Jalan Panjang Transisi Gender

Reporter: Aulia Adam, tirto.id - 4 Okt 2016 14:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Menjadi transgender bukan urusan sesederhana memakai gincu dan membentuk alis bagi yang terlahir pria atau membentuk otot kekar bagi mereka yang terakhir wanita. Ada serangkaian proses panjang yang bisa menggerogoti psikis, fisik, bahkan keuangan.
tirto.id - Alex Bertie girang bukan main saat menstruasinya berhenti Juni lalu. “Aku sampai nggak tahu mau gimana ngejelasin betapa menyenangkannya ini,” kata Alex. Padahal umurnya masih 20 tahun. Remaja Inggris ini senang karena kini dirinya merasa lebih “laki-laki.”

“Aku tak merasa cantik lagi!” celotehnya.

Alex memang terlahir dengan kelamin perempuan. Tapi sejak kecil ia sudah merasa terlahir di tubuh yang salah. Sejak April kemarin, Alex menjalani terapi hormon, proses yang harus dilakukan seseorang jika ingin melakukan transisi. Transisi sendiri adalah istilah yang diciptakan media barat untuk proses berganti dari gender yang diidentifikasi sesuai kelaminnya saat lahir menjadi gender yang diinginkan.

Semua proses yang dialaminya dibagikan Alex dalam kanal therealalexbertie di Youtube. Ia memang seorang vlogger sejak 2010, juga dikenal sebagai aktivis transgender karena sering berkampanye sekaligus mengedukasi segala hal terkait hak LBGT.

Selama enam bulan perubahan Alex sangat kentara. Pipinya makin tembam, otot lengannya membesar, bulu di kaki dan perutnya makin banyak, suaranya pecah, dadanya juga jadi lebih bidang dan pejal.

“Dan kata dokter, kesehatan mentalku sangat baik,” Alex tersenyum girang.

Kondisi Alex yang luar biasa baik sebenarnya wajar melihat rekam jejak vlog-nya selama ini. Kedua orang tua Alex sangat suportif. Mereka menerima Alex apa adanya dan belajar banyak tentang transgender. Alex juga tumbuh jadi anak sehat secara fisik dan psikis, sehingga bisa menginspirasi banyak orang sejak usia dini.

Tapi hal serupa tak dialami Zoe Dolan, seorang penulis sekaligus pengacara. Ia tumbuh di era transgender menjadi hal tabu dan tak baik untuk diakui. Orangtua bisa marah, bahkan mengusirnya dari rumah. Tetangga dan teman-teman akan menjauh, belum lagu karier dan masa depan juga bisa terancam. Stigma menghantui sampai mati.

Semua hal itu yang ditakuti Zoe muda. Padahal sama seperti Alex, ia merasa lahir di tubuh yang salah sejak ia bisa mengingat. Zoe lahir dengan kelamin pria lalu mengubahnya ketika sudah dewasa. Tahap yang ia lewati mirip dengan Alex, tapi agak lebih sulit.

Jika Alex sudah melewati dua tahap yakni melela atau coming out dan terapi hormon, maka Zoe harus bergelut dengan perkara melela lebih dulu. Ini penting, sebab saat dalam terapi hormon, emosi seseorang akan sangat tidak stabil. Hanya dukungan kuat dari lingkaran sehat yang dapat membantu. Seperti pada Alex yang cenderung bahagia-bahagia saja saat menjalani terapi hormonnya.

Seorang transpria seperti Alex akan diberikan hormon testosteron. Sementara transwanita seperti Zoe akan diberi hormon anti-testosteron sehingga produksi testosteron di tubuhnya berkurang. Terapi hormon ini akan memberi perubahan drastis seperti yang dialami Alex, mulai dari suara hingga ukuran massa otot.

Setelah melewati proses melela dan terapi hormon, transgender akan berhadapan dengan operasi organ tubuh. Tentu jika ia menginginkannya. Christine McGinn, ahli bedah yang biasa menangani pasien transgender, dalam wawancaranya dengan Marie Claire mengatakan, “Operasi paling sering yang kutangani adalah pengangkatan payudara bagi transpria. Hal itu sangat aman, sangat mudah, dan masa penyembuhannya sesingkat dua minggu saja.”

Sementara operasi kelamin pada transwanita (disebut vaginoplasty) relatif mudah ketimbang phalloplasty pada transpria. Namun keduanya butuh waktu lebih lama, yakni 4-6 minggu. Ini akan menyebabkan susah duduk, susah tidur, dan kepayahan menggunakan kamar mandi. “Ini seperti melahirkan. Luka dan bengkaknya baru hilang setelah enam bulan,” tambah Christine.

Proses transisi belum berhenti di sana. Seorang transgender pun harus melewati tahap legal dan kemudian tahap terakhir: tahap sosial. Di tahap legal, seorang transgender harus datang ke pemerintahan untuk mengganti identitas gender sebelumnya menjadi yang baru. Bagi sebagian besar orang, mereka turut mengganti nama lahirnya. Proses ini tidak semudah kedengarannya. Transgender kemungkinan besar akan menghadapi petugas yang transfobik atau tak menyukai pada transgender.

Itu belum menambah perkara yang harus dilalui pada tahap sosial. Transgender akan menghadapi rasa terkejut, penasaran, dan kebencian orang-orang di lingkungan kantor, rumah, dan keluarga setelah transisi ini lengkap.

Seluruh proses transisi ini juga relatif mahal. Mulai dari terapi hormon hingga tahap legal, semuanya mengeluarkan biaya. Tapi, tahap operasi yang paling mahal. "Di Amerika, seorang transpria perlu $140 ribu,” kata Christine. “Atau pergi saja ke Belgia, Jerman, atau Serbia. Tiga negara itu adalah tujuan paling sering seorang transpria pergi operasi,” tambah Christine.



Ini sebabnya, tak banyak orang menjalani proses transisi sepenuhnya. Pembaca acara ternama John Oliver pernah bilang begini, “Sebagian transgender melakukan hormon terapi saja, atau operasi kelamin sebagai bagian transisi mereka. Sebagian lain tidak. Menariknya, keputusan mereka ini secara medis adalah sama sekali bukan urusanmu!”

Namun, sejauh manapun proses transisi yang diambil, keputusan seorang transgender melakukan transisi harus didukung.

Dihalang-halangi Negara

Kisah Alex dan Zoe terhitung beruntung. Laporan Human Right Watch (HRW) berjudul Hak untuk Transisi menggambarkan duka yang dihadapi transgender lain di belahan bumi.

Antara 2007 sampai 2014 saja, The Trans Murder Project mencatat terjadi 1.731 pembunuhan transgender di seluruh dunia. Banyak di antaranya disebabkan respon alami yang brutal, kadang melibatkan penyiksaan dan mutilasi. Tak hanya kekerasan yang mengancam nyawa transgender, mereka setidaknya 50 kali lebih mungkin terpapar HIV karena stigma dan diskriminasi yang akhirnya membuat mereka kesulitan mengakses layanan kesehatan.

Banyak studi di Amerika, Canada, dan Eropa menemukan tingkat bunuh diri yang tinggi di kalangan transgender disebabkan marginalisasi dan penghinaan sistemik. Sejumlah negara, termasuk Malaysia, Kuwait, dan Nigeria menerapkan hukum yang meralang berperilaku seperti lawan jenis, bahkan melarang keberadaan transgender. Di negara-negara lain, HRW menemukan para transgender ditahan karena melanggar hukum yang mengkriminalisasi perilaku sesama jenis.

Data ini hanya sekedipan mata jika dibandingkan variasi kekerasan dan diskriminasi yang dihadapi para transgender. Pengakuan legal terhadap gender yang mereka pilih juga absen dalam sejumlah pemerintahan. Ini dinilai HRW jadi salah satu penyebab diskriminasi dan kekerasan yang dialami mereka semakin tinggi. Pemerintah harusnya mendidik negara untuk tidak lagi ikut campur atau bahkan menyangkal hak dasar seseorang dalam memilih identitas gendernya.

Di Indonesia sendiri, ada sejumlah tokoh yang lengkap menjalani transisi. Di antaranya, yang paling terkenal adalah Dorce Gamalama. Ia bahkan legal tercatat sebagai perempuan di Pengadilan Negeri Surabaya.

Baca juga artikel terkait TRANSGENDER atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight