Jempol dan Senyum Anies Baswedan Tanggapi Cibiran Eggi Sudjana

Oleh: Rio Apinino - 5 November 2017
Dibaca Normal 1 menit
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan mengomentari pernyataan Eggi Sudjana, penasihat Alumni Presidium 212 terkait ketidakhadirannya dalam peringatan satu tahun "Aksi 411" di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11) subuh kemarin.
tirto.id - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan enggan mengomentari pernyataan Eggi Sudjana, penasihat Alumni Presidium 212 terkait ketidakhadirannya dalam peringatan satu tahun "Aksi 411" di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Sabtu (4/11) kemarin. Pernyataan Eggi tidak main-main. Ia mengatakan bahwa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tidak mungkin memenangkan Pilkada DKI Jakarta tanpa bantuan Alumni 212.

Menurut Eggi, kemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI tak bisa dilepaskan begitu saja dari sejumlah manuver kelompok ini. Misalnya ketika Alumni 212 menggelar "Tamasya Al-Maidah", yaitu mendatangi TPS pada hari pencoblosan dalam rangka "pengamanan" suara, turut serta dalam proses kampanye serta demonstrasi. Apalagi mesin partai yang mengusung Anies-Sandi ketika itu, PKS dan Gerindra, menurut Eggi tidak bekerja maksimal.

Dalam sebuah acara di Balai Kota, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2017) pagi, Anies hanya menjawab singkat, "no comment," ketika ditanya apa tanggapannya soal pernyataan tersebut. Tidak ada jawaban lanjutan. Gubernur baru ini kemudian menjalankan agenda yang telah dijadwalkan. Sementara wartawan tetap setia menemaninya, hendak meminta konfirmasi lebih jauh.

Baca juga: Eggi Sudjana: Anies-Sandi Tak Mungkin Menang Tanpa Alumni 212

Siang hari, usai peresmian Pura Dalem Purnajati, Tanjung Puri, Jakarta Utara, Anies ternyata kembali tidak memperjelas apapun ketika ditanya soal yang sama. Malah ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Anies hanya melempar senyum dan mengacungkan jempolnya.

Segera setelah itu, dirinya berlalu dan meninggalkan para wartawan.

Sehari sebelumnya (4/11), juru bicara Anies Baswedan, Naufal Firman Yursak mengatakan bahwa tidak ada undangan resmi dari Presidium 212. Anies tidak datang karena memang tidak tahu.

"Tidak dapat pemberitahuan. [Undangan yang masuk] bukan 411," kata Naufal, sambil melampirkan undangan lain di jam dan hari yang sama dengan peringatan satu tahun aksi 411. Sama seperti bosnya, Naufal juga enggan menanggapi relasi Anies-Sandi dengan Presidium 212.

Baca juga: Manuver Politik di Balik Aksi Demo 4 November

Menurut Eggi, selain indikasi bahwa mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mulai lupa jasa-jasa pendukungnya, juga jadi bukti bahwa dirinya tidak dihormati sebagai salah satu "kanda" di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). "Anies itu junior saya di HMI," kata Eggi menegaskan.

Kekecewaan ini, menurut Eggi, harus diperhatikan betul. Sebab meski mengaku bahwa untuk saat ini Presidium 212 tetap mendukung Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, namun bukan tidak mungkin dukungan ini akan dicabut.

"Cuma mengingatkan saja. Tapi kalau dia mengulanginya lagi, barangkali bisa berubah (dukungan) kita. Makanya kami kasih peringatan," kata Eggi. Eggi juga mengatakan bahwa sebaiknya ke depan tidak ada lagi kesulitan bagi Presidium 212 untuk berhubungan dengan Anies-Sandi.

Baca juga: Di Balik Susutnya Massa Aksi Bela Islam

Di luar konteks pengundangan dan ketidakhadiran Anies, pernyataan Eggi ini kontradiktif dengan beberapa pernyataan pimpinan demonstran ketika aksi-aksi masih terus berlanjut. Mereka mengatakan bahwa aksi hingga berjilid-jilid itu sama sekali tidak berkaitan dengan Pilkada DKI.

Munarman, juru bicara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) yang juga juru bicara Front Pembela Islam (FPI) misalnya, mengatakan kepada Tirto pada awal September tahun lalu bahwa "aksi ini [411] tidak ada kaitannya dengan Pilkada (DKI Jakarta)."

Baca juga artikel terkait AKSI BELA ISLAM atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Politik)

Reporter: Hendra Friana
Penulis: Rio Apinino