Iduladha 2020: Corona Membuat Tren Kurban Online Meningkat

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 31 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Corona membuat tren kurban secara online meningkat. Di satu lembaga, peningkatan dari 30 persen menjadi 80 persen.
tirto.id - Tahun ini adalah kurban pertama secara online bagi Ihwanul Arif, warga Depok. Ia mengambil keputusan ini karena khawatir tertular Corona jika bersikeras menjalankan kurban biasa, seperti sebelum pandemi.

“Mau kurban tapi takut berkerumun. Khawatir juga soalnya penularan Corona masih tinggi. Tapi kan kurban itu ibadah, ya. Jadi saya coba kurban online tahun ini,” kata Ihwan kepada reporter Tirto, Jumat (30/7/2020).

Kekhawatiran Ihwan tentu dapat dimengerti mengingat total pasien positif COVID-19 di Indonesia per 30 Juli sudah mencapai 106.336 kasus. Rinciannya: 36.986 pasien dalam perawatan (34,8 persen), 64.292 pasien dinyatakan sembuh (60,5 persen), dan 5.058 orang meninggal (4,8 persen).

Berdasarkan data Satgas Penanganan COVID-19 yang dilansir laman resmi, terdapat 53.723 kasus suspek. Jumlah ini lebih rendah dari kasus suspek pada 29 Juli yang tercatat 57.393 orang. Angka ini masuk ke pemerintah pusat hingga Kamis siang, baik melalui tes RT-PCR maupun TCM.

Ihwan hanya satu dari sekian banyak orang yang melirik opsi beribadah kurban secara online di tengah masih belum menurunnya kurva Corona.


Tren Meningkat

Rumah Zakat, salah satu lembaga penyedia jasa kurban online, mengatakan tahun ini tren kurban online meningkat.

CEO Rumah Zakat Nur Effendi mengatakan kepada reporter Tirto kalau “dengan adanya wabah ini pasti masyarakat cari aman, cari selamat, sehingga pilihan yang paling aman ya melalui online.”

Dompet Dhuafa mengungkapkan berapa besarnya minat terhadap kurban online tahun ini. “Per hari ini Jumat 30 Juli jam 12 siang, capaian setara 26.551 domba/kambing. Tahun lalu, dari online hanya 30 persen, tahun ini 80 persen,” kata Kepala Agroniaga Dompet Duafa Zainal Abidin.

Layanan kurban online di tengah pandemi COVID-19, lanjut dia, juga mendongkrak jumlah hewan kurban yang berhasil dijual, dari tahun lalu yang hanya setara 21.646 ekor kambing menjadi setara 26.551 ekor.

Kurban online memang memudahkan masyarakat dalam beribadah. Namun jangan membayangkan ia layaknya belanja online: hewan kurban diantar ke rumah. Dalam kurban online, masyarakat cukup membayarkan hewan kurbannya, dan pihak penyedia jasa yang akan mengurus seluruh prosesi.

Penyumbang akan diberikan akses untuk bisa memantau langsung penyembelihan dan distribusinya.

“Orang bisa cek hewan kurbannya disembelih di mana, dibagikan di mana. Itu lebih bermanfaat daripada hewan kurbannya disembeli di rumah-rumah mereka.”


Hingga ke Luar Negeri

Karena cara seperti itulah distribusi kurban bisa lebih luas. Global Qurban di bawah Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT), yang juga ikut ambil bagian dalam menjamurnya tren kurban online saat ini, menyebut kurban bakal didistribusikan ke lebih dari 40 negara.

Negara-negara itu dipilih karena masyarakatnya dilanda kelaparan, kemiskinan, dan konflik kemanusiaan.

Mengutip laman resminya, lembaga yang berdiri sejak tahun 2005 ini bakal membagikan daging ke seperti Palestina, Suriah, Yordania, Mesir, Somalia, Afrika Tengah, Kamerun, Uganda, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar, Filipina, Laos, Vietnam, Thailand, Kamboja, Timor Leste, Bosnia, juga pelosok Indonesia.

Tapi bukan berarti kurban biasa pun tak bisa menjangkau luar negeri. Tahun lalu, Panitia Kurban Pengurus Pusat NU Care-Lembaga Amil Zakat, Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama mengatakan daging yang mereka bagikan menjangkau 15 juta orang di 16 provinsi dan luar negeri.

Baca juga artikel terkait IDULADHA 2020 atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino
DarkLight