Indonesia di Tengah Pusaran Daya Saing Wisata

Sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) mengunjungi Candi Borobudur, Magelang, Jateng. Antara foto/Andreas Fitri Atmoko
Oleh: Nuran Wibisono - 20 Juni 2016
Dibaca Normal 4 menit
Indeks daya saing pariwisata ini bukan berarti bahwa Indonesia tak memiliki destinasi yang layak dikunjungi. Melainkan, Indonesia belum mampu membangun sektor pariwisata dengan maksimal. Padahal, secara wisata alam maupun budaya, Indonesia jelas lebih unggul ketimbang Singapura
Kabar baik datang dari pariwisata Indonesia. Di saat ekonomi sedang melemah, segala ekspor tambang seperti batu bara juga ikut melemah, pariwisata jadi sektor yang menjulang. Tahun lalu, World Economic Forum (WEF) merilis daftar tahunan, The Travel and Tourism Competitiveness Index yang memuat tentang daya saing pariwisata suatu negara.

Total ada 14 indikator untuk menyusun daya saing pariwisata ini. Mulai dari iklim bisnis, keamanan, infrastruktur transportasi, sumber daya manusia, hingga keberlangsungan sumber daya alam dan lingkungan.

Pada tahun 2011, Indonesia berada di peringkat 74 dari 141 negara yang disurvei. Kemudian pada 2013, peringkatnya membaik jadi 70. Tahun 2015 silam, lonjakannya cukup mengejutkan: menjadi peringkat 50 dengan nilai indeks 4,04. Ini artinya, Indonesia mengalami perbaikan yang cukup signifikan dalam sektor-sektor penunjang pariwisata sehingga membuat daya saing ikut naik.

Peringkat tertinggi dipegang oleh Spanyol, dengan nilai indeks 5,31. Ini adalah kali pertama negara matador menempati peringkat puncak. Spanyol pada tahun lalu dikunjungi oleh 60,6 juta wisatawan asing.

"Kelas menengah baru dari negara seperti Cina, pejalan senior dari Barat, dan generasi milenial, mempertajam secara signifikan industri pariwisata dan perjalanan," ujar Oliver Cann, Direktur Media WEF.

Apakah kita harus senang? Tentu saja, ini perbaikan yang lumayan. Namun, untuk bergembira secara berlebihan, tunggu dulu. Peningkatan daya saing adalah kabar baik. Namun, secara peringkat daya saing, terutama di Asia Tenggara dan Asia Selatan, Indonesia masih kalah oleh triumviraat Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Secara umum, WEF mencatat bahwa perbaikan peringkat ini terjadi karena ngebutnya pembangunan industri dan juga infrastruktur di Indonesia. Presiden Joko Widodo bahkan melakukan tur keliling dunia untuk mempresentasikan keunggulan Indonesia, juga keterbukaan untuk investasi.

"Keep calm and invest in Indonesia," kata Presiden Jokowi dalam forum bisnis pengusaha Indonesia dan Inggris di London, bulan lalu.

Ngebutnya pembangunan infrastruktur ini membuat Indonesia mengalami perbaikan di beberapa indikator. Pembangunan infrastruktur transportasi udara, misalkan. Kini Indonesia berada di peringkat 39.

Selain itu, Indonesia dianggap sebagai negara yang murah meriah. Secara price competitiveness, Indonesia berada di peringkat 3 dunia dengan nilai 6,11 dari angka maksimal 7. Peringkatnya hanya kalah oleh Iran dan Mesir.

Keunggulan lain adalah alam yang kaya, membuat Indonesia berada di peringkat 19 dalam indikator kekayaan alam. Soal keanekaragaman hayati, Indonesia berada di peringkat 4 soal indikator jumlah spesies.



Pariwisata dan Promosi

Indeks daya saing pariwisata ini bukan berarti bahwa Indonesia tak memiliki destinasi yang layak dikunjungi. Melainkan, Indonesia belum mampu membangun sektor pariwisata dengan maksimal. Secara wisata alam maupun budaya, Indonesia jelas lebih unggul ketimbang Singapura. Ataupun jika dibandingkan Malaysia atau Thailand sekalipun.

Tapi ada banyak faktor yang membuat Indonesia terengah-engah mengejar ketertinggalan dari tiga negara itu. Antara lain terkait bujet promosi pariwisata.

Selain sandal, sepatu, sayur dan garam, hal lain yang tak boleh dipisahkan adalah pariwisata dan promosi. Dua hal itu harus saling melengkapi. Suatu negara bisa saja punya banyak sekali atraksi wisata. Namun, kalau tak ada promosi yang memadai, semua atraksi itu akan sia-sia. Malaysia, negara saudara serumpun sekaligus rival terbesar kita, menyadari betul hal ini. Mereka memberikan dana besar-besaran untuk dunia pariwisata, khususnya untuk pariwisata.

Untuk mempromosikan Visit Malaysia 2013-2014, pemerintah mereka menyediakan dana pariwisata sebesar 115 juta dolar atau sekitar Rp 1,3 triliun, hanya untuk promosi. Bujet itu diperkirakan merupakan bujet promosi pariwisata terbesar di Asia Tenggara. Pada 2015, diperkirakan bujet itu meningkat jadi Rp3,6 triliun. Sedangkan Thailand, di 2014 menyediakan 42 juta dolar untuk promosi pariwisata. Di tahun yang sama, Indonesia hanya menyediakan Rp600 miliar untuk sektor pariwisata secara keseluruhan. Untuk promosi wisata, pagunya sekitar Rp300 miliar.

"Anggaran promosi sebelum pemerintahan Jokowi itu hanya Rp300 miliar. Malaysia bisa mencapai Rp3,6 triliun. Kita seperduabelasnya," kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya.

Namun, tahun ini pemerintah diperkirakan meningkatkan bujet pariwisatanya. Nafsu untuk mengalahkan sang saudara tua makin menggelegak. Salah satu kuncinya adalah promosi. Presiden Jokowi juga memberikan lampu hijau.

"Saya perintahkan Menteri Pariwisata promosi lebih besar lagi. Selama ini biaya promosi kita hanya seperduabelas dibanding Malaysia. Ini harus ditambah," ujar Jokowi.

Salah satu langkah promosi Indonesia adalah dengan memasang iklan dan logo Wonderful Indonesia di banyak negara. Minggu lalu, Kementerian Pariwisata menandatangani kontrak senilai Rp15,9 miliar dengan stasiun televisi Al Jazeera. Dengan kontrak ini, iklan bertema Wonderful Indonesia akan ditayangkan mulai 20 Mei hingga akhir Desember 2016. Al Jazeera dipilih karena merupakan televisi dengan pangsa penonton terbesar di Timur Tengah, mencapai 50 juta penonton.

Kunjungan wisatawan dari Timur Tengah ke Indonesia memang relatif kecil, tetapi ada peningkatan. Pada 2015, hanya ada 250.000 wisatawan Timur Tengah yang datang ke Indonesia. Pada 2016, proyeksinya adalah sebesar 310.000 orang.

Pemerintah mencanangkan target kedatangan 20 juta wisatawan asing pada 2019. Sekarang, Indonesia baru kedatangan sekitar 7-8 juta wisatawan asing tiap tahun. Mendatangkan tambahan 12 juta wisatawan asing ini pekerjaan berat, tetapi bukan berarti mustahil. Tentu bujet yang lebih banyak, juga pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia diperlukan untuk mencapai target itu.

Berebut Turis Royal

Pariwisata memang sektor yang sedang naik daun. Para konsumennya adalah orang loyal, atau malah cenderung boros. Baru-baru ini, United Nations World Tourism Organization merilis laporan tentang belanja pariwisata selama 2015.

Dari laporan yang dirilis pada Mei 2016 ini, disebutkan kalau pariwisata dunia tumbuh 4 persen. Angka pertumbuhan ini sudah melampaui pertumbuhan perdagangan dunia yang hanya berkisar di angka 2,8 persen. Terhitung, sudah empat tahun terakhir pertumbuhan pariwisata melewati perdagangan dunia. Nilai finansial pertumbuhan pariwisata mencapai 1,4 triliun dolar. Ini adalah pertumbuhan yang mengagetkan, sekaligus sudah bisa ditebak.

"Saat ini, pariwisata adalah kategori utama perdagangan internasional di sektor jasa," ujar Sekretaris Jenderal UNWTO, Taleb Rifai pada BBC.

Sektor pariwisata bisa tumbuh dengan pesat karena belanja pariwisata yang besar. Para turis menghamburkan uangnya untuk akomodasi, makanan, hiburan, juga jasa. Belanja akomodasi dan kawan-kawannya ini diperkirakan punya nilai sekitar 1,2 miliar dolar.

Para turis dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan Britania Raya adalah yang paling banyak melancong. Tiongkok patut dijadikan catatan tersendiri. Seiring terus meningkatnya perekonomian, jumlah kelas menengahnya pun ikut melesat hingga mencapai 128 juta orang. Mereka-mereka ini yang enteng saja mengeluarkan lembaran duit untuk pariwisata.

Pengeluaran turis Tiongkok meningkat 25 persen pada 2015, dengan nilai mencapai 292 miliar dolar. Sedangkan turis Amerika Serikat berada di peringkat dua, dengan pengeluaran 120 miliar dolar.

Indonesia, yang secara teritori tak terlalu jauh dari Tiongkok, harusnya bisa menangkap tren pertumbuhan wisatawan ini. Salah satu tujuan utama wisatawan Tiongkok ke Indonesia adalah Bali. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2016, jumlah wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali mencapai 30 persen dari total wisatawan asing. Jumlahnya sekitar 93.920 orang dari total 338.991 orang, sehingga menempati peringkat pertama turis asing yang datang ke Bali.

"Wisatawan Tiongkok ke Bali jumlahnya meningkat pesat. Pertumbuhannya mencapai angka 48,75 persen dibanding bulan sebelumnya," kata Kepala BPS Bali, Adi Nugroho.

Lagi-lagi kuncinya ada di promosi kreatif. Mulai dari memasang iklan, pameran wisata, pekan promosis kuliner, dan hadir dalam bursa pariwisata di Tiongkok. Arief memang bisa dibilang jor-joran dalam promosi. Untuk menggaet turis dari Tiongkok saja, Kementerian Pariwisata memasang iklan di banyak media besar di sana.

"Dari CCTV, CNS, Xinhua, Baidu, semua channel dan platform digital di sana. Kami promosikan Wonderful Indonesia," ujar Menteri Arief.

Promosi ini diharapkan bisa “merebut” turis Tiongkok dari Thailand. Setiap tahun, sekitar 8 juta wisatawan Tiongkok datang ke Negeri Gajah Putih itu. Bandingkan dengan kedatangan turis Tiongkok ke Indonesia yang cuma 1,1 juta orang tiap tahun. Padahal jualannya sama: pantai putih dan wisata belanja.

Thailand memang lebih diuntungkan dengan jarak yang lebih dekat dengan Tiongkok. Selain itu, Thailand memang sudah lebih maju infrastruktur pariwisatanya. Namun, dengan ngebutnya pembangunan infrastruktur di Indonesia, ditambahkan dengan promosi yang gencar, seharusnya Indonesia tak akan kalah dalam merebut hati para wisatawan.

"Strategi Menteri Pariwisata tepat. Kalau mau merebut pasar ya harus berani bersaing di promosi kreatif. Kalau tidak, ya bisa kehilangan momentum," ujar Kepala Dinas Pariwisata Bali. Anak Agung Gde Yuniartha.

Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight