Gadis-Gadis di Pameran Mobil, antara Seksisme dan Bisnis

Infografik Pemanis di Pameran
Model berpose di mobil Baleno hatchback di stan mobil Suzuki pada GIIAS 2017 di ICE, BSD City, Tangerang, Kamis (10/8). tirto.id/Arimacs Wilander
Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 16 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
"Tentu saja model bisa ditugaskan menjelaskan produk, tapi kami tidak ingin membuat pelecehan dengan memajang usher perempuan," kata Head of Toyota Motor Europe Johan van Zyl.
tirto.id - Mereka biasanya berdiri di samping mobil atau motor sambil melempar senyuman atau menyapa ramah kepada para pengunjung. Usher identik sebagai perempuan dengan penampilan dan busana menarik, yang jadi pemandangan umum saat pagelaran pameran mobil dan motor dihelat.

Keberadaan usher sering menghiasi ajang pameran mobil seperti Geneva Motor Show, Tokyo Motor Show, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) dan lainnya. Dalam The News Wheel sebuah artikel berjudul "Why Do Women Models Pose Beside Cars at Auto Shows" mengungkapkan adanya para usher harapannya jadi daya tarik pengunjung pameran.

Para pengunjung pria biasanya mengambil foto usher bersama produk mobil atau sepeda motor. Foto-foto itu kemudian tersebar melalui media sosial, sehingga publik lebih cepat mengenali kehadiran produk kendaraan baru. Survei yang dilakukan terhadap pengunjung Brussels Motor Show sejak 2007 hingga 2015 yang dirilis www.autosalon.be menunjukkan, jumlah pengunjung pameran mobil memang didominasi pria, dengan porsi rata-rata 82 persen, sisanya perempuan.

Usher sering dianggap sebagai "pemanis" pada perhelatan pameran mobil. Namun, untuk menjadi usher, butuh serangkaian tes sebelum akhirnya terpilih. Para usher biasanya dikelola oleh agensi yang juga mengelola sales promotion girl (SPG). Para klien usher atau SPG adalah peserta pameran, meliputi agen pemegang merek (APM) hingga produsen komponen otomotif.

Di Indonesia, usher menjadi bisnis yang dikelola oleh agensi. Pihak agensi mengelompokkan para usher dalam beberapa kriteria antara lain aspek fisik mencakup kecantikan, tinggi badan, dan yang penting juga adalah kecerdasan. Kelompok A umumnya mereka punya tinggi badan sekitar 170 cm ke atas, kulit bersih, dan punya pengetahuan luas. Selain itu ada kategori B, C, dan yang terendah D.

“Pengelompokan itu yang paling utama dilihat fisik ya. Kelompok A itu tinggi minimal 170 cm, lalu fasih Bahasa Inggris atau bahasa asing lain. Kelompok A ini biasanya untuk launching (produk otomotif), kalau di GIIAS ada di produk mobil Eropa atau Lexus,” kata perwakilan agensi penyedia usher dan SPG, Anggarino kepada Tirto.

Sedangkan, untuk kelas B tinggi minimal 165 cm, tidak harus bisa bahasa asing. Di pameran otomotif kebanyakan yang bertugas adalah usher yang punya kemampuan kelas A dan B. Klasifikasi tersebut turut membedakan bayaran yang diterima para usher. Mereka yang ada di kategori A dibayar lebih mahal dibandingkan kelompok di bawahnya.


Anggarino punya gambaran bagaimana para usher di pameran mobil bisa mendapatkan bayaran mulai dari Rp900 ribu sampai Rp1,5 juta per hari. “Kerjanya itu per shift, enam jam per shift. Di kategori A itu ada yang long shift dari pagi sampai malam, jadi bayarannya dua kali lipat,” katanya.

Syafira, 24 tahun, salah satu usher mengisahkan bagaimana enaknya menjadi usher kelas atas. Selain bayaran mahal, klien pun memberikan jamuan istimewa. “Aku sudah merasakan beberapa tempat (brand mobil) di GIIAS. Paling enak ya di Lexus ini. Penginapan disediakan, di hotel itu waktu pertama datang dikasih surprise gitu, isinya produk perawatan tubuh. Kita diperlakukan sangat baik. Enggak berdiri terus, dikasih waktu duduk jadi penerima tamu, makanya enggak begitu capek,” ujar Syafira kepada Tirto.

Ada beberapa usher yang masih berstatus mahasiswi. Perempuan muda di usia 19-24 tahun umumnya lebih disukai klien. “Jadi usher sudah tiga tahunan sejak masih kuliah. Sekarang baru lulus,” kata Cindy, 23 tahun, yang berpose di area booth Suzuki di GIIAS 2018.


Besarnya pendapatan menjadi usher akhirnya mendorong para perempuan menjadikannya sebagai profesi utama. Namun, para usher tak hanya cukup modal fisik, tapi perlu wawasan yang luas. “Ada interview dulu sebelum kerja. Ditanya pengetahuan soal otomotif. Klien juga kasih materi product knowledge supaya kita bisa jawab kalau ada pengunjung yang tanya,” kata Cindy.

Para usher pun dibekali pelatihan berlenggak-lenggok layaknya model. “Training product diberikan di hari pertama. Selanjutnya ada pelatihan manner, kita juga diajari catwalk. Itu penting apalagi kalau terpilih ikut miss GIIAS,” jelas Syafira.

Salah satu pencapaian bergengsi yang bisa didapatkan usher di pameran otomotif biasanya gelar “miss auto show”—penghargaan untuk usher terbaik, berdasarkan penilaian sikap, penampilan, dan wawasan. Selain penghargaan, peraih miss auto show jamak mendapat bonus dari klien.

Namun, ada kekeliruan tentang pandangan mengenai usher dan SPG yang selama ini dianggap sama. Pada kenyataannya, dua pekerjaan itu berbeda dari segi tugas dan kriteria.


Usher tidak ditugaskan menjual atau menawarkan produk dari klien yang mempekerjakan. Sementara, SPG ditugaskan menjual produk dengan target tertentu. “Usher itu hanya mempercantik saja. Dia tugasnya hanya untuk menarik (pengunjung). Kalau SPG berjualan, bahkan ditargetkan. Usher itu biasanya kelas A atau B, kelas C dan D untuk SPG. Tapi, ada juga brand yang mau SPG dari kelas B,” kata Anggarino.

Ia menegaskan profesi usher dan SPG tidak bisa dikonotasikan negatif dan dipandang sebelah mata. Mereka melakukan pekerjaannya secara profesional. Pandangan minor soal para usher dan SPG di pameran mobil memang tak bisa dipungkiri.

“Mereka itu (usher dan SPG) bekerja untuk mencari tambahan penghasilan, khususnya yang mahasiswa. Mereka mau cari uang untuk jajan, bantu orangtua, jalan-jalan. Jangan dipikir usher terutama kategori A dan B itu bisa ‘dibayar’ karena mereka itu latar belakangnya orang mampu," jelasnya.





Mereka yang Kontra

Keberadaan para usher di kegiatan dunia otomotif seperti pameran dan balap mobil dan motor sempat menjadi pro dan kontra. Salah satunya gerakan #MeToo, sebagai aksi melawan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan yang bergaung sejak 2017.

Susie Wolff, mantan pembalap mobil profesional yang kini menjabat sebagai anggota pengembangan pembalap di tim Formula 1 Wiilliam Racing merasa jengah melihat eksploitasi tubuh perempuan di ranah balap. Ia pun mengarahkan timnya untuk berhenti menggunakan model seksi sebagai "umbrella girl" sebelum balapan dimulai. "Saya pikir kami membuat perubahan dalam hal positif," ujar Wolff dikutip dari New York Post.

Menanggapi gerakan #MeToo, beberapa peserta Geneva Motor Show 2018 pun memberikan busana lebih tertutup untuk para usher. Seperti disebut dalam tulisan New York Post bertajuk "#MeToo Has Execs Questioning About 'Car Girl' on Auto Shows", Toyota dan Rolls Royce meniadakan sosok usher perempuan di booth pameran. Kedua merek ini sepakat mengedepankan edukasi kepada pengunjung, ketimbang menyodorkan perempuan seksi yang menarik untuk dipandang dan dipotret.

"Tentu saja model bisa ditugaskan (menjelaskan produk), tapi kami tidak ingin membuat pelecehan dengan memajang (usher) perempuan. Itu bukan nilai yang dipegang perusahaan kami dan bukan itu yang kami inginkan," jelas Head of Toyota Motor Europe Johan van Zyl.



Belum semua peserta pameran otomotif mau melepaskan hasrat ketergantungan pada perempuan dengan penampilan menarik sebagai pemanis di pameran. Koordinator Bidang Pelayanan Hukum LBH Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK) Uli Pangaribuan mengatakan saat perusahaan mobil atau motor bertujuan menjual produk, seharusnya tidak perlu menggunakan jasa para perempuan sebagai pemanis produk.

"Saya melihatnya ini eksploitasi, karena perempuan-perempuan ini harus memakai pakaian seksi yang mungkin saja mereka tidak mau menggunakannya. Tapi, karena bekerja butuh uang jadi mau tidak mau mengiyakan. Kalau memang mau jualan kenapa harus (memperlihatkan) wanita seksi, kan yang mau dijual produknya," kata Uli kepada Tirto.

Baca juga artikel terkait GIIAS 2018 atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)


Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
DarkLight