Jangan Lepas Ikan Arapaima ke Sungai-Sungai di Indonesia

Oleh: Nindias Nur Khalika - 27 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Memasukkan spesies asing yang invasif di sungai atau danau dapat menyebabkan berkurangnya jumlah ikan asli atau endemik.
tirto.id - Bye bye baik" ya kalian di sungai nanti :)

Tulisan itu tercantum dalam video yang diunggah netizen di media sosial pada Senin (25/06/18). “Kalian” yang dimaksud dalam rekaman tersebut adalah belasan ikan Arapaima gigas yang dilepas di Taman Brantas Indah, Mojokerto. Dalam unggahan lainnya, ia menuliskan bahwa sebanyak 70 ekor ikan asal Amerika Selatan itu dibuang setelah sebelumnya dipelihara.

Tak butuh waktu lama, rekaman netizen tersebut viral di internet. Wild Water Indonesia (WWI), jaringan relawan yang peduli pada perairan Indonesia, mengunggah kembali video itu di akun media sosialnya. Menurut caption yang ditulis WWI, pelepasliaran ikan Arapaima gigas di Sungai Brantas dapat membuat ikan lokal “gemetar” sehingga tindakan tersebut harus dihentikan.

Encyclopædia Britannica mencatat Arapaima gigas sebagai spesies dari marga (genus) Arapaima yang juga sering disebut piracucu atau paiche. Ikan ini berasal dari sungai Amazon, Amerika Selatan serta danau di sekitarnya. Arapaima gigas merupakan salah satu ikan air tawar terbesar di dunia sebab panjangnya bisa mencapai 3 meter dan berat 220 kg. Tubuhnya mempunyai bentuk yang khas. Badan bagian depan panjang serta meruncing, sementara sisanya rata dengan ekor sirip bulat di belakang.

Arapaima gigas termasuk famili ikan lidah bertulang atau Osteoglossidae. Ikan jenis ini menghancurkan mangsanya dengan tulang bergigi yang ada di dasar mulut. Laman animaldiversity.org menyatakan Arapaima gigas sebagai predator yang memakan ikan, burung, atau hewan lainnya yang bisa diburu di sekitar sungai.


Di Indonesia, Arapaima gigas termasuk dalam jenis ikan invasif menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 94 Tahun 2016 tentang Jenis Invasif. Berdasarkan regulasi tersebut, jenis invasif adalah spesies asli atau bukan yang mengkolonisasi suatu habitat secara masif sehingga dapat menimbulkan kerugian terhadap ekologi, sosial, dan ekonomi.

Jenis invasif bisa berasal dari dalam maupun luar negeri. Karena keberadaannya berpotensi menimbulkan masalah, populasi ikan jenis invasif dari dalam negeri dikontrol, bahkan dilakukan pemusnahan. Sementara itu, cara mengontrol jenis invasif asal luar negeri adalah dengan mencegah spesies jenis ini berada di perairan Indonesia.

Pemerintah mengatur keberadaan Arapaima gigas dan spesies ikan Arapaima lain dalam Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 41 Tahun 2014 tentang Larangan Pemasukan Jenis Ikan Berbahaya dari Luar Negeri ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. Arapaima gigas, menurut aturan tersebut, termasuk jenis ikan berbahaya yang dapat merugikan dan membahayakan kelestarian sumber daya ikan, lingkungan, dan manusia.

Hal ini menyebabkan setiap orang, korporasi atau individu, dilarang memasukkan Arapaima gigas dari luar negeri ke Indonesia. Pengecualian diberikan jika ikan tersebut digunakan untuk kepentingan penelitian, pameran, atau peragaan. Apabila hal tersebut terjadi, pihak terkait harus mendapatkan izin dari Menteri Kelautan dan Perikanan. Selain Arapaima gigas, Arapaima leptosome adalah spesies ikan Arapaima yang juga masuk dalam kelompok ikan berbahaya.

infografik arapaima


Menurut Michael Risdianto, pendiri Wild Water Indonesia, pelepasan ikan Arapaima gigas di Sungai Brantas adalah bentuk introduksi jenis asing invasif atau invasive alien species. Termasuk dalam kelompok ini adalah tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan organisme lain yang bukan merupakan bagian dari sebuah ekosistem dan keberadaannya dapat menimbulkan kerusakan ekosistem, lingkungan, dan ekonomi. Jenis asing invasif juga bisa berdampak pada keanekaragaman hayati dan kesehatan manusia.

Michael Risdianto mengatakan ada beberapa persoalan yang bakal timbul terkait pelepas liaran jenis asing invasif di sungai terpanjang kedua di pulau Jawa tersebut. Pertama, rata-rata jenis asing invasif, baik yang berukuran kecil maupun besar, mempunyai tingkat adaptasi yang tinggi. Selain itu, mereka berwatak rakus: memakan sumber makanan dengan sangat cepat dan dalam jumlah banyak.

“ Yang [ikan] red devil rakusnya luar biasa. Apalagi di Brantas [ikan arapaima] segede itu, bisa berukuran 3 meter berat 200 kilogram, predator pula. Artinya ia akan menekan populasi ikan lokal. Merusak rantai makanan dan mengancam populasi,” katanya saat dihubungi Tirto.


Selain itu, keberadaan ikan sebesar Arapaima gigas turut membahayakan manusia. Anak kecil yang gemar bermain di sungai akan terancam keselamatannya apabila Arapaima gigas hidup di dalam air.

“Jangankan Arapaima, [ikan] toman saja yang beratnya 20 kg bisa menghajar orang di Kalimantan. [Bakal ada] konflik antar-spesies,” ujarnya.

Penyakit yang dibawa ikan Arapaima gigas juga menjadi masalah. Michael berkata bahwa setiap spesies membawa bibit penyakit dan parasit yang bermacam-macam, termasuk jenis asing invasif.

Kekhawatiran Michael Risdianto tersebut memang patut menjadi perhatian. Beberapa kali Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) melakukan introduksi ikan asing di perairan Indonesia. Seperti yang dilaporkan Mongabay, BKIPM menyebar ikan nila di Danau Laut Tawar (Aceh), ikan louhan di Waduk Cirata dan Waduk Sempor (Jawa Tengah), dan ikan mas di Danau Ayamaru, Papua.

Ikan-ikan asing tersebut, seperti yang dikatakan Michael, biasanya selalu menjadi invasif di habitat yang baru. Hal ini menyebabkan jumlah ikan asli atau endemik mengalami penurunan. Di Danau Laut Tawar, misalnya, populasi ikan depik (Rasbora tawarensis) berkurang setelah masuknya ikan nilai.

Sementara itu, jumlah ikan wader dan ikan betik di Waduk Sempor, Jawa Tengah tidak lagi sebanyak saat ikan louhan belum dimasukkan. Populasi ikan pelangi atau Melatonia ayamaruensis pun, menurut Mongabay, juga berkurang akibat invasi ikan mas di Danau Ayamaru, Papua.

Baca juga artikel terkait IKAN ARAPAIMA atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight