Joyland: Festival Penuh Kebahagiaan dan Air Hujan (Bagian 1)

Penulis: Nuran Wibisono, tirto.id - 1 Des 2023 13:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Penonton Joyland sepertinya memang harus belajar dan bersiap menjadikan hujan sebagai bagian dari festival.
tirto.id - Setidaknya saya kenal dua orang yang menangis karena Joyland 2023.

Yang pertama adalah seorang penulis dan pemilik toko buku independen di kawasan Jakarta Selatan yang, dalam imajinasi terliarnya sekalipun, ia tak pernah membayangkan bisa menonton Fleet Foxes seumur hidup.

Yang kedua adalah seorang penulis musik kawakan yang sejak hari pertama Joyland 2023 sudah misuh-misuh karena kualitas suara yang dihadirkan oleh Mew. Dan di hari kedua, dia menangis tergugu karena bisa melihat Fleet Foxes yang dia kenal di MySpace.

“Kok bisa-bisanya sekarang bisa nonton langsung. Keren banget mereka,” ujarnya.

Joyland memang parade penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Plus hujan deras. Tak mengherankan, ini adalah festival outdoor yang diadakan di musim penghujan.

Kekhawatiran soal hujan ini muncul sejak awal. Di press conference beberapa hari sebelum festival ini dimulai, sempat ada pertanyaan bagaimana mitigasi Joyland dalam menghadapi hujan. Karena, ujar sang penanya, tahun lalu dia melihat bagaimana hujan badai lumayan bikin kalang kabut. Hal ini juga ditambah kurangnya tempat berteduh.

Ferry Dermawan, pendiri Plainsong Live yang merupakan promotor Joyland sekaligus Direktur Programnya, menjawab dengan tawa kecil.

“Apa ya mitigasinya? Gak ada, sih. Ya nikmati saja pertunjukannya,” kata dia.

Penonton Joyland sepertinya memang harus belajar dan bersiap menjadikan hujan sebagai bagian dari festival. Jika boleh membandingkan, coba tengok Fuji Rock. Salah satu festival musik outdoor paling masyhur ini sudah sejak lama menjadikan hujan dan badai sebagai identitasnya.

Karena itu, penonton sudah bisa membayangkan apa yang akan mereka temui dan bersiap sedari awal: membawa jas hujan, memasang tenda dengan lapisan anti air, pakai boots/ sandal gunung, hingga memakai pakaian yang praktis dan cepat kering.

Kenapa kita tidak menjadikan Joyland seperti itu?

Saya membayangkan mitigasi yang bisa dilakukan pihak Joyland adalah lebih untuk bagian penyelenggaraan festival. Misal membuat panggung lebih kokoh, dengan atap yang tak membuat alat pertunjukan jadi basah meski hujan angin sekalipun, atau adanya akses jalan untuk menghindari tempat yang terlalu becek.

Hari Kebahagiaan Dimulai

Di hari pertama, Lomba Sihir tampil berempat tanpa Baskara. Gitaris Rayhan Noor turut bernyanyi menemani vokalis utama Natasha Udu yang sore itu tampil elegan dengan paduan busana merah muda-hitam dan sepatu putih. Seperti biasa, mereka selalu punya energi besar ketika tampil.

Lagu dengan tema cinta maupun pekerja urban seperti “Hati dan Paru-Paru”, “Pesona”, “Apa Ada Asmara” sampai “Semua Orang Pernah Sakit Hati” terasa betul beresonansi dengan anak-anak muda yang sore itu sudah menyemut di depan panggung.

Rintik hujan sudah turun satu dua ketika Lomba Sihir turun panggung. Di panggung sebelah, David Bayu langsung menyapa penonton. Pesona David memang sukar ditolak. Meski rintik hujan mulai membesar, tak banyak penonton yang meneduh. Dengan jas hujan masing-masing, para penonton ini setia bernyanyi bersama David.

“Mau rikues lagu apa nih?” tanya David setelah membawakan “Piknik 72” dan “Di Dalam Jiwa”.

Penonton meneriakkan beberapa judul. David tersenyum lebar. Dia langsung memetik gitar, intro yang populer, “Jikalau”. Penonton sontak bernyanyi bersama. Hujan makin tebal, tak ada dari kami yang peduli.

Sore itu, David bermain “aman” dengan membawakan sebagian besar lagu dari Naif, band kesayangan banyak orang yang sekaligus mematahkan hati lebih banyak orang ketika mereka memutuskan bubar 2021 silam. Jika tak salah hitung, dari sepuluh lagu yang dibawakan, hanya dua lagu yang berasal dari album solonya, Di Dalam Jiwa (2022).

Hujan makin deras ketika David selesai memungkasi penampilannya. Saya memilih meneduh di dekat ruang merokok. Dari kejauhan, terdengar sayup-sayup Kamal Williams yang manggung di Plainsong Live Stage. Namun penampilannya tak lama, karena hujan benar-benar membesar, disertai angin. Hujan ternyata bertahan cukup lama.

Kawan saya, Rio Jo Werry, yang hari itu tampaknya kurang asupan kafein, berteriak-teriak menyitir WS Rendra.

“Jangan ada yang berdoa hujan ini berhenti. Hujan adalah berkah!”

Tepat ketika Rio bikin banyak orang geli, seorang anak kecil melintas dengan riang gembira. Memakai jas hujan mungil warna biru, dia tampak asyik jalan ke sana kemari di bawah hujan besar. Sepatu karet yang tak kalah lucu, memastikan kakinya aman. Dia lompat-lompat ke genangan air. Keceh-keceh, kalau kata orang Jawa.

Oh, betapa indah jadi anak kecil. Dia benar-benar menghayati perannya sebagai homo ludens. Mahluk yang bermain-main. Dia juga sudah lulus dalam menjadikan hujan sebagai bagian menarik dan tak terpisahkan dari Joyland Festival.

Saya nyengir, lalu lempar ide ke Rio: bagaimana kalau kita nyeker saja?

Yang ditanya menggeleng ketus.

“Ini Docmart, bos! Masa di Joyland nyeker? Yang bener aja lu!”

Tapi melihat hujan sepertinya belum akan usai dalam waktu dekat, dan dalam beberapa menit lagi saya harus wawancara band rock dari Australia, Last Dinosaurs, tak ada pilihan lain. Saya menaruh sepatu dalam kantong plastik, memasukkannya dalam tas, menaikkan celana hingga betis. memakai jas hujan, lalu berjalan menuju area wawancara.

Sean Caskey, Lachlan Caskey, dan Michael Sloane dari Last Dinosaurs hanya tertawa ketika melihat saya datang seperti seorang pengungsi banjir.

Outfit menonton festival musik di musim hujan, nih,” kata saya.

Setelah saya selesai wawancara Last Dinosaurs, hujan sudah tinggal sisa. Terdengar suara musik dari panggung Joyland. Ah, itu Ali. Penampilan Joyland 2023 hari pertama resmi dimulai lagi. Meski tertunda sekitar satu jam karena hujan besar, penampilan setelah Ali bisa dibilang relatif lancar.

Sebagai orang yang baru pertama kali menonton Joyland, saya kagum bagaimana pergantian penampilan di dua panggung besar, Joyland dan Plainsong Live, berjalan begitu mulus dan nyaris tiada hambatan. Kudos buat orang-orang yang bekerja keras di balik layar.

Saya untuk pertama kalinya menonton Fazerdaze malam itu. Penyanyi asal Selandia Baru yang bernama asli Amelia Rahayu Murray ini tampil memikat. Musik dreamy pop yang awalnya lahir dari kamar memang menyihir, perpaduan antara efek gitar reverb meruang dengan sedikit fuzz tipis dan entakan drum yang kadang terdengar di belakang.

Amelia banyak tersipu malam itu. Termasuk ketika mengenalkan lagu barunya dengan Bahasa Indonesia patah-patah. Di atas panggung dia mengaku sedang bersemangat belajar Bahasa Indonesia. Tentu saja pengakuan ini dapat sambutan meriah.

“Ini lagu baru kami,” ujarnya sembari langsung membawakan “Bigger”. Fazerdaze total membawakan 11 lagu, dengan “Lucky Girl” dan “Thick of the Honey” yang jadi penutup.

Di panggung Lily Pad yang berhadapan dengan panggung Shrooms Gardens untuk para komika, saya menunggu The Panturas. Kuartet asal Jatinangor ini memang sayang untuk dilewatkan. Meski tak ada crowd surfing seperti biasa, The Panturas bisa bikin hangat suasana meski saya merasa sound-nya kurang maksimal. Ditutup dengan “Gurita Kota”, The Panturas membuktikan kalau mereka memang layak disebut sebagai salah satu band rock terbesar saat ini.

Lepas dari Lily Pad, saya istirahat barang sejenak. Badan sudah kena hujan sedari sore, rawan masuk angin. Maklum penonton usia di atas 30. Lebih mudah lungkrah dan ambruk. Setelah makan, saya menenggak suplemen anti masuk angin. Siap menonton Last Dinosaurs dan Mew.

Seperti yang saya duga, Last Dinosaurs bermain rapi dan nyaris tanpa cela. Mereka tampak matang sebagai sebuah band. Apalagi mereka baru saja merampungkan Tourzilla, tur keliling Amerika Serikat mengunjungi 33 kota bersama Vacations. Ini adalah pengalaman yang bikin mereka seperti siap menghadapi panggung dan jenis penonton seperti apa pun.

Dengan hook-hook indie rock memukau, dua divisi ritmik yang padu, dan bebunyian synth, saya puas sekali menonton Last Dinosaurs di hari pertama Joyland 2023. Mereka membawakan single baru “Afterlife”, lagu-lagu paten dari album Yumeno Garden (2018) yaitu “Italo Disco”, “Eleven”, dan “Sense”; dan ditutup oleh “Zoom”, lagu ikonik dari album debut mereka, In A Million Years (2012).

Lalu selanjutnya adalah Mew.

Sebuah Keajaiban Suara

Dalam film High Fidelity, karakter Rob Gordon secara tersirat menyebut musik Belle and Sebastian sebagai “...something I can ignore.” Ini jenis musik yang didengar agar dunia tak terlampau hening, dan biasanya dijadikan latar belakang ketika kerja atau melakukan sesuatu. Musik untuk diabaikan.

Dalam periode kuliah, saya menempatkan Mew dalam kategori itu.

Ada banyak penyebabnya. Kualitas suara, tentu saja jadi alasan nomor satu. Kala itu, sumber utama mendengarkan Mew adalah file MP3 berkualitas buruk yang diputar di komputer sekretariat dengan speaker butut –ini adalah momen pendewasaan yang, ujar seorang teman, membuat generasi pra streaming tak akan pernah gentar dengan kualitas audio non lossless di era streaming.

Padahal, salah satu keunggulan Mew adalah kualitas suara dan betapa kaya lapisan musiknya. Ada bebunyian-bebunyian yang tak akan bisa muncul di file MP3 compress paling kecil yang dilantangkan dari speaker dengan bunyi noise ketika ada SMS masuk. Suara angin di “156” atau bebunyian chimney di “She Came Home for Christmas” jelas tak terdeteksi.

Elemen kekayaan musik itu yang tak pernah saya tangkap ketika masa kuliah dan rajin-rajinnya mengulik musik. Akibatnya, Mew jadi “...something I can ignore.” Kondisinya sering seperti ini: tengah malam, menggarap tugas, tak ingin suasana terlalu sepi agar suara Mbak Kunti penghuni sekretariat tak terdengar jelas, tapi juga tak ingin musik rock yang terlampau kencang. Mew adalah jawabannya.

Momen ini berubah ketika akses mendengarkan musik dan via perangkat audio yang lebih baik perlahan mulai terbuka lebar. Musik Mew jadi sesuatu yang menggugah. Ada kemewahan, menenangkan, dingin dan atmosferik ala Nordik, serta aura perfeksionis di sana. Mendengarkan Mew lantas jadi sesuatu yang enak dijadikan sebagai satu sesi khusus sembari membiarkan pikiran mengembara.

Dan di sini lah saya. Di depan mata untuk pertama kalinya saya melihat Jonas Bjerre, Silas Utke, dan Johan Wohlert berdiri di atas panggung Joyland yang lapang. Ada perasaan aneh mulai menjalar, gabungan antara rasa penasaran dan nostalgia suara kemresek dari speaker Simbadda tua di sekretariat.

Malam itu, saya hanya bisa bengong. Terpukau dan mematung. Ini sesuatu yang tak pernah saya dengarkan ketika kuliah dulu. Lapisan bebunyian dari gitar dan keyboard, suara snare yang bulat dan utuh, simbal yang renyah, serta suara Jonas yang stabil dan masih bisa menanjak nada tinggi tanpa kesulitan berarti.

Ini adalah suara yang dihadirkan secara utuh oleh Joyland 2023. Sepanjang pengalaman saya menonton pertunjukan musik, mungkin penampilan Mew adalah satu dari dua yang terbaik. Semua suara terdengar jelas, tidak saling menimpa. Suara Jonas juga terdengar jernih, sama sekali tak ada cela. Elemen-elemen kecil nan magis muncul dari tangan Nick Watts yang duduk tenang menghadap keyboard, seperti seorang ayah yang menyaksikan anak-anaknya bermain dari jauh.

Saya juga tak menyangka mata akan sedikit berair ketika “Comforting Sounds” dimainkan. Ya Tuhan, megah betul. Lepas pukul satu malam, mendengarkan lagu ini di lapangan luas bersama ribuan orang, sembari duduk di atas rumput basah karena tulang sudah lunglai, hidup terasa lebih tenang. Di sepertiga akhir lagu, haru sudah tak bisa lagi dibendung. Bagian lagu ini berhasil menghadirkan bayangan kaki diseret oleh sisa-sisa semangat hingga lepas dari kondisi berat, a tearful and well deserved glory. Ini adalah keajaiban yang bisa dihadirkan oleh musik dan suara.

Sebuah penutupan paripurna di hari pertama. []

Bersambung ke bagian dua.

Baca juga artikel terkait JOYLAND atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight