tirto.id - Kualitas udara di Palembang mulai membaik dibanding hari-hari sebelumnya selama dua bulan terakhir. Namun BMKG mengingatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Selatan (Sumsel) masih tinggi.
Berdasarkan grafik pemantauan kualitas udara di Stasiun Talang Betutu Palembang, Sabtu (24/10/2026), konsentrasi partikulat (PM2.5), berada di angka 51,3 mikrogram meter per kubik pada pukul 10.00 WIB atau level sedang. Kualitas udara cukup membaik bertahan hingga pukul 12.00 WIB pada 46,5 mikrogram meter per kubik.
Pantauan di Stasiun Musi II Palembang juga menunjukkan PM2.5 menurun. Dalam rentang waktu pukul 09.00-12.00 WIB, PM2.5 di wilayah itu tercatat berada di kisaran 35,5-51,4 mikrogram meter per kubik atau level sedang.

Membaiknya kualitas udara juga berdampak pada jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang. Dari pengamatan BMKG, visibility di atas 10.000 meter dan dilaporkan tidak ada aktivitas penerbangan yang terganggu.
Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, Siswanto, menjelaskan penurunan PM2.5 di kota itu bukan karena berkurangnya titik karhutla. Kualitas udara cukup membaik dipengaruhi arah angin yang bergeser dari tenggara ke selatan lalu mengarah ke utara sehingga sebagian asap dari sumber karhutla di Ogan Komering Ilir (OKI) tidak masuk ke Palembang.
"Perubahan angin mempengaruhi distribusi asap karhutla. Asap yang sebelumnya masuk ke Palembang, sekarang bergerak mengikuti arah angin yang berbeda," ungkap Siswanto, Sabtu (24/10/2026).
Selain itu, kata dia, berdasarkan hasil pengamatan radiosonde/pengamatan profil labilitas lapisan atmosfer yang dilakukan di BMKG SMB II Palembang pada 24 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB menunjukkan bahwa atmosfer memiliki energi pembentukan awan yang relatif terbatas, meskipun peluang pertumbuhan awan hujan masih tetap ada.
Data ini menjadi sangat penting karena kondisi dinamika atmosfer, terutama pergerakan angin dan kemampuan udara untuk bergerak naik-turun, turut menentukan apakah konsentrasi asap akan menumpuk di dekat permukaan atau menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi. Selain itu, keberadaan lapisan inversi berdasar hasil pengamatan radiosonde, yaitu lapisan udara yang dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal, juga perlu diperhatikan.
"Ketika lapisan ini kuat atau stabil, konsentrasi asap cenderung terperangkap di dekat permukaan sehingga udara terasa lebih pekat, jarak pandang mendatar lebih pendek terutama pada malam hingga pagi hari," kata dia.
Sebaliknya, ketika kondisi atmosfer mendukung terjadinya pencampuran udara dan angin akan membantu membawa konsentrasi asap menjauh dan terdispersi ke atas, yang pada akhirnya konsentrasi polutan dapat berkurang. Karena itu, membaiknya kualitas udara hari ini dan jarak pandang mendatar di Palembang dapat berkaitan dengan perubahan kondisi angin dan atmosfer.
"Tetapi perlu didukung data pengamatan aktual untuk memastikan faktor yang paling berpengaruh," kata dia.
Lahan Gambut OKI dan Muba Masih Membara

Meski kondisi udara membaik, BMKG mengingatkan bahwa ancaman karhutla masih sangat tinggi, terutama di lahan gambut di OKI, Musi Banyuasin, dan lainnya. Apalagi, sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di musim kemarau dan hujan dengan intensitas ringan-sedang bukan terjadi di daerah penyumbang asap.
"Membaiknya udara Palembang merupakan kabar baik yang patut disyukuri. Namun kewaspadaan terhadap karhutla dan pemantauan kualitas udara tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan menyusul selang waktu 24- 28 Oktober di Sumsel terdapat potensi pertumbuhan awan yang masif," terangnya.
Sementara itu, Kepala Balai Penanggulangan Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengungkapkan, tim Manggala Agni masih terus melakukan pemadaman di areal gambut di Kabupaten OKI yang telah terbakar dalam waktu lama. Yakni di Desa Talang Rimba (Kecamatan Cengal, Ujung Tanjung (Tulung Selapan), Pangkalan Lampam, dan Riding area.
Pemadaman juga masih berlangsung di Karang Agung Kabupaten Musi Banyuasin, Desa Air Hitam Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, dan Desa Putak Kabupaten Muara Enim. Titik karhutla di daerah ini telah berlangsung sejak beberapa hari lalu.
Pada saat pemadaman masih dilakukan, Manggala Agni juga harus berjibaku di titik baru yang terdapat di Pedamaran Timur. Pemadaman di lokasi ini perlu lebih ekstra karena juga merupakan lahan gambut yang luas.
"Kalau di lokasi OKI masih diperjuangkan, ada titik baru di Pedamaran Timur. Untuk Pangkalan Lampam dan Cengal masih dikerjakan [padamkan] juga," kata Ferdian.
Masuk tirto.id

































