Menuju konten utama

Imbas Karhutla di OKI, Trenggiling Dievakuasi dari Lahan Gambut

Satu individu trenggiling langka diselamatkan warga setelah keluar dari lahan gambut yang terbakar di OKI. BKSDA kini telah melepasliarkannya.

Imbas Karhutla di OKI, Trenggiling Dievakuasi dari Lahan Gambut
Satu individu trenggiling betina ditemukan warga keluar dari habitatnya yang terbakar di Kabupaten OKI, Sumsel, Minggu (18/10/2026). FOTO/BKSDA Sumsel
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai mengancam keselamatan satwa liar yang dilindungi. Satu individu trenggiling betina terpaksa dievakuasi setelah ditemukan warga berjalan di tepi jalan raya guna menyelamatkan diri dari kobaran api di lahan gambut Desa Sungai Pasir, Cengal, Ogan Komering Ilir (OKI).

Satwa dilindungi itu kemudian diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk dilepasliarkan. Trenggiling itu ditemukan warga yang hendak pulang setelah ikut memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Desa Sungai Pasir pada Minggu (18/10/2026) malam.

Kepala BKSDA Sumsel, Daniwari Widiyanto, membeberkan karhutla di areal lahan gambut tersebut telah terjadi sejak beberapa hari belakangan.

"Trenggiling itu ditemukan warga keluar dari habitatnya yang terbakar. Demi keselamatan, warga menangkapnya dan diserahkan kepada kami," ungkap Kepala BKSDA Sumsel Daniwari Widiyanto, Jumat (23/10/2026).

Trenggiling tersebut dirawat di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Punti Kayu Palembang, Senin (19/10/2026). Hasil pemeriksaan, trenggiling itu memiliki nilai Body Condition Score (BCS) 3 dari 5, yang menunjukkan kondisi tubuh cukup baik, tidak terlalu kurus maupun gemuk.

Tim dokter hewan mendapati jari-jari kaki dan tangan lengkap, anggota gerak berfungsi normal, dan rongga mulut dalam kondisi normal. Pemeriksaan juga menunjukkan kulit dan sisik dalam kondisi baik tanpa ditemukan luka maupun cacat.

Setelah dinyatakan sehat, tim melepasliarkan trenggiling tersebut pada hari yang sama. BKSDA Sumsel khawatir satwa tersebut mengalami stres jika terlalu lama berada di luar habitatnya.

"Kita lepasliarkan di TWA Punti Kayu untuk kelangsungan hidupnya. Sebelum dilepasliarkan, trenggiling itu diberikan injeksi vitamin agar tetap sehat," kata dia.

Daniwari mengapresiasi tingginya kepedulian warga terhadap satwa dilindungi untuk melapor dan menyerahkannya ke BKSDA Sumsel. Penanganan secara mandiri tidak dibenarkan karena justru akan mengancam keselamatan satwa itu sendiri.

Dia mengatakan, trenggiling saat ini menghadapi ancaman serius terhadap kelestariannya. Berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), trenggiling berstatus sangat terancam punah/kritis (Critically Endangered/CR). Yaitu kategori dengan risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar.

"Trenggiling juga termasuk satwa liar yang dilindungi di Indonesia. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menangkap, memelihara, memburu, maupun memperdagangkannya secara ilegal," pungkas Daniwari.

Baca juga artikel terkait DAMPAK KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Siti Fatimah