tirto.id - Guratan kesedihan mendalam tak mampu disembunyikan dari wajah Isnawati (35). Warga Landasan Ulin Selatan, Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini harus menelan pil pahit kehidupan, berjuang sebagai ibu tunggal dengan lima anak setelah sang suami tercinta berpulang untuk selamanya.
Seolah cobaan belum cukup, di tengah ruang kosong pasca-kehilangan kepala keluarga, Isnawati dan anak-anaknya harus bertahan hidup di bawah kepungan kabut asap pekat. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian mengganas di wilayah tempat tinggalnya.
Kabut asap yang muncul mengganggu aktivitas warga, terutama pengendara yang melintas di jalan dengan jarak pandang terbatas.
“Ini yang parah, dulu enggak tebal kayak gini. Dulu tuh enggak terlalu terbakar. Ini hampir semua terbakar,” kata Isnawati saat ditemui di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Banjarbaru, Sabtu (24/10/2026).
Setiap pagi, pemandangan di luar jendela rumahnya berganti menjadi hamparan putih yang menyesakkan dada. Jarak pandang yang sangat terbatas memaksa warga bertaruh nyawa menerobos jalanan. Alih-alih kondusif, Isnawati kerap mendengar jerit kecelakaan lalu lintas tetangganya akibat keterbatasan pandangan di jalan raya.
“Ngeri, banyak kabut sekali tuh. Kemarin banyak orang kecelakaan. Katanya kan tidak apa, kondusif aja, apanya kondusif, situ kami banyak yang kecelakaan, kadang ada yang jatuh, ada yang tabrakan,” ujarnya.
Napas Sesak Anak-Anak dan Minimnya Uluran Tangan
Dampak buruk kualitas udara yang tidak sehat itu kini mulai merogoh kesehatan darah dagingnya. Kelima anak Isnawati terus-menerus diserang batuk dan pilek akut. Gejala klinis yang dengan cepat dikenali masyarakat sebagai infeksi saluran pernapasan akut.
“ISPA lah, anak-anak kena ISPA,” kata Isnawati.
Ia juga mengaku keluarganya belum pernah menerima pembagian masker dari pemerintah setempat selama kabut asap menyelimuti wilayah tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan masker, warga terkadang membelinya sendiri di apotek.
“Kalau kami sih enggak pernah dapat,” ujarnya.
Di tengah kondisi karhutla yang semakin parah, Isnawati juga harus mengurus keluarga setelah suaminya meninggal dunia pada usia 45 tahun.
Ia menuturkan, sebelum meninggal, suaminya tidak memiliki riwayat penyakit yang diketahui keluarga. Namun, suaminya sempat mengalami batuk ketika kebakaran belum separah sekarang.
Isnawati mengatakan, suaminya meninggal di rumah setelah beraktivitas seperti biasa. Keluarga kemudian membawa almarhum ke rumah sakit untuk diperiksa.
Berdasarkan keterangan yang diterimanya, penyebab kematian suaminya adalah serangan jantung.
“Orangnya sehat, kan sebelum suami meninggal tuh belum parah kayak gini. Ini kan hampir parah di mana-mana kebakaran. Pagi, siang, malam tetap terbakar,” tuturnya.
Meski suaminya sempat mengalami batuk, Isnawati tidak menyebut adanya keterangan medis yang menghubungkan kematian almarhum dengan paparan asap karhutla.
Secercah Asa Melalui Santunan Jaminan Sosial
Kini, Kemenko PM telah membantu untuk salurkan manfaat jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan untuk Isnawati senilai Rp247.207.920. Manfaat tersebut terdiri dari jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan beasiswa.
Sementara itu, kabut asap masih menjadi persoalan bagi warga di sekitar tempat tinggalnya. Selain mengganggu jarak pandang pengendara, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
Isnawati berharap kondisi kebakaran dan kabut asap segera membaik agar warga dapat kembali beraktivitas dengan aman dan nyaman.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































