Hikayat Ulang Tahun

Ilustrasi [Foto/Shutterstock]
Oleh: Sammy Mantolas - 23 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Ulang tahun sebelumnya dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat. Tradisi itu hanya untuk raja. Dalam perkembangannya, perayaan ulang tahun kemudian mengalami modifikasi dan dirayakan oleh orang banyak. Bagaimana tradisinya di berbagai negara?
Setiap orang akan memperingati hari kelahirannya dengan cara yang berbeda. Ada yang melakukannya dengan diam-diam, sederhana, atau yang paling heboh sekalian. Lantas, bagaimana sebenarnya asal-usul perayaan ulang tahun?

Dalam artikel “Birthday Traditions from Around the World” yang dimuat dalam northseattle.edu dikatakan bahwa tradisi pesta ulang tahun dilakukan pertama kali oleh orang-orang Eropa. Tujuan perayaan ketika itu adalah untuk melindungi orang yang berulang tahun dari ancaman roh-roh jahat.

Masyarakat Eropa percaya bahwa roh-roh jahat sangat senang dan tertarik pada orang yang sedang berulang tahun. Sehingga untuk melindungi mereka dari bahaya, orang yang berulang tahun akan mengundang teman-teman, keluarga dan kerabat terdekat untuk memberikan doa yang baik serta ucapan kepada orang yang berulang tahun.

Pada awalnya, perayaan ulang tahun hanya dilakukan untuk raja untuk menangkal kemalangan yang akan terjadi pada. Seiring dengan berkembangnya waktu, perayaan ulang tahun anak kemudian dilakukan. Pesta ulang tahun anak pertama terjadi di Jerman dan disebut.

Banyak sekali simbol yang berhubungan dengan perayaan ulang tahun, salah satunya adalah kue. Kedua unsur ini merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bak ada gula ada semut, dimana ada pesta ulang tahun, disitu pasti ada kue ulang tahun.

Dalam tulisan-tulisan kuno philochorus yang dimuat dalam “Book: Extraordinary Origins Everyday Things” karya Charles Panati dikatakan bahwa kue ulang tahun pertama datang dari Yunani. Orang-orang yunani kuno pada saat itu merayakan hari kelahiran dewi Artemis. Artemis merupakan dewi bulan, sehingga pada hari kelahirannya (bulan purnama) orang-orang Yunani akan mempersembahkan kue berbentuk bulan purnama (bulat), yang diatasnya diberi madu dan lilin yang melambangkan sinar dari bulan purnama. Kue tersebut juga sering disebut dengan “Artemis’s cake”. Namun, ketika kekuatan Yunani runtuh, artemis’s cake pun hilang dari peradaban.

Seiring dengan berkembangnya zaman, perayaan ulang tahun juga banyak mengalami perubahan makna. Kue ulang tahun yang dulunya selalu ada di setiap perayaan pesta ulang tahun kemudian digantikan dengan makanan atau hal lainnya yang disesuaikan dengan budaya di setiap negara.



Tradisi Ulang Tahun di Seluruh Dunia

Dalam perkembangannya, perayaan ulang tahun berbeda-beda di setiap negara. Dilansir dari dw.com, ada beberapa negara yang merayakan ulang tahun secara unik. Negara Denmark misalnya, merayakan ulang tahun mereka dengan mengibarkan bendera di jendela sebagai tanda bahwa seseorang di rumah tersebut sedang berulang tahun. Kado ulang tahun anak akan disimpan didekat tempat tidur, agar dapat terlihat jika bangun. Selain Denmark ada pula negara Ekuador yang merayakan ulang tahun secara unik.

Ketika seorang gadis berusia 15 tahun, pesta besar akan dirayakan untuk menyambutnya dan ia akan tampil dengan menggunakan gaun berwarnah merah muda, serta sepatu pertama berhak tinggi akan dikenakan Ayah pada kaki si gadis dilanjutkan dengan dansa waltz.

Di Jerman ketika kita meihat pria tengah membersihkan puing di tangga balaikota maka kita bisa mengucapkan selamat ulang tahun padanya.Tradisi membersihkan puing di balai kota merupakan cara untuk merayakan ulang tahun seorang pria yang ke-30 dan yang belum memiliki pasangan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan pada gadis-gadis bahwa ia bisa mengurus rumah.

Di Israel, perayaan ulang tahun anak dilakukan dengan mendudukannya pada sebuah kursi, kemudian orang tua, saudara dan tamu undangan akan mengangkat dan menurunkan kursi tersebut sesuai dengan angka ulang tahun si anak, ditambah satu untuk keberuntungan.

Sedangkan di Italia, waktu berulang tahun adalah waktu untuk melindungi telinga, karena ketika mereka mengetahui seseorang berulang tahun maka mereka akan menjewer telinga orang yang berulang tahun sebanyak usianya.

Tradisi merayakan ulang tahun juga dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia, perayaan ulang tahun secara tradisional salah satunya dilakukan dengan memotong tumpeng. Tumpeng syarat akan simbol mengenai ajaran tentang makna hidup. Selain sebagai ucapan syukur tumpeng juga merupakan simbol keselamatan dan kesejahteraan. Namun, tradisi memotong tumpeng ini sudah banyak digantikan oleh potong kue. Potong tumpeng biasanya dilakukan untuk perayaan ulang tahun institusi, organisasi, ataupun ulang tahun kemerdekaan.

Bagaimana Anda merayakan ulang tahun?


Baca juga artikel terkait ULANG TAHUN atau tulisan menarik lainnya Sammy Mantolas
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Sammy Mantolas
Penulis: Sammy Mantolas
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight