Gender Ketiga di Jerman Jadi Identitas Resmi Akta Kelahiran & SIM

Oleh: Yulaika Ramadhani - 2 Januari 2019
Orang yang tidak cocok dengan definisi biologis pria atau wanita sekarang dapat memilih kategori "diverse" [beragam] pada dokumen resmi.
tirto.id - Pemerintah Jerman menerapkan gender ketiga sebagai identitas resmi bagi orang-orang yang terlahir interseks atau tidak berjenis kelamin laki-laki dan ataupun perempuan. Gender ketiga tersebut berguna untuk melengkapi dokumen-dokumen resmi yang memungkinkan seseorang didaftarkan sebagai interseks, termasuk akta kelahiran dan SIM.

Hal ini sesuai dengan undang-undang baru Jerman yang diresmikan sejak Desember. Undang-undang tersebut menyatakan orang yang tidak cocok dengan definisi biologis pria atau wanita sekarang dapat memilih kategori "diverse" [beragam] pada dokumen resmi.

Sebagaimana dilansir Independent, mereka yang memilih opsi interseks tersebut sebelumnya akan memerlukan sertifikat dokter untuk mendaftar.

Orang interseks dilahirkan dengan karakteristik seks pria sekaligus wanita yang dapat muncul saat lahir atau di kemudian hari.


PBB mengatakan hingga 1,7 persen populasi dunia terlahir dengan sifat interseks yaitu sekitar jumlah individu yang sama dengan rambut merah.

Putusan tersebut mengikuti sidang banding pengadilan yang diajukan oleh sejumlah orang interseks dan mengatakan pengadilan dan otoritas negara tidak boleh lagi memaksa orang interseks untuk memilih antara mengidentifikasi sebagai pria atau wanita.

Negara-negara lain telah menyetujui undang-undang untuk membantu mengenali orang-orang interseks dalam beberapa tahun terakhir - dengan pengadilan konstitusi Austria membuat keputusan yang sama dengan Jerman pada Juni. India, Australia, Selandia Baru, Malta, dan Kanada semuanya telah lulus langkah-langkah untuk memperbaiki masalah yang dihadapi warga interseks.

Dilansir BBC, pada 2013, Jerman juga menjadi negara Eropa pertama yang mengakui hubungan seks tak tentu dengan mengizinkan bayi yang lahir tanpa anatomi penentu gender untuk dimasukkan dalam daftar kelahiran tanpa klasifikasi pria atau wanita.



Baca juga artikel terkait GENDER atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Yulaika Ramadhani