Menuju konten utama

GoPay di Google Play: Strategi si Raksasa Agar Tetap Berjaya

GoPay menjadi alat pembayaran baru di Google Play.

GoPay di Google Play: Strategi si Raksasa Agar Tetap Berjaya
Logo GOPAY for GOOD. ANTARA News/Natisha Andarningtyas

tirto.id - GoPay, dompet digital milik Gojek, resmi menjadi alat pembayaran toko aplikasi Android Google Play. “Kolaborasi Google Play [dengan GoPay] merupakan yang pertama dengan platform uang elektronik di Indonesia,” kata Timothius Martin, SVP Digital Product GoPay.

Kerjasama ini melengkapi opsi pembayaran yang sebelumnya hanya bisa dilakukan dengan kartu kredit atau dengan voucher khusus.

Soal opsi pembayaran, warganet Indonesia seakan tidak memiliki banyak pilihan, khususnya untuk bertransaksi pada Google Play. Jumlah kepemilikan rekening di Indonesia terhitung kecil, kalah dibandingkan jumlah kepemilikan ponsel pintar (dengan memperhitungkan kemungkinan bahwa satu orang warga memiliki beberapa rekening maupun ponsel pintar). Pada 2013, jumlah rekening bank lebih banyak daripada jumlah kepemilikan ponsel pintar. Kala itu, ada sekitar 150 juta rekening bank, tetapi baru ada sekitar 50 juta ponsel pintar aktif di Indonesia. Pada 2017, kondisi terbalik terjadi. Ada hampir 300 juta ponsel pintar aktif. Di sisi lain, jumlah rekening bank tak sampai 250 juta rekening.

Hingga kini, hampir 150 juta warga Indonesia merupakan pengguna internet. Dari jumlah itu, 90 persen di antaranya mengakses internet via ponsel pintar. Dan dari angka tersebut, 91 persen jenis ponsel pintar yang digunakan ialah Android.

GoPay sendiri merupakan dompet digital yang memiliki popularitas tinggi di Indonesia. Pada September 2017, Nadiem Makarim, pendiri Gojek, mengatakan 50-60 persen pengguna Gojek (sebagai ojek online), menggunakan GoPay untuk melakukan pembayaran. Tiga bulan kemudian, tepatnya pada 20 Desember 2017, Nadiem mengklaim GoPay menyumbang 30 persen dari total transaksi uang elektronik di Indonesia.

Bila melihat dari sisi volume, saat itu ada 104,47 juta transaksi uang elektronik di Indonesia. Jika klaim Nadiem dikonversi, artinya GoPay menyumbang 31,34 juta transaksi uang elektronik Indonesia. Padahal, ada 32 penerbit uang elektronik lain yang beroperasi di Indonesia berdasarkan data Bank Indonesia. GoPay bisa dibilang sebagai salah satu pemimpin pasar segmen ini.

Selain itu, Gojek via Timothius mengklaim bahwa GoPay sebagai uang elektronik yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Pernyataan itu ia ambil dari tiga penelitian independen, yakni FT Confidential Research Mobile Payment, DailySocial dan OJK, serta YouGov.

Studi lainnya, yang termaktub dalam “Mobile Payments in Indonesia: Race to Big Data Domination” yang dirilis MDI dan Mandiri Sekuritas”, menyebut GoPay, pada 2017 lalu, dimiliki oleh 10 juta pengguna.

Artinya, kerjasama Google Play dan GoPay merupakan aksi bisnis yang pas. Menggabungkan kekuatan Android dengan GoPay yang sama-sama besar di Indonesia.

Namun, GoPay tak bermain sendirian di Indonesia. Google sesungguhnya punya pilihan lain yang juga populer: OVO, dompet digital yang dikendalikan Lippo Group. Bahkan, menurut Snapcart, OVO-lah penguasa dompet digital di Indonesia. Dalam sebuah riset yang menanyai 1.800 responden, sebagaimana diwartakan Jakarta Globe, 58 persen menyatakan bahwa OVO merupakan alat pembayaran yang paling favorit digunakan dibandingkan nama-nama lainnya.

Eko Wicaksono, Country Sales and Operator Officer Snapcart Indonesia, menyatakan “data menunjukkan penggunaan uang elektronik dalam transaksi sehari-hari, seperti untuk transportasi, layanan pesan antar, dan berbelanja.”

OVO merupakan dompet digital yang dapat digunakan bertransaksi pada Grab, pesaing terbesar Gojek, dalam memperebutkan uang sebesar $29 miliar, sebagai nilai bisnis ride-sharing Asia Tenggara. Mereka mengklaim ada 500 ribu merchant yang menerima pembayaran via OVO, unggul dari GoPay yang baru 300 ribu merchant.

Masih merujuk pemberitaan Jakarta Globe, media yang juga dimiliki Lippo Group, OVO disebut Morgan Stanley, bank investasi global, diprediksi akan memproses transaksi senilai $50 miliar uang digital pada 2027 kelak.

Selain OVO, Google sesungguhnya dapat menggandeng pemain lain di Indonesia yang jumlahnya banyak. Pembayaran digital di Indonesia dimulai sejak 2007, sejak diluncurkannya T Cash dari Telkomsel. Lalu, muncullah pemain-pemain lain. Sebut saja Dompetku, XL Tunai, BBM Money (atau DANA), Uangku, Sakuku, hingga yang paling baru, LinkAja.

Jika banyak pemain e-money atau dompet digital diajak Google, tentu pengguna akan lebih punya banyak pilihan. Namun, ada alasan mengapa GoPay yang dipakai. Alasan itu ialah keinginan Google menjadi raja sebenarnya dunia digital. Khususnya, raja yang menggenggam startup utama di seluruh dunia.

Google, Raksasa yang Ingin Mempertahankan Tahta

Tak bisa dipungkiri, Google adalah raksasa teknologi. Melalui Android, sistem operasi mobile yang dimilikinya, Google dapat memaksakan keunggulannya: menjadikan Gmail sebagai aplikasi e-mail utama, menjadikan Google Maps sebagai pilihan terdepan soal navigasi, ataupun menjadikan Youtube sebagai platform hiburan terfavorit. Namun, di tengah gelombang “wirausahawan digital,” perusahaan-perusahaan lain merangsek. Di ranah ride-sharing, misalnya.

Tidak ada aplikasi asli Google untuk segmen ride-sharing yang dapat mereka paksakan untuk digunakan untuk masyarakat. Meski demikian, perlu diingat juga bahwa Google punya kekuatan yang signifikan dalam dunia ride-sharing, yakni Google Maps.

Kerja aplikasi ride-sharing dilakukan secara otomatis, memanfaatkan algoritma yang telah dirancang khusus. Suatu pesanan dihubungkan dengan pengemudi berdasarkan jarak antara keduanya. Pengguna yang memesan ride-sharing di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan akan dihubungkan oleh sistem dengan sopir ride-sharing yang ada di wilayah sekitar. Cara kerja ini menitikberatkan pada layanan navigasi atau perpetaan yang akurat. Google Maps berperan vital penting di sini.

Hampir semua aplikasi ride-sharing, baik Uber, Grab, hingga Gojek, memanfaatkan Google Maps sebagai alat navigasi utama mereka. Selain digunakan memetakan lokasi pengguna dan pengemudi, Google Maps pun digunakan untuk menentukan jarak tempuh dan petunjuk turn-by-turn ke lokasi tujuan pemesan.

Layanan Google Maps tak gratis, setidaknya untuk kepentingan bisnis. Seperti dipacak laman resmi google, permintaan penggunaan layanan Google Maps menggunakan aplication programming interface tak dikenai biaya jika hanya sampai 2.500 permintaan. Namun, untuk setiap kelebihan 1.000 permintaan, ada harga $0,5.

Artinya, Google sesungguhnya mendulang untung yang tak sedikit dari ride-sharing. Namun, ini tidak cukup. Sebagai raksasa, mereka ingin berkuasa. Lalu, bekerjasamalah raksasa ini dengan beberapa investor lainnya, untuk masuk dalam daftar investor Gojek di fase pertama putaran pendanaan seri F.

Gojek memang lahir sebagai perusahaan teknologi penyedia transportasi. Namun, seiring berjalannya waktu, Gojek mendaulat diri sebagai perusahaan teknologi, menjadi payung dari serbaneka layanan. GoPay adalah salah satu layanan milik Gojek yang paling bersinar, mensinergikan semua layanannya. Tak hanya itu, GoPay pun dapat digunakan di luar ekosistem Gojek. Digunakan untuk bertransaksi di Alfamart, misalnya.

Kebetulan, Google pun tak memiliki kekuatan di segmen pembayaran digital. Di Indonesia saja, pasar pembayaran digital, merujuk data Statista, berada di angka $32,4 miliar. Wajar belaka jika Google, yang telah menjadi investor Gojek, hendak membidik peluang menjadi pemenang di segmen ini. Cara termudahnya, jelas melalui GoPay.

Baca juga artikel terkait GOOGLE atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Bisnis
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani