Iwan Bule Janjikan Subsidi Rp15 M bagi Klub Liga 1, Duit dari Mana?

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 8 Juli 2019
Dibaca Normal 2 menit
Alih-alih membantu, sejauh ini justru PSSI lah yang mendapat suntikan dana dari operator liga dan klub.
tirto.id - Komjen Pol Mochamad Iriawan tidak main-main dengan ambisinya menjadi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Pekan ini, pria yang biasa disapa Iwan Bule itu berkunjung dan menampung aspirasi dari sejumlah pemangku kebijakan sepakbola di Jawa Tengah.

"Saya butuh masukan dan saran untuk kebaikan sepakbola Indonesia," kata Iwan dalam kunjungan Sabtu (6/7/2019) kemarin, seperti dilansir Antara.

Hal itu dilakukan Iwan Bule setelah bikin sensasi dengan mengklaim bakal mengangkat menantu Presiden Joko Widodo, Boby Nasution sebagai Sekjen jika dirinya terpilih jadi Ketum PSSI.

Namun, yang tidak kalah sensasional, dalam kunjungan ke Jawa Tengah, Iwan mengutarakan janji yang bikin setiap pendengarnya mengernyitkan dahi.


Jika terpilih sebagai Ketum PSSI, Iwan berjanji bakal memberikan subsidi senilai Rp15 miliar untuk masing-masing klub Liga 1, Rp5 miliar untuk masing-masing klub Liga 2, serta Rp1 miliar untuk tiap klub Liga 3.

Dengan asumsi bahwa klub Liga 1 berjumlah 18, maka untuk memenuhi janji subsidi itu Iwan harus menyalurkan dana sampai Rp270 miliar. Belum untuk 24 klub Liga 2, yang bisa menyentuh Rp120 miliar, atau untuk puluhan klub Liga 3 yang jelas bakal menyita dana tidak kalah besar.

Tidak cukup di situ, Iwan juga menjanjikan bakal memberi subsidi untuk tiap klub yang melaksanakan pembinaan usia muda, senilai masing-masing Rp2,5 miliar. Jika dikalkulasi, angka subsidi yang dijanjikan Iwan menggelembung sampai setengah triliun, nominal yang surealis untuk sepakbola Indonesia.

Namun, bekas Kapolda Metro Jaya itu bersikeras mengatakan bahwa janjinya "mungkin" terwujud.

"Jika dihitung sangat mungkin," tegasnya.

Duit dari Mana?


Saat mengutarakan janji itu, Iwan memang tidak merinci spesifik bagaimana mekanismenya bisa mendapat uang sedemikian banyak nantinya. Satu-satunya petunjuk yang dia berikan adalah: duit itu akan didapat dari sponsor.

“Kami siap terbuka. Ada tim asistensi yang [akan] mengawasi pendistribusian uang ke klub,” imbuhnya.

Iwan boleh saja percaya diri. Namun jika dikalkulasikan, angka yang dia sebutkan adalah nominal yang berlebihan, bahkan untuk ukuran PSSI.

Berdasarkan salinan draf laporan keuangan PSSI yang diperoleh Tirto, pada 2017 saja, ketika kondisi persepakbolaan Indonesia stabil (tidak ada gaduh-gaduh match fixing dan kerusuhan suporter) pendapatan PSSI dari sponsor cuma mentok di angka Rp27 miliar.

Alih-alih memberi subsidi ke klub, dalam draf laporan yang sama PSSI diketahui masih menerima pendapatan dari bantuan PT Liga Indonesia Baru (LIB) senilai Rp40 miliar. Padahal LIB selaku operator liga merupakan perusahaan yang sahamnya juga dimiliki klub-klub. Artinya, sejauh ini justru PSSI lah yang mendapat suntikan dana dari kompetisi dan klub.

Infografik HL Indepth PSSI
Infografik HL Indepth PSSI Laporan Keuangan PSSI


Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi tidak menampik bahwa angka sampai ratusan miliar adalah nominal yang fantastis, bahkan di PSSI.

“Sangat besar itu, besar sekali. Seingat saya belum pernah [PSSI] dapat sebesar itu dari sponsor,” tutur Yoyok kepada reporter Tirto, Senin (8/7/2019).

Namun, saat reporter Tirto menyampaikan nominal sebesar itu dijanjikan oleh Iwan, Yoyok yang mendaku kenal dekat dengan yang bersangkutan enggan mengomentari lebih jauh.

“Iya itu besar sekali. Tapi sebaiknya jangan ditanyakan ke saya. Barangkali Pak Iwan punya cara dan visi misi sendiri buat mendapatkannya," kata dia.

"Kalau pengen mencalonkan diri sebagai Ketum PSSI, kan, sah-sah saja setiap kandidat menawarkan program, hak masing-masing, tinggal bagaimana mereka meyakinkan voters,” tambahnya.

Sulitnya Mencari Sponsor


Jangankan PSSI, PT Liga Indonesia Baru (LIB) saja kesulitan mendapat nominal sebesar itu. Menurut Direktur Utama PT LIB, Dirk Soplanit, operator kompetisi belum pernah mendapat suntikan dana dari sponsor sampai angka setengah triliun.

“Kalau soal nominal sponsor tidak etis dibicarakan. Tapi sulit kalau segitu,” ungkap Dirk.

Alih-alih mempermasalahkan soal nominal, untuk mencari sponsor yang bersedia mendanai kompetisi saja bukan hal mudah. Bahkan pada Liga 1 musim ini, kepastian Shopee muncul sebagai sponsor utama baru diumumkan sepekan menjelang kompetisi dimulai.

Dirk sendiri tidak menampik kalau hingga kompetisi akan dimulai masih ada pembicaraan-pembicaraan dengan sponsor yang belum tuntas.


Kesulitan ini masuk di akal mengingat gaduh-gaduh sepakbola Indonesia yang diterpa isu dugaan match fixing dan kerusuhan suporter sejak tahun lalu. GoJek, sponsor utama Liga 1 musim sebelumnya, secara terbuka bahkan mengatakan kalau salah satu pertimbangan mereka tidak memperpanjang kontrak adalah kondisi sepakbola Indonesia sendiri yang
kurang stabil.

“Sebenarnya mereka ada kekecewaan terkait kasus kematian suporter,” kata mantan COO PT LIB, Tigoshalom Boboy Februari lalu.

Sementara Traveloka, perusahaan yang sempat hampir mensponsori liga pada 2018 lalu mundur tiba-tiba menjelang kickoff karena ketidakyakinan mereka dengan iklim sepakbola Indonesia.

Baca juga artikel terkait LIGA 1 2019 atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight