Istiqlal, Demo, dan Bom

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Februari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sebagai masjid yang berada di pusat pemerintahan, Istiqlal jadi tempat penting umat Islam di Indonesia.
tirto.id - Kata "istiqlal" jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia berarti "merdeka." Masjid ini ada karena permintaan berbagai kelompok Islam pada 1950 yang menghendaki sebuah masjid nasional. Sebuah masjid besar yang akan dibangun di pusat pemerintahan seperti kebanyakan masjid di dekat alun-alun kota-kota Pulau Jawa.

Ayah dari Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur), Kyai Haji Wahid Hasyim yang ketika itu adalah Menteri Agama, mengakomodasi suara-suara kelompok Islam tersebut, sehingga akhirnya Sukarno pun menyetujui.

Menurut Sekretaris Negara Republik Indonesia dalam buku 40 Tahun Indonesia Merdeka (1985), Masjid Istiqlal dibangun sejak 24 Agustus 1961, saat Presiden Sukarno mengucapkan Bismillah ketika meresmikan pembangunannya. Masjid yang diarsiteki anak pendeta bernama Friedrich Silaban ini digunakan mulai 22 Februari 1978, setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Sebagai masjid yang letaknya di kawasan titik penting pemerintahan Republik Indonesia, masjid ini kerap menjadi persinggahan kelompok-kelompok Islam yang hendak menyampaikan aspirasinya lewat demonstrasi. Tentu saja, setelah Soeharto tak lagi jadi presiden.

Pada 7 April 2000, setelah setelah konflik berdarah di Ambon meletus, Laskar Jihad berkumpul di sekitar kawasan Merdeka. Jafar Umar Talib memimpin laskarnya dan ingin bertemu Gus Dur yang kala itu menjabat presiden. Menjelang hari pertemuan dengan Gus Dur itu, ada di antara mereka yang berseliweran di pusat ibukota dengan membawa senjata tajam.

Masjid Istiqlal yang tak jauh dari Istana Merdeka jadi tempat salat. Setelah pertemuan pemimpin laskar dengan presiden terkait keinginan mereka mengirim laskar ke Ambon, mereka merasa kecewa. "Bapak Presiden mengusir kami," ujar salah seorang dari pendemo. Mereka menilai "presiden berat sebelah dan memihak orang-orang non-muslim."

Jumlah Laskar Jihad itu kalah dibanding massa demonstran yang digalang Rizieq Shihab untuk memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait dugaan penistaan agama: Surat Al-Maidah 51. Dua demonstrasi ini pada 4 November 2016 (411) dan 2 Desember 2016 (212) dipadati ratusan ribu orang—bahkan ada yang menyebut jutaan—dan Istiqlal menjadi persinggahan penting para pendemo.

Menjelang demo 411, sejumlah massa sudah memadati Istiqlal sejak Kamis, tanggal 3 November. Banyak yang datang dari luar Jakarta. Bis-bis yang membawa para pendemo bahkan tak tertampung di lahan parkir areal masjid. Akhirnya, banyak yang parkir di pinggir jalan.

Para demonstran itu menginap juga di area Masjid Istiqlal. Untung, pengurus Masjid Istiqlal ikut menyiapkan konsumsi bagi jemaah demonstran yang akan berdemo ke depan Istana Merdeka setelah shalat Jumat 4 November 2016 di Istiqlal. Kepala Bagian Protokol Masjid Istiqlal Abu Hurairah Abdulsalam menyebut konsumsi itu dipersiapkan setelah pihaknya mendapatkan sumbangan atas nama pribadi dari warga.

“Titik kumpul di Masjid Istiqlal. Baru bergerak usai salat Jumat,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan. Setelah shalat jumat mereka bergerak ke Jalan Merdeka Barat. Berharap pimpinan demo akan bertemu Presiden. Harapan mereka tak dipenuhi Presiden yang tidak berada di Istana. Demo pun berakhir rusuh.

Dalam Demo 212, sejak Kamis Istiqlal juga sudah dipenuhi demonstran. Lahan parkir dan jalanan sekitar Istiqlal dipenuhi mobil-mobil dan bis, yang juga datang dari luar Jakarta. Pada hari Jumat dinihari, jumlah massa pun bertambah lagi. Mereka akhirnya salat Subuh berjamaah.

Infografik Arsitek Non Muslim Perancangan Istiqlal


Aksi demo 212 sebetulnya berlangsung lebih damai ketimbang 411. Presiden dan Wakil Presiden bahkan ikut salat Jumat bersama mereka. Mereka salat dalam keadaan hujan. Setelahnya, massa bubar dari lapangan Monas, tempat mereka berkumpul.

Sayanng, halaman Masjid Istiqlal juga menjadi saksi intimidasi terhadap jurnalis. Shinta Novita dan Aftian Siswoyo, keduanya juru kamera dan reporter Metro TV, terkepung segelintir massa demonstran pada pukul 15.00 ketika hendak menyiarkan berita bubarnya para demonstran. Keduanya diganggu. Keduanya lalu diamankan aparat.

Selain menjadi tempat berkumpul untuk berdemonstrasi, masjid ini setidaknya pernah dua kali jadi sasaran bom. Indiwan Seto Wahjuwibowo, dalam Terorisme dalam Pemberitaan Media: Analisis Wacana Terorisme Indonesia (2015) mencatat, “pada 14 April 1978 terjadi ledakan bom di Masjid Istiqlal Jakarta. Sampai sekarang, ledakan bom dengan bahan peledak TNT ini tetap jadi misteri.” Tak ada korban jiwa dalam ledakan itu.

Pada 19 April 1999, masih menurut catatan Indiwan Seto Wahjuwibowo, Istiqlal dibom. Ledakan itu meretakkan tembok dan memecahkan kaca beberapa kantor organisasi Islam yang berkantor di Masjid Istiqlal, termasuk kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Edy Ranto yang menjadi pimpinan dari Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) pun jadi tersangka. Empat hari sebelumnya, kelompok ini dituduh, meledakan Plaza Hayam Wuruk. Menurut DS Narendra, dalam Teror Bom Jamaah Islamiyah (2015), terdapat Edi Taufik, Edi Rohadi, Suhendi, Ikhwan bergabung dalam kelompok Edy Ranto ini.

Motif pemboman Istiqlal itu tidaklah jelas. Banyak menyangka pemboman, termasuk terhadap sebuah masjid, dipastikan memiliki niatan politis. Setidaknya ledakan sebuah masjid akan mampu memancing kemarahan umat Islam. Namun, kekuatiran ihwal kemarahan umat Islam ternyata tak terbukti.

Baca juga artikel terkait MASJID ISTIQLAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani