Menuju konten utama

Grammy Awards 2018 Diwarnai Aksi Politis: #MeToo & Hillary Clinton

Hillary Clinton juga ikut membuat cameo dalam tayangan sketsa di Grammy Awards 2018, menyindir Trump.

Grammy Awards 2018 Diwarnai Aksi Politis: #MeToo & Hillary Clinton
Hillary Clinton tersenyum dan mengedipkan mata kepada seseorang yang ia kenal saat berada di atas podium membahas buku terbarunya 'What Happened', Senin (18/9/2017). ANTARA FOTO/REUTERS/Jonathan Ernst

tirto.id - Bruno Mars memborong pulang piala Grammy Awards ke-60 pada Senin (29/1/2018) pagi waktu Indonesia. 24K Magic memenangkan kategori Album Tahun Ini dan Rekaman Tahun ini, sementara "That's What I Like" dinobatkan sebagai Lagi Tahun Ini.

Bruno Mars menyapu enam penghargaan total, diikuti oleh Kendrick Lamar dengan lima kemenangan.

Selain pertunjukan yang meriah, malam penghargaan musik ini juga menampilkan aksi kejutan yang tak lepas dari isu politik.

Tampil membuka acara, Kendrick Lamar mendapat tepuk tangan meriah. Dia membawakan lagu-lagunya yang kuat, didukung oleh bendera Amerika raksasa, dan para penari yang ambruk mendengar suara tembakan.

"Saya hanya ingin mengingatkan penonton bahwa satu-satunya hal yang lebih menakutkan daripada menyaksikan orang kulit hitam bersikap jujur di Amerika, adalah menjadi pria kulit hitam yang jujur di Amerika," kata Chappelle saat mengantar penampilan Lamar, seperti dikutip CNN.

Hillary Clinton juga ikut membuat cameo dalam tayangan sketsa bersama Cher, Snoop Dogg, Cardi B dan yang lainnya berpura-pura audisi merekam versi audio buku populer Michael Wolff berjudul Fire and Fury tentang tahun pertama Presiden Trump menjabat. Clinton membaca kutipan tentang kecintaan Trump terhadap makanan cepat saji.

Terinspirasi dari gaun hitam dan #TimesUp di Golden Globes tahun ini, sejumlah musisi juga menginisiasi gerakan serupa #MeToo dengan melekatkan mawar putih di Grammy Awards 2018 sebagai simbol kesetaraan.

Para musisi termasuk Pink, Cyndi Lauper, Slick Rick, Lil Uzi Vert, Zayn Malik, Meghan Trainor, Fat Joe, Fergie, Remy Ma, India.Arie, Carly Rae Jepson, Khalid, Kelly Clarkson, Halsey, Dua Lipa dan Rita Ora menandatangani surat dukungan resmi dari gerakan #whiterose itu.

"Terinspirasi dengan kampanye #TimesUp, malam ini kami berdiri bersama saudara-saudara dalam musik untuk mendukung kesetaraan di tempat kerja," tulis mereka dalam surat tersebut. Mawar putih dipilih sebagai simbol "harapan, perdamaian, simpati dan pertahanan."

Sementara itu, penyanyi Joy Villa tampil beda dalam perhelatan Grammy Awards 2018. Dia mengenakan gaun pengantin putih dengan lukisan janin yang dikelilingi pelangi sebagai simbol kehidupan.

"Aku wanita yang pro-kehidupan. Tahun ini aku memilih membuat pernyataan di karpet merah, seperti yang selalu kulakukan," ujar dia kepada Fox News.

Penyanyi pop Kesha juga mendapat sorotan saat memberikan penampilan emosionalnya menyanyikan lagu “Praying” di atas panggung Grammy.

Penyanyi tersebut telah terikat dalam pertempuran hukum yang panjang dengan produser Dr. Luke. Kesha menuding Dr. Luke telah membius, menganiaya secara emosional, dan melakukan kekerasan secara seksual.

Penyanyi dan aktor Janelle Monae, yang mengenalkan Kesha di atas panggung, memberikan peringatan keras atas pelecehan seksual dan ketidaksetaraan gender dalam hiburan dan lintas industri.

Musisi rap Logic tampil membawakan lagu pencegahan bunuh diri "1-800-273-8255." Ia juga menyampaikan dorongan untuk wanita, korban penganiayaan, dan imigran.

"Atas nama orang-orang yang memperjuangkan persamaan di dunia yang tidak sama dan tidak siap untuk perubahan yang akan kita bawa, saya katakan kepada Anda: Bawa pada kami para imigran yang mencari perlindungan. Sebab bersama kita bisa membangun, bukan hanya negara yang lebih baik, tapi dunia yang ditakdirkan untuk bersatu," kata dia.

Logic bukan satu-satunya penampil Grammy yang berbicara untuk para imigran. Penyanyi Camila Cabello, seorang imigran Kuba, memberikan penghormatan kepada imigran muda atau Dreamers yang tengah menungggu undang-undang imigrasi.

"Negara ini dibangun oleh pemimpi, untuk pemimpi yang mengejar impian Amerika," kata Cabello.

Eric Church, Maren Morris, dan Brothers Osborne menampilkan "Tears in Heaven." Penampilan ini menjadi bentuk penghormatan kepada penggemar musik yang kehilangan nyawa mereka selama serangan di Festival Panen Route 91 pada bulan Oktober dan konser Arianna Grande di Manchester, Inggris pada bulan Mei lalu.

Baca juga artikel terkait GRAMMY AWARDS 2018 atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Musik
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari