Hamas Serahkan Senjata Militernya di Bawah Kendali Palestina

Oleh: Yuliana Ratnasari - 26 Oktober 2017
Yehya Sinwar mengatakan bahwa senjata sayap militer Hamas harus digunakan untuk melawan Israel, bukan untuk menyalakan konflik internal Palestina.
tirto.id - Kepala gerakan perlawanan Islam (Hamas), Selasa (24/10/2017), Yehya Sinwar menyatakan tidak akan membongkar sayap militernya. Namun dia menambahkan bahwa senjata Hamas akan tunduk pada otoritas Organisasi Pembebasan Palestina, sebuah organisasi yang didominasi oleh kelompok Fatah.

"Sebagai sebuah bangsa, kita masih dalam upaya pembebasan nasional, dan kita tidak dapat menyerahkan senjata kita," kata Sinwar seperti dikutip kantor berita Palestina Ma'an, sebelum menambahkan: "Senjata kita harus berada di bawah payung Organisasi Pembebasan Palestina."

"Senjata Brigade Qassam [sayap militer Hamas] dimiliki oleh orang-orang Palestina," dan dimaksudkan “untuk digunakan sebagai upaya pembebasan, dan bukan untuk konflik internal," kata Sinwar, sebagaimana dilansir Times of Israel.

Ia juga menambahkan bahwa Otoritas Palestina akan bertanggung jawab atas semua penyeberangan perbatasan Jalur Gaza pada siang hari tanggal 31 Oktober.

Kelompok tersebut telah menyatakan minatnya untuk menyatukan upaya militer di bawah kelompok payung Palestina, jika Fatah dapat menyusun kembali strategi perjuangan bersenjata melawan Israel.

Hamas telah mendapat tekanan untuk melepaskan senjatanya sejak perundingan rekonsiliasi diumumkan pada September. Kamis (19/10/2017) lalu, Sinwar mengesampingkan tuntutan untuk menyerahkan kendali atas angkatan bersenjata 25.000 orang dan persenjataannya, dengan mengatakan: "Melucuti kita adalah seperti setan yang mengimpikan surga. Tidak ada yang bisa melepaskan senjata kita. "

Pernyataan yang dikemukakan pada Selasa ini sedikit menyimpang dari posisinya sebelumnya.

Sinwar juga mengatakan bahwa Hamas akan "membakar semua jembatan" yang mengarah ke kesepakatan rekonsiliasi. "Agar kita tidak mundur darinya. Rekonsiliasi nasional harus dilakukan," tegasnya.

Komentar itu juga tampak berubah dari pernyataannya pekan lalu bahwa perundingan bisa runtuh. "Ada bahaya bagi proyek rekonsiliasi," Sinwar mengatakan pada Kamis lalu, meski dia tidak menjelaskannya.

Namun, pernyataan terbaru Sinwar bisa jadi merupakan tanda tekanan yang tengah dihadapi kelompok tersebut sejak menandatangani kesepakatan di Kairo. Kesepakatan ini akan mengembalikan kekuasaan Gaza pada otoritas Palestina yang sebelumnya direbut oleh Hamas dalam konflik kekerasan.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL PALESTINA atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari
DarkLight