Gagal Menjadi Maradona

Oleh: Iswara N Raditya - 1 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Sama-sama berasal dari Argentina dan menjadi idola suporter Napoli, Gonzalo Higuain dipastikan gagal mengikuti jejak emas seniornya, Diego Armando Maradona. Berbanding terbalik dengan sang legenda, kepindahan Higuain ke Juventus menyulut amarah penduduk Naples.
tirto.id - Pada 23 Juli 2016 lalu, sebagian besar suporter Napoli berkumpul di pusat Kota Naples, Italia. Mereka kecewa sekaligus murka setelah mendengar kabar bahwa Gonzalo Higuain bakal segera pindah ke klub rival, Juventus.

Tak hanya menyerukan aksi protes, para tifosi Napoli juga beramai-ramai merobek foto serta membakar jersey Higuain. Bahkan, ada suporter yang memasukkan seragam mantan idola mereka itu ke dalam kloset sebagai bentuk kebencian dan rasa sakit yang mendalam atas nama pengkhianatan.

"Kami sangat marah. Higuain lebih dari seorang pemain, dia adalah simbol klub. Tapi sekarang dia mengkhianati kami tanpa berpikir dua kali. Maradona tak akan pernah melakukannya!" tukas salah satu tifosi Napoli, Enzo D'Aniello, seperti dilaporkan ANSA.

Nama Maradona disinggung karena mantan bintang sepakbola Argentina itu adalah pahlawan sejati bagi Napoli. Higuain, yang sempat disebut-sebut sebagai salah satu titisan Maradona, ternyata gagal melanjutkan peran sang legenda dan kini justru menjadi musuh bersama warga Naples.

Termahal di Italia, Ketiga di Dunia

Higuain resmi menyeberang ke Turin pada 26 Juli 2016. Juventus harus membayar 90 juta euro atau sekitar 1,3 triliun rupiah untuk mengangkutnya dari San Paolo. Di klub jawara Liga Italia Seri A itu, Higuain diikat selama 5 tahun dan akan menerima gaji sebesar 7,5 juta euro atau lebih dari 109 miliar rupiah per musim.

Status pemain termahal di Italia dan ketiga sejagat pun tersemat pada diri Higuain. Adapun nilai transfer paling tinggi masih disandang oleh winger Wales, Gareth Bale, yang dibeli Real Madrid dari Tottenham Hotspur sebesar 100,8 juta euro pada 2013. Di urutan kedua ada bintang Portugal, Cristiano Ronaldo, yang diboyong El Real dari Manchester United pada 2009 dengan tebusan 94 juta euro.

Higuain rasanya pantas dihargai selangit. Sejak didaratkan dari Real Madrid pada Juli 2013, ia langsung menjadi tumpuan Napoli dalam urusan mencetak gol. Pemain berjuluk El Pipita ini membukukan 25 gol pada semua ajang yang diikuti Partenopei di musim perdananya. Ia berperan besar dalam mengantarkan Napoli menempati urutan tiga di klasemen akhir Liga Italia Serie A musim 2013/2014.

Musim kedua di Naples pun diselesaikannya dengan torehan 27 gol meskipun Napoli harus mengakhiri musim 2014/2015 di posisi ke-5. Selanjutnya di musim 2015/2016, Higuain sukses mengukir 38 gol yang menjadikannya sebagai top skor Serie A musim itu. Napoli pun tampil apik dan menempati posisi kedua di bawah Juventus pada akhir musim.

Selama tiga musim di Napoli, Higuain telah membukukan total 90 gol. Kini, pertaruhan menanti El Pipita. Berpredikat sebagai pesepakbola berharga paling tinggi ketiga di dunia dan nomor satu termahal di Italia tentunya menjadi ujian atas konsistensi Higuain saat berkarier di Juventus nanti.



Musuh Bersama Kota Naples

Presiden Klub Napoli, Aurelio De Laurentiis, sebenarnya sudah sekuat tenaga mempertahankan Higuain. Tidak ada klub yang bisa memboyong pemain berusia 28 tahun itu kecuali ada yang bersedia menebus release clause yang memang tertera dalam kontraknya sebesar 90 juta euro. Sialnya, Juventus ternyata mau dan sanggup memenuhinya.

De Laurentiis pun amat murka dan menyebut Higuain sebagai pengkhianat. "Ada yang percaya pengkhianatan adalah sesuatu yang dilebih-lebihkan, tapi saya berpikir sebaliknya. Ini adalah arti sepenuhnya tentang sebuah pengkhianatan dan rasa tidak tahu terima kasih!” demikian gelegar kemarahan sang presiden seperti dilansir Corriere dello Sport.

Higuain boleh jadi bakal kena teror saat ia bersama Juventus bertandang ke markas Napoli, Stadion San Paolo, di musim 2016/2017 nanti. Kembali ke stadion di mana namanya pernah dielu-elukan, sambutan tidak ramah dari tifosi tuan rumah dipastikan bakal menerpa El Pipita.

Hari itu baru akan tiba pada 22 April 2017 di mana Juventus menyambangi Napoli di putaran kedua Serie A. Di putaran pertama, La Vecchia Signora yang terlebih dulu menjamu Napoli di Turin pada 30 Oktober 2016. Publik Naples pastinya sudah bersiap menyambut kembalinya sang mantan idola yang kali ini datang dari kubu lawan.

Higuain semestinya sudah siap dengan segala kemungkinan dan risiko tersebut saat ia memutuskan bergabung dengan Juventus. Higuain harus tabah jika mendapatkan perlakuan seperti yang pernah diterima oleh orang-orang yang menempuh jalan “khianat” seperti dirinya.

Salah satu contoh di masa lalu adalah kasus Luis Figo yang dihujani kecam, bahkan dilempar kepala babi oleh suporter Barcelona, setelah ia membelot dan beralih pihak ke kubu musuh bebuyutan, Real Madrid, pada musim 2000/2001.

Juga apa yang dialami kapten Tottenham Hotspur, Sol Campbell, di musim 2001/2002 silam. Salah satu bek tertangguh yang pernah dipunyai Inggris itu dicerca sebagai Judas oleh seisi Stadion White Hart Lane karena menyeberang ke klub tetangga sekaligus rival sekota, Arsenal.

Karena Higuain Bukan Maradona

Menyebut Higuain sebagai penerus Maradona di Napoli sejatinya tidak berlebihan sebelum keputusannya pindah ke Juventus. Negara asal yang sama dan peran kedua bintang Argentina itu bagi Napoli memang krusial meskipun pada akhirnya berakhir dengan ending yang bertolak belakang.

Maradona didatangkan Napoli dari Barcelona pada musim 1984/1985 dengan harga 6,9 juta poundsterling yang memecahkan rekor transfer termahal saat itu. Selama di Naples, sang megabintang mempersembahkan 88 gol dalam 7 musim. Namun, torehan gol Higuain ternyata jauh lebih baik, yakni 71 gol di Serie A, atau total 90 gol di seluruh ajang yang dilakukannya hanya dalam 3 musim.

Jika Higuain hengkang dari Napoli dengan meninggalkan luka dan amarah, tidak demikian dengan Maradona. Sang legenda pergi dengan damai. Di penghujung era emasnya sebagai pesepakbola di usia 32 tahun, Maradona ke Spanyol pada musim 1992/1993 untuk bergabung dengan Sevilla.

Kejayaan salah satu olahragawan terbaik sepanjang masa itu pun mulai meredup setelah lepas dari Napoli. Di Sevilla, Maradona cuma bertahan satu musim dan mengalami penurunan performa karena hanya mampu mencetak 5 gol dari 26 penampilan.

Setelah itu, ia pulang ke Argentina dan memperkuat Newell's Old Boys tanpa bisa melesakkan sebiji gol pun dalam 5 laga. Karier Maradona sebagai pesepakbola benar-benar pungkas pada 1997 bersama klub profesional pertamanya, Boca Juniors, di mana ia sempat membukukan 7 gol dari 30 pertandingan, sebelum akhirnya gantung sepatu.

Bagi tifosi Napoli, Maradona ibarat dewa sepakbola mereka. “Maradona kami, yang akan memasuki lapangan, terpujilah namamu, kerajaanmu adalah Napoli, jangan bawa kami ke dalam kekecewaan, tetapi berikanlah kami gelar juara. Amin,” begitu puja-puji warga Naples untuk sang idola yang kerap dipanjatkan ketika itu.

Maradona berandil penting dalam mengantarkan Napoli meraih kampiun Serie A. Dua kali ia membawa tim berkostum biru langit tersebut merengkuh scudetto, yakni pada musim 1986/1987 dan 1989/1990. Saat itu, rival terberat Napoli juga Juventus, klub yang kini dihuni Higuain.

Berbanding terbalik dengan Higuain yang kini menjadi musuh bersama dan dicap sebagai pengkhianat, nama Maradona masih sangat harum bagi warga Naples sampai kapanpun. Lantas, apa kata sang legenda mengenai aksi “pembelotan” Higuain tersebut?

Melalui laman sosial medianya, sang legenda berucap, "Ini membuat saya sakit. Tapi kita juga tak bisa menyalahkan dia (Higuain). Orang yang tersenyum paling lebar dalam perkara ini adalah kucing-kucing gemuk yang berbisnis. Tidak pernah ada yang memikirkan perasaan suporter.”

Sepakbola memang ibarat politik. Yang semula kawan, bisa menjadi lawan. Yang awalnya menuai puji, di lain waktu justru menjadi musuh yang paling dibenci. Yang mulanya dianggap pahlawan, kini menjadi orang yang wajib dilawan dengan segenap rasa dendam.

Uang dan ambisi yang dikemas dalam bungkus profesionalisme memang tidak selalu selaras dengan kata hati dan dedikasi. Tak heran jika Presiden Napoli, De Laurentiis, berkata, “Di sepakbola yang kejam ini, sama sekali tidak ada rasa hormat untuk perasaan.”

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti