Hasil Riset: Varian Delta Telah Menyebar di Kudus Usai Lebaran 2021

Oleh: Addi M Idhom - 14 Juni 2021
Dibaca Normal 3 menit
Hasil riset yang dikerjakan oleh Tim Peneliti UGM memperkuat dugaan bahwa transmisi lokal Varian Delta telah terjadi di Kabupaten Kudus.
tirto.id - Peningkatan kasus penularan Covid-19 terjadi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah sejak beberapa pekan lalu, atau pada periode setelah Lebaran 2021. Hingga 14 Juni 2021, Kudus menjadi daerah dengan status zona merah di Jawa Tengah, selain juga Kabupaten Tegal.

Lonjakan kasus Covid-19 di Kudus mendorong Tim Peneliti Kelompok Kerja (Pokja) Genetik FKKMK (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan) UGM melakukan penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sejumlah sampel virus corona (Sars-CoV-2) yang menyebar di daerah tersebut.

Hasil penelitian WGS terhadap sejumlah sampel rujukan dari Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes) ini menunjukkan, Varian Delta telah menyebar di wilayah Kabupaten Kudus, pada periode setelah Lebaran 2021.

Varian Delta adalah nama lain dari virus B.1.617, varian baru corona yang diidentifikasi memicu gelombang besar kasus Covid-19 di India dalam beberapa bulan terakhir.

Badan Kesehatan Dunia sudah memasukkan Varian Delta dalam daftar Variant of Concern (VOC) pada 31 Mei 2021 karena dinilai dapat berdampak serius terhadap perkembangan pandemi global. Status VOC biasanya disematkan pada varian baru virus corona yang terkena satu atau lebih dari 3 dampak mutasi, yakni peningkatan daya transmisi, mengerek tingkat keparahan penyakit di pasien Covid-19, dan memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.


Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr. Gunadi PhD, Sp.BA yang memimpin penelitian itu mengatakan timnya menemukan bahwa 28 dari 34 sampel virus dari Kudus (82 persen) adalah Varian Delta. Ini memperkuat dugaan bahwa penularan Varian Delta turut memicu lonjakan kasus di Kudus.

"Varian Delta terbukti meningkat [sebarannya] setelah adanya transmisi antarmanusia. Dan, sudah terbukti di populasi India dan Kudus. Hal tersebut juga memperkuat hipotesis para peneliti bahwa peningkatan kasus di Kudus karena adanya [sebaran] varian Delta," kata Gunadi.

Gunadi menambahkan, timnya mempunyai hipotesis bahwa Varian Delta sudah bertransmisi secara lokal di wilayah Kudus dan sejumlah daerah lainnya.

"Bukan tidak mungkin transmisi lokal varian Delta sudah terjadi di daerah lain di Indonesia, hanya kita belum mendeteksi saja," ujar Gunadi, seperti dilansir laman Kemkes.

Dia menjelaskan, merujuk laporan riset terbaru yang diterbitkan oleh The Lancet, penularan Varian Delta berhubungan dengan usia pasien dalam hal pengaruhnya pada kekebalan tubuh.

"Semakin tua pasien COVID-19, varian Delta akan memperburuk kekebalan tubuh pasien itu," ujar Gunadi.

Varian Delta bisa memicu infeksi ulang di kalangan mantan pasien Covid-19. Artinya, kekebalan tubuh yang terbentuk secara alami setelah pasien Covid-19 sembuh bisa melemah akibat infeksi yang dipicu oleh varian ini.

Selain itu, penelitian yang sama menemukan bahwa Varian Delta bisa menurunkan daya kekebalan tubuh seseorang dengan usia lebih tua yang sudah menerima 2 dosis vaksin Covid-19.


Berdasarkan penjelasan Gunadi, terdapat 70 spesimen kasus Covid-19 dari Kudus yang diambil untuk diteliti. Dari 70 sampel itu, 37 dikirim ke UGM dan 33 sampel lainnya ke Salatiga.

"Dari 37 sampel [yang dikirim ke UGM], 34 sampel keluar hasilnya dan yang tidak keluar hasilnya ada 3," kata Gunadi.

Dia menambahkan Tim peneliti FK-KMK UGM melakukan riset WGS selama satu minggu memakai metode penerimaan viral transfer material (VTM) yang diekstraksi secepatnya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, khususnya mengetahui tingkat transmisi varian Delta di Kudus.

Lonjakan Kasus Dipicu Peningkatan Interaksi Sosial

Gunadi juga menjelaskan faktor lainnya yang diduga kuat memicu lonjakan kasus Covid-19 setelah Idul Fitri 2021 yang terjadi di banyak daerah, termasuk Kudus. Faktor tersebut adalah peningkatan interaksi sosial.

Menurut Gunadi, masifnya interaksi sosial di masyarakat dan pelanggaran protokol kesehatan saat masa libur Lebaran 2021 kemudian diikuti dengan peningkatan angka kasus baru. Penularan varian baru virus corona memperburuk keadaan itu.

"Makin tinggi interaksi sosial yang terjadi, maka peluang lonjakan kasus makin tinggi," kata dia.

Karena itu, Gunadi menyerukan agar masyarakat memperketat kembali protokol kesehatan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Perjalanan yang tidak penting, terutama jarak jauh, juga perlu diminimalisir.

"Interaksi sosial yang tinggi ditambah tidak disiplin menjalankan protokol kesehatan meningkatkan transmisi virus sehingga mendorong lonjakan kasus," dia menjelaskan.

Mobilitas masyarakat memang meningkat sejak awal Ramadhan hingga masa libur Lebaran 2021. Juru bicara Kemenkes untuk penanganan Covid-19, Siti Nadia Tarmizi mencatat ada sekitar 5-6 juta orang yang melakukan perjalanan antarkota selama masa arus mudik dan arus balik lebaran.

Mobilitas masyarakat yang meningkat itu, kata Nadia, diperparah dengan banyaknya warga yang tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan. Akibatnya, laju penularan Covid-19 meningkat.

"Kami berharap masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M [mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak], mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan. Hal ini juga berlaku bagi yang telah divaksinasi," kata dia.

"Kita harus memikirkan bukan hanya kesehatan diri kita sendiri, namun juga anggota keluarga kita yang lain dan juga tenaga kesehatan yang bekerja keras menangani pasien," tambah Nadia.

Merujuk data Satgas Penanganan Covid-19, hingga 14 Juni 2021, tercatat ada 115.197 kasus aktif di Indonesia. Jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat atau menjalani isolasi tersebut setara 6 persen dari total kasus, yang sejumlah 1.919.547.

Dalam sehari terakhir, ada 8.189 kasus baru yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara total jumlah kematian pasien Covid-19 di Indonesia sampai hari ini sudah mencapai 53.116 jiwa, dan angka kesembuhan sebanyak 1.751.234 orang.

Sementara jika melihat peta risiko penularan Covid-19, sebanyak 17 kabupaten/kota masih masuk dalam kategori zona merah. Adapun 331 kabupaten/kota berstatus zona oranye (risiko sedang).

Banner BNPB Info Lengkap Seputar Covid19
Banner BNPB. tirto.id/Fuad

Baca juga artikel terkait KASUS COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Iswara N Raditya
Penulis: Addi M Idhom

DarkLight