Haul Nurcholis Madjid ke-14: Penyelesaian Masalah Lewat Dialog

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 29 Agustus 2019
Dibaca Normal 1 menit
Bagi Nurcholish Madjid pemikiran liyan tetap penting untuk didengar, karena persoalan masyarakat tidak bisa diselesaikan dengan perspektif tunggal.
tirto.id - Sejumlah tokoh menghadiri peringatan kematian atau haul Nurcholish Madjid ke-14, di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Di antaranya hadir Ulil Abshar Abdalla, pemikir Islam yang juga Koordinator Forum Titik Temu dan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir.

Nurcholish Madjid atau disapa Cak Nur merupakan adalah tokoh pembaru Islam Indonesia yang pemikirannya masih dibicarakan hingga kini.

"Cak Nur dikenal karena ide-idenya. Salah satunya adalah gagasan titik temu agama-agama. Karena itulah NCMS menggelar Forum Titik Temu dan ingin kita teruskan kepada generasi muda," kata Koordinator Forum Titik Temu, Ulil Abshar Abdalla saat Haul Cak Nur ke-14 di Hotel Century Park, Jakarta, Kamis (29/8/2019).


Forum Titik Temu sedianya digelar dua bulan sekali dengan mencontoh forum diskusi yang dulu dikembangkan Cak Nur pada 1980-an.

Ketua Nurcholish Madjid Society (NCMS), Muhamad Wahyuni Nafis mengatakan, karya-karya Cak Nur telah dikumpulkan dan dipublikasikan lewat situsweb nurcholishmadjid.org. NCMS juga sekaligus menginisiasi Forum Titik Temu untuk mengelaborasi pemikiran Cak Nur.

Selain inisiasi tersebut, NCMS juga sedang melakukan dokumentasi terhadap rekaman ceramah Cak Nur yang nantinya akan disajikan dalam format baru yang lebih kekinian dan disebarkan melalui media sosial.

Harapannya, usaha-usaha ini akan semakin memudahkan generasi muda untuk mengenal dan mempelajari pemikiran Cak Nur.

"Tujuan kita adalah terus merawat dan menyebarkan pemikiran Cak Nur yang masih relevan dengan situasi mutakhir, termasuk mengkritisinya. Kami tidak mau mengkultuskan Cak Nur, karena itu berkebalikan dengan semangat Cak Nur," kata Wahyuni Nafis.

Menghargaai Dialog Pemikiran


Haedar Nashir juga menyampaikan orasi budaya dengan tajuk "Moralitas Luhur dan Kreativitas Tinggi untuk Indonesia Kita".

Menurut Haedar, salah satu teladan penting dari Cak Nur adalah pentingnya dialog dengan liyan.

Hal itu tercermin dari cara Cak Nur yang selalu santun menghadapi para pendebatnya. Cak Nur tidak pernah menghakimi pemikiran seseorang yang berbeda dengannya.

Untuk mencari pemecahan masalah masyarakat hingga soal berbangsa dan bernegara, Cak Nur selalu mengedepankan dialog.


Bagi Cak Nur pemikiran-pemikiran liyan tetap penting untuk didengar, karena persoalan masyarakat tidak bisa diselesaikan dengan perspektif tunggal.

Oleh karena itulah, pendekatan lain juga perlu diberi ruang. Kesediaan mendengarkan liyan itulah tanda bahwa ketinggian intelektualitas harusnya juga memperluhur etika.

"Itu artinya ilmu bukan sekadar kognisi dan retorika, tapi juga menyinari perilakunya. Sikap seperti ini lah yang diperlukan untuk membaca Indonesia hari ini," tutur Haedar.

Menurut Haedar banyak tokoh dan kelompok yang melihat persoalan hanya dari perspektifnya sendiri dan merasa paling benar. Sikap seperti ini bukannya menghasilkan solusi, tapi justru memperkeruh masalah.

"Dialog itu perlu kultur saling berbagi, saling peduli, dan kesediaan berpindah posisi," kata Haedar.


Baca juga artikel terkait HARD NEWS atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Fadrik Aziz Firdausi
Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Zakki Amali
DarkLight