Menuju konten utama

Impor Meningkat Tajam, Menko Darmin: Itu Artinya Positif

Nilai impor bahan baku/penolong, dan barang modal mengalami peningkatan masing-masing sebesar 21,86 persen dan 31,04 persen.

Impor Meningkat Tajam, Menko Darmin: Itu Artinya Positif
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) berbincang usai penandatanganan nota kesepahaman percepatan pinjaman daerah di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (28/12/2017). ANTARA FOTO/Galih Pradipta

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Darmin Nasution menilai, impor dari April 2017 hingga April 2018 yang meningkat tajam masih mencerminkan tendensi positif. Sebab, proyek investasi baik di tingkat pemerintah maupun swasta bertumbuh.

"Itu memang luar biasa kenaikannya tinggi sekali, tapi dari segi perkembangan sebenarnya itu artinya positif. Itu karena investasi berjalan baik, baik investasi swasta ataupun dalam bentuk pembangunan infrastruktur dan sebagainya," ujar Darmin di Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi Jakarta pada Selasa (15/5/2018).

Menurutnya, pada tahun ini masih banyak pembangunan yang belum terselesaikan, dari sisa pembangunan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada 2016 pembangunan infrastruktur mencapai 10 persen, pada 2017 juga 10 persen.

Hal tersebut menurutnya dapat mengerek impor modal barang dan bahan baku/penolong. "Kalau kamu lihat pertumbuhan bahan modalnya sama tingginya year on year-nya 31,04 persen," katanya.

Badan Pusat Statik (BPS) mencatat, apabila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya selama Januari–April 2018 (year on year/yoy) nilai impor bahan baku/penolong, dan barang modal mengalami peningkatan masing-masing sebesar 8,033 miliar (21,86 persen), dan 2,324 miliar (31,04 persen).

Apabila dibandingkan pada bulan sebelumnya (month to month/m to m), impor barang baku/penolong naik 10,73 persen dari 10,803 miliar dolar AS pada Maret menjadi 11,961 miliar dolar AS. Impor barang modal naik 6,59 persen dari 2,459 miliar dolar AS pada Maret menjadi 2,621 miliar dolar AS pada April 2018.

Sementara itu, Darmin menyatakan impor barang konsumsi tidak terlalu tinggi perannya terhadap total impor. Impor barang konsumsi hanya sebesar 9,08 persen, barang baku/penolong sebesar 74,58 persen, dan barang modal 16,34 persen.

Kendati impor barang konsumsi secara yoy naik sebesar 26,09 persen dari 4,326 miliar dolar AS menjadi 5,454 miliar dolar AS. Kemudian secara m to m, naik 25,86 persen dari 1,201 miliar dolar AS menjadi 1,511 miliar dolar AS.

"Barang modal dan barang baku 90 persen. Barang konsumsinya hanya 9 persen. Jadi, memang sekarang mempercepat realisasi investasi dan pembangunan infrastruktur," katanya.

Sehingga, yang perlu dilakukan pemerintah seharusnya adalah mendorong ekspor untuk mengimbangi pertumbuhan impor. Jika, tidak maka akan berpengaruh terhadap neraca pembayaran.

"Kalau diredam impornya, itu akan memukul pertumbuhan [investasi untuk pembangunan infrastruktur] berikutnya," kata dia.

Pertumbuhan investasi sektor infrastruktur dengan neraca perdagangan, menurutnya tidak dapat selalu berbanding lurus. Sebab, tidak semua bahan baku/penolong diproduksi di dalam negeri, sehingga harus impor.

Oleh karena itu, menurut Darmin ada baiknya pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif investasi yang mudah dalam birokrasinya untuk dapat mendorong pembangunan industri berorientasi ekspor dan pabrikan yang menghasilkan produk kebutuhan dalam negeri.

"Kalau nanti kalian lihat daftar kegiatan yang dapat tax holiday dan allowance itu sebagian memang yang berorientasi eskpor. Tapi, sebagian besar itu adalah kegiatan produksi yang belum ada di sini, tapi kita perlu, yang mana kalau investasi naik, (memicu) pertumbuhan naik dan impornya naik," paparnya.

Baca juga artikel terkait EKSPOR IMPOR atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Dipna Videlia Putsanra