Menuju konten utama

Forum Film FISIPOL, Ruang Alternatif Nonton Film Pendek

Menyambut Deklarasi Hak untuk Damai oleh Komisi HAM PBB beberapa bulan lalu, FISIPOL UGM akan mengadakan Forum Film FISIPOL (FFF). Melalui forum ini, FFF memberikan ruang alternatif bagi film-film yang tidak mendapatkan ruang di layar utama.

Forum Film FISIPOL, Ruang Alternatif Nonton Film Pendek
Poster film prenjak karya Wregas Bhanuteja yang bersaing di Festival Film Cannes 2016. foto/www.twitters.com

tirto.id -

Menyambut Deklarasi Hak untuk Damai oleh Komisi HAM PBB beberapa bulan lalu, FISIPOL UGM akan mengadakan Forum Film FISIPOL (FFF). Pemutaran film dan diskusi yang bertajuk “Kita Berhak Damai” ini merupakan salah satu mata acara dalam rangkaian perayaan Dies Natalis FISIPOL UGM yang ke-61. Melalui forum ini, FFF memberikan ruang alternatif bagi film-film yang tidak mendapatkan ruang di layar utama.

“Selama tiga hari (10-12 November 2016) pengunjung festival akan disuguhi film-film terpilih yang mengangkat persoalan etnisitas, ras, seksualitas, tanah dan tapal batas yang merentang dari Indonesia hingga Suriah. Ini karena sinema senantiasa mampu menyalakan pijar perdamaian serta menyentuh sensibilitas kemanusiaan kita lewat kekuatan audio visualnya”, ujar Budi Irawanto selaku kurator Forum Film FISIPOL dalam per rilis yang diterima tirto.id, Kamis (10/11/2016).

Ia menambahkan menggunakan medium film, FFF mengajak audiens untuk peka dan kritis terhadap isu-isu di sekitar. Melalui rangsangan audio-visual, diharapkan audiens bisa menyadari bahwa banyak hak-hak masyarakat yang belum dipenuhi dan bahkan dilanggar. Medium film dipilih sekaligus untuk membuktikan bahwa film bukan sekedar hiburan yang ditonton sambil lalu.

Bagaimanapun, menurut Budi film dipengaruhi oleh situasi sosial politik dan persepsi pembuatnya terhadap dunia. Melalui acara ini, kami mengajak penonton untuk menilik isu-isu sosial politik yang ada di masyarakat dan membudayakan dialog untuk mendalami isu-isu tersebut.

Dr. Erwan Agus Purwanto selaku Dekan FISIPOL UGM dalam sambutannya mengatakan, “FFF adalah kombinasi antara ekspresi seni dan intelektual. Sebuah ajang yang menjadi penanda kemajuan kehidupan masyarakat epistemik yang memiliki kepedulian tinggi, maju, dan demokratis.”

FFF akan diselenggarakan pada 10-12 November 2016 dengan dua sesi pemutaran dan diskusi pada tiap harinya. Sesi pertama dilaksanakan di sisi utara Yogyakarta, yaitu FISIPOL UGM. Sementara di sisi selatan, acara berlangsung di Ruang Serbaguna di lantai dua Kedai Kebun, Tirtodipuran. Pemutaran film dan diskusi ini menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, LSM terkait, dan sineas. Nama-nama yang sudah tidak asing dalam bidang perfilman, termasuk Garin Nugroho dan Tonny Trimarsanto.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Film
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh