Menuju konten utama
Mozaik

Israel Mengurung Dua Juta Warga Palestina di Jalur Gaza

Tembok pembatas yang memblokade Jalur Gaza mulai dibangun tahun 1994 dan terus ditingkatkan seiring kemenangan Hamas pada pemilu tahun 2006.

Israel Mengurung Dua Juta Warga Palestina di Jalur Gaza
Header Mozaik Blokade Jalur Gaza. tirto.id/Parkodi

tirto.id - Hamas melancarkan serangan kejutan ke Israel yang berhasil menembus penghalang keamanan tercanggih di dunia pada 7 Oktober 2023. Mereka juga menghujani roket dari Gaza selama Hari Raya Yahudi Simchat Torah.

Menurut laporan Al Jazeera, para pejuang Hamas melakukan infiltrasi ke Israel melalui beberapa celah di pagar keamanan yang memisahkan Gaza dan Israel. Mereka menerobos Iron Dome, sistem anti roket dan artileri jarak dekat yang biasanya mampu mengantisipasi serangan dari Palestina dan kawasan Lebanon. Penyusupan dilakukan saat tentara Hamas terbang menggunakan paralayang.

Hamas juga mampu menjebol Iron Wall, tembok beton yang dibangun oleh Israel di sepanjang perbatasan Gaza. Tembok ini dibangun untuk mencegah serangan oleh militan Palestina ke wilayah Israel melalui terowongan bawah tanah.

Kapal motor yang membawa pejuang Hamas lalu berhasil menembus Zikim, sebuah kota pantai Israel dengan pangkalan militer. Mereka juga berhasil merobohkan sebagian Iron Wall dengan buldoser.

Tak lama kemudian, Israel membalas dengan gempuran besar-besaran di Gaza dan menyatakan perang terhadap Hamas.

Sebelumnya Israel membangun tembok dan pagar besi baru senilai $1,1 miliar di sepanjang perbatasan antara Israel dan Jalur Gaza, yang dilengkapi dengan peralatan pengawasan seperti puluhan antena, ratusan kamera, dan radar.

Blokade Jalur Gaza

Jalur Gaza adalah wilayah kecil yang terletak di pantai timur Laut Mediterania, berbatasan dengan Israel dan Mesir. Kawasan ini adalah rumah bagi sekitar 2,3 juta orang yang setengah populasinya adalah anak-anak dan kepadatan penduduknya salah satu yang tertinggi di dunia.

Jalur Gaza dikelilingi oleh perimeter yang dijaga ketat yang terdiri dari tembok beton dan pagar kawat ganda. Siapa pun yang melangkah dalam jarak 1 km dari tembok pembatas ini berisiko ditembak oleh tentara Israel yang berpatroli di perbatasan utara dan timur Gaza.

Wilayah ini dihuni oleh berbagai peradaban kuno, termasuk bangsa Filistin yang memberi nama wilayah tersebut. Bersama dengan wilayah Palestina lainnya, Gaza berada di bawah kekuasaan Ottoman pada abad ke-16 hingga akhir Perang Dunia I.

Pada tahun 1987, terjadi Intifadah Pertama, yaitu pemberontakan rakyat Palestina melawan pendudukan Israel. Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) muncul sebagai salah satu kelompok yang memimpin perjuangan Palestina.

Warsa 1993, Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) menandatangani Kesepakatan Oslo yang memberikan otonomi terbatas kepada Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Namun, proses perdamaian mengalami banyak hambatan karena tindakan kekerasan.

Intifadah Kedua yang lebih keras dan berdarah terjadi pada tahun 2000. Hamas mulai menyerang Israel dengan roket-roket buatan sendiri dari Jalur Gaza.

Pada tahun 2005, Israel menarik militer dan pemukimnya dari Jalur Gaza sebagai bagian dari "rencana pelepasan". Langkah ini bertujuan untuk mengakhiri pendudukan Israel di wilayah tersebut.

Setelah penarikan Israel, Hamas memenangkan pemilihan legislatif Palestina pada tahun 2006 lalu mengambil kendali atas Jalur Gaza. Hal ini menyebabkan perpecahan politik dan militer antara Hamas yang memerintah di Gaza, dan Otoritas Palestina yang memerintah di Tepi Barat.

Sejak Hamas mengambil alih kekuasaan, Israel memberlakukan blokade di Jalur Gaza, membatasi pergerakan barang dan manusia. Wilayah ini menjadi saksi beberapa konflik antara Hamas dan Israel, termasuk operasi militer besar pada tahun 2008-2009, 2012, dan 2014.

Blokade telah ditentang aktivis pro-Palestina yang mencoba memecah blokade dengan mengirim kapal bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Salah satu insiden yang paling menonjol adalah serangan Israel terhadap kapal MV Mavi Marmara milik Gaza Freedom Flotila tahun 2010, yang menewaskan sembilan aktivis Turki dan melukai puluhan lainnya. Insiden ini memicu krisis diplomatik antara Israel dan Turki, serta protes internasional terhadap blokade.

Di darat, blokade dilakukan Israel lewat pembangunan tiga tembok pembatas, terdiri dari Hoovers A, Hoovers B, dan Iron Wall.

"Di Jalur Gaza, beberapa ribu pemukim Yahudi tinggal dalam kemewahan[…] Satu juta orang Palestina nyaris tidak bertahan dalam kesengsaraan, dipenjarakan di balik tembok dan tidak diberi akses ke laut atau Mesir,” ujar Noam Chomsky dalam bukunya Pirates and Emperors (2017:22).

Selain Israel, Mesir juga melakukan blokade dengan tembok pembatas sejauh 14 kilometer pada 2020 dan sering kali menutup Rafah sebagai pintu masuk menuju Gaza.

Tembok Pembatas yang Terus Diperbaharui

Blokade yang lebih agresif dilakukan Israel setelah kemenangan Hamas dalam pemilihan legislatif Palestina tahun 2006 dan meningkat setelah Hamas mengambil alih pemerintahan Jalur Gaza dari Fatah tahun 2007.

Israel dan Mesir mengklaim bahwa blokade ini diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata dan roket ke Jalur Gaza yang dapat digunakan untuk menyerang Israel.

Di sisi lain, blokade memiliki dampak negatif terhadap kehidupan sehari-hari penduduk Gaza. Keterbatasan akses terhadap bahan bangunan, bahan bakar, dan sumber daya lainnya menyebabkan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Penduduk Gaza juga sering mengalami kekurangan listrik dan terbatasnya akses terhadap air bersih. Warga Palestina mengklaim sumber daya air mereka dikuasai oleh Israel, sehingga mereka harus membeli air dengan harga yang melambung.

Seturut laporan BBC, Israel mengalokasikan air tiga hingga lima kali lebih banyak untuk warganya dibandingkan warga Palestina.

Salah satu aspek yang menjadi simbol dari blokade ini adalah tembok pembatas Gaza yang dibangun oleh Israel. Tembok ini berfungsi sebagai penghalang fisik yang membatasi akses keluar masuk ke Jalur Gaza.

Selama ini, selain melalui perlintasan Rafah, ada dua jalur lain untuk masuk ke Gaza, yaitu: Perlintasan Erez dan Kerem Shalom.

Perlintasan Erez terletak di sebelah utara Jalur Gaza. Perlintasan ini hanya digunakan untuk lalu lintas orang, dan dibuka secara terbatas untuk warga Palestina yang memiliki izin dari Israel.

Sementara Perlintasan Kerem Shalom terletak di selatan Jalur Gaza. Perlintasan ini hanya digunakan untuk lalu lintas barang, dan dibuka secara terbatas untuk pengiriman bantuan kemanusiaan.

Namun, kedua perlintasan ini sering ditutup oleh Israel, terutama dalam situasi konflik. Akibatnya, warga Palestina di Jalur Gaza kesulitan untuk keluar masuk wilayah tersebut.

Pembangunan tembok pembatas dimulai pada 1994 sebagai respons terhadap isi Perjanjian Oslo II antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mengenai Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tembok ini mulanya hanya sebatas pagar kawat berduri tanpa sensor sebagai simbol garis batas sepanjang 60 kilometer antara Israel dan Otortitas Palestina.

Lalu ditingkatkan pada tahun 1996 dengan tambahan beton serta sensor elektronik dan proyek ini diberi sandi Hoovers A.

Pihak Palestina menuding pembangunan permukiman Israel yang terus menerus telah melanggar Perjanjian Oslo II dan menjadi penyebab terjadinya berbagai serangan perlawanan dari para pejuang Palestina.

Setelah menarik diri dari Jalur Gaza pada 2005, Israel kembali meningkatkan tembok pembatasnya. Hoovers B, nama proyek ini, diproyeksikan dengan dana sebesar $220 juta yang dilengkapi dengan menara pengawas setiap dua kilometer, termasuk senjata robot dengan sensor yang mampu menembak penyusup Palestina secara otomatis yang semuanya dikendalikan dari jarak jauh.

Pada 2018, rangkaian serangan yang dilakukan oleh Hamas dan pejuang Palestina lainnya melalui terowongan bawah tanah memaksa Israel membangun kembali tembok pembatasnya yang ketiga: Iron Wall.

Tembok ini dibangun dengan 140.000 ton besi dan baja, membentang 65 kilometer dari perbatasan Mesir, mengelilingi Jalur Gaza, dan menjorok ke Laut Mediterania. Pembatasnya berupa pagar yang tingginya lebih dari enam meter di atas tanah.

Ada juga dinding logam bawah tanah yang dilengkapi sensor dan lapisan udara yang dilengkapi kamera dan radar.

Tembok tersebut memiliki sistem senjata yang dikendalikan dari jarak jauh dan penghalang laut dengan peralatan pemantauan yang dapat mendeteksi serangan melalui jalur maritim.

"Tembok baru itu mengungkapkan 'sifat rasis'-nya, yang bersikeras mengubah orang Palestina menjadi kelompok terpisah yang tinggal di penjara terbuka, tertutup, dan terisolasi satu sama lain," ujar Mantan Menteri Kesehatan di Pemerintahan Hamas, Basem Naim, kepada Middle East Eye.

Iron Wall diresmikan pada 2021 dan menelan biaya sekitar 3 miliar shekel (sekitar 13 triliun rupiah).

Infografik Mozaik Blokade Jalur Gaza

Infografik Mozaik Blokade Jalur Gaza. tirto.id/Parkodi

Menembus Tembok Pembatas

Jalur Gaza menjadi panggung utama konflik antara Israel dan Hamas. Serangan roket dari Jalur Gaza ke wilayah Israel dan serangan balasan Israel terhadap Jalur Gaza telah menelan banyak korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.

Selain konflik yang berkepanjangan, Jalur Gaza juga menghadapi tantangan ekonomi dan kemanusiaan yang serius karena blokade yang diberlakukan oleh Israel dan Mesir sejak tahun 2007.

Para kritikus menganggap tembok ini sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan kebebasan gerak penduduk Gaza.

"Dengan gagal mengkarakterisasi blokade tersebut sebagai sesuatu yang ilegal serta gagal memaksa Israel untuk mematuhi tatanan hukum yang ditetapkan oleh komunitas internasional, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) membiarkan upaya-upaya yang sengaja dilakukan Israel tidak tertandingi," ungkap Noura Erakat dalam jurnalnya "It’s Not Wrong, It’s Illegal: Situating the Gaza Blockade Between International Law and the UN Response".

Serangan Hamas pada 7 Oktober lalu berhasil menembus 29 titik Iron Wall, dengan sedikit perlawanan dari pasukan Israel. Upaya terkoordinasi tersebut meliputi penggunaan drone untuk menjatuhkan bahan peledak, tembakan roket, pesawat layang gantung berawak, bahan peledak di sepanjang pagar, dan buldoser untuk memperlebar jarak.

Serangan ini merupakan operasi paling ambisius yang dilancarkan Hamas dari Jalur Gaza.

Sebelumnya, pada tahun 2008, selama periode ketegangan yang meningkat, Hamas berhasil meledakkan sebagian tembok perbatasan yang memisahkan Gaza dan Mesir. Insiden ini memungkinkan sejumlah besar warga Palestina menyeberang ke Mesir untuk mengakses barang dan jasa yang langka di Gaza akibat blokade.

Pada 15 Mei 2011, pengunjuk rasa Palestina, yang didorong oleh peringatan Hari Nakba, berusaha menerobos pagar perbatasan Gaza ke Israel. Pasukan Israel membalas dengan kekerasan, sehingga menimbulkan belasan korban jiwa.

Setahun kemudian, beberapa warga Palestina menggali terowongan bawah tanah sepanjang 1,5 kilometer untuk mencapai Mesir. Terowongan tersebut berhasil menembus tembok Gaza dan digunakan oleh ratusan warga Palestina untuk melarikan diri dari wilayah tersebut.

Upaya lain terjadi pada Maret 2018 ketika sekelompok pengunjuk rasa melakukan protes terhadap blokade dan pembangunan permukiman oleh Israel. Mereka berupaya menerobos pagar. Protes tersebut mengakibatkan konfrontasi dengan pasukan Israel yang menyebabkan korban jiwa di kedua sisi.

Baca juga artikel terkait JALUR GAZA atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Politik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi