3 Desember 1945

Hari Bakti PU Bermula dari Pertempuran Gedung Sate di Bandung

Oleh: Irfan Teguh - 3 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pertempuran Gedung Sate adalah salah satu peristiwa yang mewarnai jalannya masa revolusi di Kota Bandung, dan mengilhami peringatan Hari Bakti PU.
tirto.id - Pada 1916, H.F. Tillema, mantan Penilik Kesehatan di Semarang, membuat studi kelayakan tentang penempatan perguruan tinggi di Hindia Belanda dan laporan tentang kota-kota di pesisir utara Jawa. Ia menilai kota-kota pantai di Jawa kurang sehat. Cuaca panas, lembab, dan dipenuhi rawa-rawa membuatnya rentan dijangkiti penyakit.

Berdasarkan laporan itu ia mengusulkan kepada pemerintah kolonial agar ibukota Hindia Belanda dipindahkan dari Batavia ke daerah pegunungan yang sejuk. Gagasan ini disambut oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johan Paul Graaf van Limburg Stirum. Selang beberapa tahun, dengan pelbagai pertimbangan, Bandung akhirnya terpilih sebagai calon ibukota baru.

Salah satu gedung yang pertama kali dibangun dalam rangka pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung adalah Gedung Sate atau dulu bernama gedung Departement Verkeer en Waterstaat (Departemen Transportasi, Pekerjaan Umum, dan Manajemen Air).

Gedung ini akan dijadikan sebagai pusat pembangunan gedung-gedung departemen dan instansi pemerintah pusat serta rumah para pegawainya. Namun, memasuki 1929, krisis ekonomi "krisis malaise" melanda dunia sehingga rencana pemindahan ibukota itu batal terwujud.



Bandung dalam Kecamuk Revolusi


Memasuki masa revolusi, saat Jepang akhirnya menyerah kepada Sekutu karena dua bom atom dijatuhkan pada awal Agustus 1945, hampir seluruh kota di Indonesia mengalami kekacauan.

Belanda masih hendak mengusai tanah jajahannya, Sekutu yang ikut terlibat dalam penertiban pasca Perang Dunia II, Jepang yang masih memegang senjata, serta para pemuda republik yang dirasuki semangat kebebasan, menciptakan situasi penuh kekerasan. Surabaya adalah contoh paling nyata dari kondisi revolusi.

Meski para pemuda pejuang Bandung sempat diolok-olok sebagai pemuda peunyeumbol oleh Arek-arek Surabaya karena dianggap lembek, tapi di kota ini juga pelbagai pertempuran sempat mewarnai.


Dalam Bandung Awal Revolusi 1945-1946 (2011), John R.W. Smail menerangkan selain berasal dari organisasi yang berdasarkan ideologis seperti Pesindo, Hizbullah, Barisan Banteng, dan lain-lain, sejumlah satuan pemuda pejuang dari instansi-instansi pemerintah, yang dibentuk sejak zaman Jepang seperti AMPTT (Angkatan Muda Pos, Telegraf, dan Telepon) dan AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) juga ikut serta dalam pelbagai pertempuran.

Situasi Bandung yang kacau saat itu, tambah Smail, dipenuhi atmosfer luar biasa yang menjalar di tiap penjuru kota. Menurutnya, minggu-minggu penuh anarki ini dapat digambarkan lewat tiga karakteristik utamanya, yakni peningkatan kepercayaan terhadap unsur magis, kecurigaan yang mendekati paranoia yang menyebar luas, serta maraknya tindak kriminal.

“Situasi ini merupakan gejolak yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam masyarakat Bandung,” tulisnya.

Sementara pasukan Inggris yang merupakan bagian dari Sekutu dan bertugas memegang kendali Bandung, meski didukung oleh ribuan pasukan infanteri dan sejumlah tank peninggalan Jepang, jelas tak mampu mengendalikan seluruh penjuru kota yang dihuni oleh hampir setengah juta orang.

Dari mula kedatangannya di Bandung, selain melalui aksi militer mereka juga kerap menempuh jalur diplomasi untuk mengosongkan kawasan pinggir kota di sebelah utara, yang akan digunakan sebagai tempat tinggal mereka dan orang sipil yang berkebangsaan Inggris, serta menarik semua orang Eropa ke wilayah itu.

Kepentingan pemuda pejuang dan tentara Inggris yang berbeda kemudian menimbulkan sejumlah pertempuran sengit. Para pemuda yang tak mau kehilangan posisinya di Bandung utara sekuat tenaga memberikan perlawanan sebelum akhirnya mundur ke selatan.

“Kebanyakan usaha ini menemui perlawanan keras dan baru pada 3 atau 4 Desember 1945 Inggris berhasil menguasai bangunan-bangunan kantor besar di Utara,” tulis Smail.


Pertempuran Gedung Sate


Pelbagai palagan di Bandung pada masa revolusi jarang dicatat dalam narasi sejarah nasional, atau kalau pun ada hanya sedikit dibahas, termasuk peristiwa Bandung Lautan Api yang gaungnya kalah dari misalnya Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa, Serangan Umum 1 Maret, dan Pertempuran Medan Area.

Meski demikian, dalam perbincangan masyarakat Bandung yang berminat pada sejarah kotanya, sejumlah pertempuran ini tetap hidup, salah satunya adalah pertempuran mempertahankan Gedung Sate.

Pada 29 November 1945, seperti dikisahkan Sudarsono Katam dalam Gedung Sate Bandung (2009), tiga orang pemuda yang berkedudukan di gedung Departement Verkeer en Waterstaat, mendatangi markas komando Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di Gang Asmi, daerah sekitar Jalan Mohammad Toha sekarang. Mereka melaporkan bahwa gedung tersebut telah dikepung tentara Inggris.

“Saya dan kawan-kawan sanggup untuk mempertahankan kantor kami. Kami datang hendak meminta izin dan minta senjata,” ujar salah seorang pemuda.


Infografik Mozaik Pertempuran Gedung Sate



Sutoko sebagai Ketua Biro Pertahanan MP3 yang mengetahui peta kekuatan Inggris di Bandung, menyarankan agar mereka mengurungkan niatnya karena bagian utara telah dikuasai tentara Sekutu dan Belanda. Ia menambahkan bahwa perlawanan sebaiknya dilakukan dari wilayah selatan yang dibatasi rel kereta api karena kekuatan pejuang republik berada di sisi selatan.

Karena tak dapat dihalangi, akhirnya Sutoko hanya memberikan revolver-nya kepada para pemuda itu, dan mereka kembali ke posisinya di Gedung Sate.

Pada 3 Desember 1945, tepat hari ini 73 tahun yang lalu, sekitar pukul 11.00 saat gedung tersebut hanya dipertahankan oleh 21 orang, pasukan Inggris datang menyerbu. Para pemuda pegawai Departemen Pekerjaan Umum (PU) yang bertahan di sana memberikan perlawanan sengit sampai sekitar pukul 14.00 meski pada akhirnya karena kekuatan tak seimbang, mereka dapat dikalahkan dan Gedung Sate jatuh ke tangan musuh.

Tujuh orang pemuda dinyatakan hilang, dan sisanya mengalami luka berat dan ringan. Mereka yang hilang itu adalah Didi Hardianto Kamarga, Suhodo, Muchtarudin, Rana, Subengat, Surjono, dan Susilo.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada Agustus 1952, atas bantuan kawan-kawan seperjuangannya, dilakukan upaya pencarian terhadap para pejuang yang hilang itu dengan melakukan penggalian di sekitar Gedung Sate. Empat kerangka pejuang ditemukan dan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cikutra, sementara sisanya tidak ditemukan.

Sebagai penghargaan kepada para pejuang dan peringatan atas peristiwa tersebut, di depan Gedung Sate dibuat monumen batu yang mengisahkan pertempuran dan nama-nama yang gugur dalam palagan tersebut. Pada setiap 3 Desember diperingati sebagai Hari Bakti PU.

Baca juga artikel terkait BANDUNG atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Irfan Teguh
Editor: Suhendra
Infografik Instagram