Inisiasi Menyusu Dini yang Tak Boleh Diabaikan

Oleh: Aditya Widya Putri - 27 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) bagian fase awal terpenting dari kelahiran seorang bayi di dunia. Di Indonesia, IMD sudah diperkenalkan satu dekade terakhir dan perkembangannya belum menggembirakan dibandingkan negara tetangga.
tirto.id - Seorang perempuan meringis karena nyeri luar biasa pada perutnya yang berkontraksi. Pembukaan sembilan pun terlewati, lamat-lamat bagian tubuh si bayi sudah berada di luar rahimnya. Seorang suster dengan sigap menggendong bayi yang masih merah untuk dikeringkan dan diberikan kepada ibunya. Selang 15 menit berlalu, si bayi hendak diangkat lagi oleh suster, wanita itu pun protes karena ingin tetap mendekap anaknya lebih lama.

“Nanti bayinya kedinginan, mau langsung divaksin juga,” jelas sang suster.

Sang ibu pun tak membantah, hanya pasrah membiarkan bayinya ditangani suster. Padahal, ibu tersebut berhak untuk mendekap bayinya sebagai bagian dari apa yang dinamai Inisiasi Menyusu Dini (IMD), yakni dengan meletakkan bayi di atas payudara ibu selama satu jam pertama. IMD bukan hanya ritual medis bagi bayi dan ibunya tapi sudah menjadi hal yang wajib dan diatur oleh perundangan.

Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan sumber makanan terbaik sejak dilahirkan sampai berusia 6 bulan. Pasal 9 ayat (1) jelas mengatur Tenaga Kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusu dini terhadap Bayi yang baru lahir kepada ibunya paling singkat selama satu jam. Inisiasi menyusu dini dilakukan dengan cara meletakkan Bayi secara tengkurap di dada atau perut ibu sehingga kulit Bayi melekat pada kulit ibu.

Dalam proses IMD, ada gerakan bayi menjejak dan mencari ASI di dada ibunya. Proses ini lah yang menjadi bagian penting bagi bayi karena ada peluang si bayi menelan bakteri baik (non pathogen) dari kulit ibu untuk membentuk koloni di kulit dan usus bayi sebagai perlindungan diri sejak dini. Kontak kulit yang terjadi juga meningkatkan rasa tenang pada ibu dan bayi. Tak hanya rasa tenang yang ditimbulkan, ikatan kasih sayang ibu dan anak tentunya akan bertambah kuat.

Selain itu IMD juga mengurangi pendarahan setelah melahirkan dan mengurangi anemia pada ibu. Ini dikarenakan sewaktu merayap, kaki bayi menendang-mendang perut ibu secara halus sehingga merangsang kontraksi rahim, membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan sesudah melahirkan.

Hisapan bayi pada puting ibu sewaktu IMD merangsang pengeluaran hormon prolaktin dan oksitosin. Hormon ini berfungsi untuk segera menghasilkan dan mengeluarkan ASI yang berisi cairan kolostrum. Selain itu, kematian bayi akibat hipotermia atau kedinginan justru bisa dicegah dengan proses ini. Sebab, dada ibu berfungsi sebagai pengatur suhu badan dan menghangatkan bayi. Sayang, para ibu ini hanya mendekap bayi merahnya dalam waktu yang singkat setelah kelahiran. Padahal, IMD paling tidak dilakukan satu jam pertama setelah kelahiran.

“Selama satu sampai dua jam pertama itu adrenalin sedang tinggi, bondingnya juga jadi tinggi. Nanti tiga jam ke atas akan berangsur turun,” kata Dr Utami Roesli, SpA pendiri Lembaga Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) dalam workshop Infant and Young Child Feeding di Intercontinental MidPlaza, Jakarta, Rabu (22/3/2017).

Proses IMD akan mempercepat rangsangan kolostrum dalam ASI. Zat ini berfungsi sebagai pencegah kematian bayi kerena mengandung protein dan immunoglobulin sebagai antibodi, yang memberikan efek perlindungan pada bayi sampai usia 6 bulan pertama kehidupannya.

Konsentrasi Imunoglobulin A (IgA), IgG, dan IgM yang terdapat dalam kolostrum produksinya semakin menurun di hari-hari berikut. Padahal, zat ini akan membentuk daya tahan tubuh terhadap infeksi sekaligus penting untuk pertumbuhan usus, dimana kolostrum akan membuat lapisan pelindung dan mematangkan dinding usus bayi serta membantu perkembangan usus bayi yang belum matang.

Proses tersebut membantu mencegah bayi mengalami infeksi, alergi, dan intoleransi terhadap makanan lain. Protein anti-infektif dan sel-sel darah putih merupakan imunisasi pertama terhadap penyakit yang dihadapi bayi setelah dilahirkan. Kolostrum membantu mencegah infeksi bakteri berbahaya.

Kolostrum memiliki efek pencahar ringan, untuk membantu membersihkan usus bayi dari mekonium, yakni tinja pertama bayi yang berwarna kehitaman. Pembersihan ini membersihkan pula bilirubin dari usus, dan membantu mencegah bayi kuning. Kolostrum juga lebih kaya akan vitamin daripada ASI matang, khususnya vitamin A. Vitamin A membantu mengurangi tingkat keparahan infeksi yang mungkin dialami bayi yang baru lahir hingga mencegah potensi kematian bayi.

Penelitian yang dilakukan oleh Karen M. Edmon,dkk dalam jurnal Pediatric, Maret 2006 dalam kasus di Ghana membuktikan bahwa 16% kematian neonatus atau bayi yang baru lahir dapat dicegah bila bayi mendapat ASI di hari pertamanya. Angka tersebut meningkat menjadi 22% bila bayi melakukan IMD dalam satu jam pertama setelah lahir. Bayi yang diberi kesempatan IMD, hasilnya 8 kali lebih berhasil dalam pemberian ASI eksklusif selanjutnya.


INFOGRAFIK Menyusui Dini

IMD dan Pemberian ASI



Di lapangan, proses IMD tak mudah dilakukan karena kurangnya pengetahuan tenaga medis. Biasanya, setelah bayi lahir akan langsung dibersihkan, ditimbang, diberi suntikan, baru kemudian diberikan kepada ibu untuk disusui. Hal ini membuat angka frekuensi proses IMD Indonesia masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan angka IMD di Indonesia di bawah satu jam kelahiran sebesar 29,3%. Angka ini memang mengalami kenaikan bila mengacu pada data Riskesda 2013 sebesar 34,5%.

Kenaikan angka IMD di Indonesia masih belum seberapa, menurut data UNICEF pada 2013 angka IMD di Indonesia masih jauh di bawah standar dibandingkan prevalensi waktu proses IMD di negara Asia Tenggara lainnya seperti di Myanmar 76%, Thailand 50%, dan Filipina 54%.

Catatan lain yang perlu diperhatikan adalah persentase IMD pada satu jam pertama kelahiran seorang bayi di Indonesia masih kalah tinggi dibandingkan persentase ibu yang menyusui bayinya dalam tempo 1-6 jam setelah kelahiran anaknya.
Pada 2010, jumlah ibu yang baru menyusui anaknya setelah 1-6 jam kelahiran berjumlah 40,7%. Di 2013 jumlah ini menurun menjadi 35,2%, tapi tetap masih lebih tinggi dibanding IMD di bawah satu jam kelahiran. Ini artinya seorang ibu di Indonesia punya tendensi lebih banyak menyusui bayinya di luar waktu proses IMD.

Catatan IMD yang kurang menggembirakan, berbanding lurus dengan angka pemberian ASI eksklusif enam bulan pertama dan ASI hingga anak berusia 24 bulan di Indonesia. Cakupan ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan dari hasil Survei Kesehatan dan Demografi Indonesia 2012 angkanya hanya mencapai 42%. Angka ini masih berada di bawah target World Health Assembly di 2015 sebanyak 50%. Sementara itu, bayi yang tetap mendapat ASI hingga usia satu tahun memang lebih tinggi hingga 77%, tapi hanya 55% yang hingga usia 24 bulan.

Persoalan pemberian ASI eksklusif juga tak kalah penting dari proses IMD. Bayi di bawah usia enam bulan yang tidak mendapati ASI berisiko 3-4 kali lipat lebih tinggi mengalami kematian dibandingkan bayi yang mengonsumsi ASI. Salah satunya dikaitkan karena periode menyusui yang lebih lama terkait berkurangnya prevalensi obesitas bayi sebanyak 13% dan berkurangnya diabetes tipe-2 sebanyak 35% pada bayi. Pemberian ASI untuk bayi berusia 6-23 bulan menurunkan angka potensi kematian bayi hingga 50%.

“Banyak ibu dan dokter yang berpikir, memberikan ASI setelah umur 1 tahun sia-sia belaka. Kemudian mereka akan segera menyapih anaknya, padahal bayi bisa menyapih dirinya sendiri,” kata Utami Roesli.

Padahal ASI bisa memenuhi sekitar 30-50% nutrisi yang dibutuhkan anak hingga berusia 23-24 bulan. Semua itu, bisa dimulai dari tindakan IMD saat bayi kali pertama muncul di dunia. Sehingga pentingnya pengetahuan dari orang tua dan tenaga kesehatan untuk menerapkan IMD pada bayi yang baru lahir.

Baca juga artikel terkait ASI atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Suhendra