STOP PRESS! Status Gunung Agung Naik Menjadi Awas

Industri Ritel Indonesia Masih Lesu Tahun Ini

Industri Ritel Indonesia Masih Lesu Tahun Ini
Suasana aktivitas perbelanjaan di salah satu minimarket Indomaret di kawasan Jakarta Selatan, Jakarta, Rabu (2/8). ANTARA FOTO/Reno Esnir
Reporter: Damianus Andreas
13 September, 2017 dibaca normal 1 menit
Industri ritel mengalami kelesuan. Angka pertumbuhannya lebih parah dibanding tahun lalu.
tirto.id - Perkembangan industri ritel Indonesia tahun ini lesu. Berdasarkan catatan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), industri ritel hanya tumbuh 3,9 persen pada Kuartal I sedangkan di Kuartal II 2017 hanya sebesar 3,7 persen, turun drastis dibandingkan 2016 yang bisa mengalami pertumbuhan mencapai 11,3 persen. Sementara pada kuartal II 2016, pertumbuhannya menurun tapi masih berada di angka 9,2 persen.

“Industri ritel kita ini lagi ngos-ngosan. Padahal pengeluaran rumah tangga ada di ritel,” ucap Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers di kawasan SCBD, Jakarta pada Rabu (13/9/2017) siang.

Selain itu, gejala lesunya industri ritel juga diketahui dari dari lima format gerai di bawah naungan Aprindo. Roy menekankan bahwa kinerja industri ritel di berbagai bentuk gerai masih berada di bawah harapan.

Hasil audit yang dilakukan pada Juni 2017 terhadap Juni 2016 menunjukkan pertumbuhan ritel di supermarket dan hypermarket hanya tumbuh 0,4 persen, minimarket tumbuh 7 persen, pasar modern (department store) tumbuh 4,8 persen, dan pasar tradisional (grosir) tumbuh 2,9 persen.
 
“Musim liburan di tahun ini pun hanya mendorong pertumbuhan 5 persen, berbeda halnya dengan tahun lalu yang mencapai 13,4 persen atau pada 2012 yang sampai sebesar 38,7 persen,” ungkap Roy.

Menurut Roy, faktor penyebab lambatnya pertumbuhan industri ritel antara lain karena; usia produktivitas masyarakat yang lebih cepat, berubahnya pola belanja ke online, adanya sikap menahan belanja karena adanya situasi tidak kondusif, lebih gemar berplesiran, dan juga time deposit.

Kendati demikian, Roy optimistis dengan industri ritel yang dinilainya masih mampu mengejar ketertinggalan di sisa waktu 2017. Keyakinan ini didorong oleh beberapa faktor yakni, sikap pemerintah yang menahan harga energi agar tidak naik sehingga orang bisa leluasa membelanjakan uangnya, suku bunga acuan Bank Indonesia yang turun, serta aturan percepatan berusaha yang mengawal masuknya investasi.

“Mudah-mudahan pertumbuhan tahun ini masih bisa di angka 8-9 persen. Karena di semester I 2017 kita hanya bertumbuh 3,7 persen. Harapannya pertumbuhan masih bisa mencapai double digit,” ujar Roy.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI RITEL atau tulisan menarik lainnya Damianus Andreas
(tirto.id - dam/agu)

Keyword