Menuju konten utama

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi Kembali Digelar

Sejak diluncurkan pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kampung adat Osing Kemiren, Banyuwangi akan kembali digelar pada Sabtu (5/11/2016) malam mendatang. Pada festival itu pengunjung diajak menikmati ngopi bareng sebanyak sepuluh ribu cangkir di depan rumah-rumah warga sepanjang 1,5 kilometer.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu Banyuwangi Kembali Digelar
[Ilustrasi] Warga mengolah biji kopi luwak yang akan diracik secara tradisional. Antara foto/Fikri Yusuf.

tirto.id - Sejak diluncurkan pada 2014, Festival Ngopi Sepuluh Ewu di Kampung adat Osing Kemiren, Banyuwangi akan kembali digelar pada Sabtu (5/11/2016) malam mendatang. Pada festival itu pengunjung diajak menikmati ngopi bareng sebanyak sepuluh ribu cangkir di depan rumah-rumah warga sepanjang 1,5 kilometer.

Di festival ini seluruh latar rumah di Desa Kemiren disulap menjadi ruang tamu yang menyuguhkan kopi Osing dalam sebuah cangkir dengan bentuk dan motif seragam. Selain itu pengunjung dapat menikmati jajanan tradisional Banyuwangi seperti klemben (bolu khas Banyuwangi), pisang rebus, serabi, lanun, lopis, rengginang, aneka keripik hingga ketan sebagai pelengkap--seperti kebiasaan minum kopi warga Kemiren.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, MY Bramuda dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (25/10/2016), menyampaikan Festival Ngopi tersbut merupakan contoh mempertahankan tradisi gotong royong.

“Kalau tradisi ini diikuti warga Banyuwangi secara keseluruhan dan masyarakat Indonesia, pasti tidak pernah ada salah paham. Semua bisa diselesaikan dengan duduk bareng,” katanya.

Bram menambahkan ada yang berbeda dari penyelenggaraan Festival Ngopi tahun ini. Selain bisa menikmati kopi yang terhidang di halaman rumah-rumah warga, para wisatawan juga bisa mengikuti pameran kopi lewat tenda yang disediakan panitia.

“Kami merancang Ngopi Sepuluh Ewu ini tidak hanya menyuguhkan kopi Kemiren saja, tapi juga kopi rakyat asli Banyuwangi lainnya. Seperti Lerek Gombengsari, kopi jaran goyang, kopi Uthek Desa Banjar, dan masih banyak lagi,”terang Bram.

Di tenda-tenda tersebut, imbuh Bram, pengunjung bisa melihat proses pembuatan kopi mulai dari awal sampai cara menyeduh dan meminumnya. Mereka juga bahkan bisa memesan kopi bersama keluarganya sambil menikmati jajanan khas yang disediakan.

“Suasananya hangat, didukung oleh oncor-oncor (obor) yang terpasang di sepanjang jalan, lengkap dengan iringan musik khas Banyuwangi. Masyarakat luas bebas datang dan menikmati ngopi bareng,”pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KOPI atau tulisan lainnya dari Agung DH

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Agung DH