Menuju konten utama

Hotspot di Sumsel Turun Drastis, Kualitas Udara Masih Tak Sehat

Penurunan hotspot ini terjadi karena di sebagian besar wilayah diguyur hujan dari kemarin sampai dini hari tadi.

Hotspot di Sumsel Turun Drastis, Kualitas Udara Masih Tak Sehat
Foto udara sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Musi IV Palembang yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/10/2026). Berdasarkan pantauan aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di Kota Palembng pada Minggu (4/10) ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hotspot atau titik panas di Sumatra Selatan selama 24 jam terakhir turun drastis dari 823 titik pada hari sebelumnya menjadi 73 titik. Meski demikian, kualitas udara di Palembang masih kategori tidak sehat.

Jumlah hotspot tersebut terpantau oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Senin (26/10/2026) pukul 05.00 WIB. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) masih tercatat penyumbang hotspot terbanyak yang berjumlah 62 titik. Sementara 11 titik lain tersebar di Lahat, Lubuklinggau, Musi Banyuasin, dan Ogan Komering Ulu Selatan.

"Penurunan hotspot ini terjadi karena di sebagian besar wilayah diguyur hujan dari kemarin sampai dini hari tadi," kata Kabid Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Sudirman, Senin (26/10/2026).

Berdasarkan pantauan polutan udara di Stasiun Talang Betutu Palembang pukul 15.00 WIB, konsentrasi partikulat atau PM2.5 tercatat berada di angka 67,4 mikrogram meter per kubik.

Kualitas udara level kuning ini telah berlangsung sejak pukul 03.00 WIB. Sementara dalam rentang pukul 00.00-02.00 WIB, PM2.5 berada di level sangat tidak sehat atau berkisar 171,4-224,1 mikrogram meter per kubik.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengungkapkan peningkatan kualitas udara di Palembang disebabkan tiga faktor. Pertama hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Palembang dan Sumsel, membantu mengurangi partikel pencemar yang melayang di udara.

Butiran air hujan menangkap sebagian partikel tersebut kemudian membawanya turun ke permukaan bumi. Proses tersebut dikenal sebagai deposisi basah atau wet deposition.

"Secara meteorologis, hujan berperan dalam proses wet deposition atau deposisi basah, yaitu ketika butiran air hujan menangkap dan membawa sebagian partikel pencemar di atmosfer, termasuk PM2.5, turun ke permukaan bumi," kata Siswanto.

Pergerakan angin juga berpengaruh terhadap konsentrasi polutan di Palembang. Menurut Siswanto, perubahan arah dan kecepatan angin dapat mengubah jalur penyebaran asap dari wilayah yang mengalami karhutla.

"Tentunya kondisi atmosfer turut menentukan apakah asap terperangkap di dekat permukaan atau menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi," kata dia.

Meski hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel, Siswanto menyebut dampaknya bergantung pada kondisi cuaca dan banyaknya polutan yang masih berada di udara. Karena itu, membaiknya kualitas udara belum berarti sumber asap karhutla telah hilang.

"Konsentrasi PM2.5 masih dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca dan pergerakan asap," kata dia.

Berdasarkan laporan Manggala Agni, satgas darat hari ini melakukan pemadaman di Desa Putak Muara Enim dan Muara Baru, Pemulutan, Ogan Ilir. Karhutla di Desa Putak telah berlangsung sejak beberapa hari lalu.

Baca juga artikel terkait KASUS KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama