Misbar

Film Foxtrot Six & Upaya Mengejar Hollywood

Oleh: Faisal Irfani - 24 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Film Foxtrot Six mengisahkan perlawanan terhadap rezim otoriter dengan gaya Hollywood.
tirto.id - Jakarta pada 2031 adalah kota yang suram—lebih suram dari sekarang. Kemiskinan yang menjalar di seluruh permukaan kota menciptakan bencana kelaparan massal. Pada saat bersamaan, ketimpangan adalah panorama yang mustahil tak dijumpai—yang miskin makin melarat, sementara yang kaya makin jumawa.

Keadaan tersebut mendorong pemberontakan yang dipelopori kelompok bernama "Reform". Kelompok ini konsisten menghimpun dukungan dari massa-rakyat. Mereka memanfaatkan kekacauan untuk menyerang partai politik yang tengah berkuasa, Piranas. Bagi Reform, kesengsaraan rakyat adalah imbas perilaku korup Piranas.


Kehadiran Reform adalah alarm bahaya bagi Piranas. Kerja-kerja Reform di akar rumput telah menarik simpati masyarakat. Propaganda yang disebar Reform telah mencoreng citra partai. Maka, yang dilakukan Piranas setelahnya adalah meminta Gerram, unit paramiliter yang berafiliasi kepada mereka, untuk membabat habis Reform beserta simpatisannya.

Saling serang dua pihak inilah yang kemudian jadi jualan film terbaru garapan MD Pictures berjudul Foxtrot Six.

Mengejar Hollywood

Aksi laga agaknya mulai menjadi komoditas panas perfilman Indonesia. Sejak Merantau (2009) yang disutradarai Gareth Evans dan dibintangi Iko Uwais dirilis ke pasar, film laga memperoleh panggung yang besar untuk unjuk gigi.

The Raid (2011), The Raid 2: Berandal (2014), Headshot (2016), Wiro Sableng (2018), hingga The Night Comes for Us (2018) merupakan deretan film laga yang meramaikan bioskop sepuluh tahun belakangan.

Masing-masing film di atas, terlepas dari kualitasnya, punya karakteristik yang hampir sama: koreografi ciamik, narasi good vs bad people, hingga perayaan mandi darah. Film-film laga ini bak oase di tengah gempuran film tentang kisah cinta tak berbalas, horor medioker, dan "fiksi LPDP" yang menjual pariwisata kota-kota di luar negeri.

Sutradara Randy Korompis menerapkan formula laga yang sama dalam Foxtrot Six—selanjutnya Foxtrot. Sepanjang film, Randy berupaya menyajikan koreografi laga yang maksimal. Tak hanya itu, ia juga banyak memamerkan parade senjata canggih—dari bedil, robot mirip bulldozer, hingga pesawat terbang dengan daya akselerasi super-maksimum.


Ada alasan mengapa Foxtrot berupaya tampil segarang mungkin sebagai film laga. Pasalnya, sebelum film ini dirilis, pihak produser, MD Pictures, bertekad membawa Foxtrot mencapai pasar Hollywood. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, pihak MD kabarnya menggelontorkan dana produksi sebesar 70 miliar serta merangkul 20 produser.

MD juga merekrut Mario Kassar untuk duduk di jabatan produser eksekutif. Kassar adalah produser film laga Hollywood era 1980 dan 1990-an. Film-film yang pernah ia produseri di antaranya First Blood (1982), Total Recall (1990), Terminator 2: Judgement Day (1991), Universal Soldier (1992), Stargate (1994), hingga Terminator Salvation (2009).

Foxtrot mengambil cerita yang tak banyak diangkat oleh film Indonesia di bioskop. Negara, pemberontak, partai politik yang culas, kemiskinan, dan kekacauan massal. Menyaksikan Foxtrot tak ubahnya melihat kondisi politik di negara ketiga pasca-Perang Dunia II yang seringkali dibayangi ancaman kudeta dan perang saudara.

Sejak awal, Foxtrot cukup konsisten menjaga alur dan konflik cerita. Karakter dalam Foxtrot pun juga punya motivasi yang jelas. Misalnya tokoh utama Angga (Oka Antara), mantan perwira militer yang kemudian banting setir jadi anggota kongres dari Partai Piranas.

Infografik misbar Foxtrot Six
Infografik misbar Foxtrot Six. tirto.id/Fuad


Mulanya Angga adalah simpatisan Piranas dan menjadi salah satu andalan dalam setiap operasi penumpasan kelompok Reform karena pengalamannya di militer. Namun, haluannya berubah mendukung kelompok Reform. Bukan semata karena Angga bertemu dengan Sari (Julie Estelle), mantan kekasihnya yang ia kira sudah meninggal, melainkan juga karena melihat sendiri betapa tersiksanya masyarakat di bawah rezim Piranas.


Di balik cerita yang kompleks, ada beberapa celah yang disisakan Foxtrot. Soal karakterisasi, misalnya, cuma ada sedikit porsi bagi Sari. Sebagai panglima Reform seharusnya Sari memperoleh panggung lebih.

Namun, alih-alih diberi ruang eksplorasi yang proporsional, karakter Sari seperti dibungkam. Ia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan kepada penonton mengapa dan bagaimana Reform bisa berdiri. Tak cuma itu, yang cukup konyol, Sari bahkan harus meninggal dengan cara picisan.

Reform mungkin berdiri sebagai respons atas kesewenang-wenangan rezim. Namun, tanpa ruang untuk menjelaskan siapa dirinya, posisi yang diambil Reform adalah pengganggu atau perusuh belaka.

Ambisi untuk jadi film sekelas Hollywood turut mendorong Foxtrot memakai teknologi Computer Graphics Interface (CGI) yang dikerahkan sepanjang film guna menghadirkan suasana masa depan, juga senjata-senjata canggih nan mematikan. Akan tetapi, penggunaan CGI seringkali kedodoran, compang-camping, serta lebih berfungsi sebagai tempelan belaka daripada bikin canggih visual.

Baca juga artikel terkait MISBAR atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Film)


Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf