musim, Pasukan Rubah terperosok di papan bawah.

Bagi Mahrez, justru saat-saat seperti inilah yang justru seharusnya menjadi ajang pembuktiannya. Jika Mahrez mampu menunjukkan performa yang konsisten kendati timnya terseok-seok, bukan tidak mungkin musim depan ia akan mendapatkan klub yang lebih mapan dan membuka peluangnya untuk memantapkan diri di jajaran pemain top dunia.

Namun, setidaknya hingga setengah putaran kompetisi, aksi Mahrez di Premier League 2016/2017 agak kurang meyakinkan, sejalan dengan antiklimaks yang dialami Leicester City. Dari 20 pertandingan, ia baru mencetak 3 gol.

Liga Champions barangkali menjadi satu-satunya celah yang tersisa untuk membuktikan diri. Dari 5 laga, ia sudah menceploskan 5 gol dan merupakan salah satu alasan mengapa Leicester City mampu lolos ke babak perdelapanfinal. Jika konsistensi pribadi sanggup dipertahankan, masa depan yang lebih cerah telah menanti Mahrez musim depan.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Olahraga
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Zen RS