Menuju konten utama

BNPB Ingatkan SOP Pemadaman Karhutla Cegah Jatuhnya Korban

Relawan diimbau terus berkomunikasi dengan komando yang berada di tiap kabupaten/kota wilayah terdampak karhutla.

BNPB Ingatkan SOP Pemadaman Karhutla Cegah Jatuhnya Korban
5 Petugas Karhutla Bromo yang Meninggal saat Padamkan Api. Foto/x/@NaraSenyap/Kemenhut/UMMprobolinggoimpressive
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan belasungkawa terhadap gugurnya sejumlah relawan saat menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

Korban berjumlah enam relawan itu berasal dari tim gabungan yang berupaya menangani api di titik pusung Lingker, Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026). Mereka ialah petugas Balai Besar TNBTS Sukaris (55) dan Hendra Rony Wagiyanta (33) petugas TNBTS.

Selanjutnya, Wisnu Yuda Pratama (25) dan Sefriel Ardiansyah (19) berprofesi sebagai karyawan hotel di sekitar lokasi kejadian, serta Munawi (44) salah satu anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Sementara itu Suraji (40), petugas keamanan hotel di sekitar lokasi, sempat menjalani perawatan sebelum meninggal dunia.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan pihaknya telah mendapatkan kabar informasi duka itu. Korban saat itu diketahui berusaha untuk memadamkan api di Bromo. Namun mereka terperangkap di daerah tersebut.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya dan tentu kita menghargai segala upaya yang mereka lakukan selama ini," kata Berton dalam konferensi pers secara online, Jumat (23/20/2026).

Dalam kesempatan itu pun, Berton mengingatkan relawan supaya tetap memperhatikan rencana operasi dari pos komando. Relawan diimbau terus berkomunikasi dengan komando yang berada di tiap kabupaten/kota wilayah terdampak.

"Kemudian untuk BPBD tetap melakukan supervisi terkait keamanan maupun keselamatan dari para relawan," imbaunya.

Ia meminta petugas keselamatan atau safety officer berada di lokasi saat relawan berupaya memadamkan api. Selanjutnya, para petugas senantiasa melakukan pembekalan serta evaluasi setelah operasi pemadaman selesai.

"Sehingga bisa diketahui ada hal-hal yang perlu ditindaklanjuti pada saat keesokan harinya, baik itu kesehatan dari personel ataupun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan," ujarnya.

Lalu, menurutnya pengerahan relawan disesuaikan dengan durasi rencana operasi yang telah ditentukan oleh pos komando. Pihaknya menyarankan relawan yang sudah mengalami kelelahan fisik ataupun kelelahan mental untuk beristirahat dan diganti oleh tim lain.

Kemudian yang terakhir, pentingnya relawan yang terlibat memiliki pengetahuan pemadaman karhutla. Pihaknya berharap relawan tersebut dibekali ilmu-ilmu terkait dengan cara pemadaman api.

Termasuk pengetahuan mengenai situasi bagaimana terbentuknya api, bagaimana memadamkan api, ataupun bagaimana menghindari api sehingga tidak menimbulkan korban lain.

"Kami juga menyampaikan bahwa perlu menggunakan standar APD perorangan. Ada helm keselamatan, ini perlu digunakan dengan cara yang benar. Jangan menggunakan dengan cara yang salah atau kurang tepat," ucapnya.

Ia menambahkan, kacamata pelindung juga penting untuk menghindari percikan api atau asap yang masuk ke mata. Kemudian menggunakan masker respirator yang berukuran, yang berstandar N95. Masker dengan standar untuk mencegah partikel 2.5.

Berton melanjutkan para relawan diusahakan menggunakan pakaian tahan panas, untuk mencegah agar relawan bisa tahan dengan kondisi tersebut hingga tidak mengalami dehidrasi.

"Gunakan sarung tangan kulit yang dan yang tahan panas, sepatu boot lapangan juga digunakan, serta ransel dan perlengkapan di lapangan. Apabila sudah mengalami kelelahan atau mengalami kehausan, segera beristirahat dan minum air yang secukupnya," ucap Berton.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Bayu Septianto