tirto.id - Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS dilaporkan menahan publikasi sejumlah studi yang mendukung keamanan vaksin COVID-19 dan vaksin herpes zoster (shingles). Apa penyebabnya?
Langkah pemblokiran ini dipandang sebagai bagian dari kebijakan yang lebih luas di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Pemerintah AS semakin kritis terhadap penggunaan vaksin dan berupaya membatasi aksesnya bagi sebagian pasien.
Seperti diketahui, sejak dipimpin oleh Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr., yang dikenal sebagai skeptis vaksin, berbagai perubahan telah dilakukan oleh lembaga kesehatan federal. Perubahan itu termasuk pelonggaran rekomendasi vaksin Covid-19, pengurangan pendanaan penelitian vaksin, serta upaya merombak jadwal imunisasi anak.
Alasan Pemblokiran Riset Terkait Keamanan Vaksin Covid-19 dan Herpes Zoster
Para ilmuwan FDA telah melakukan penelitian besar dengan menganalisis jutaan data pasien untuk melihat apakah vaksin Covid-19 dan herpes zoster menimbulkan efek samping serius. Setelah itu, FDA memutuskan untuk memblokir temuan yang dinilai tidak sesuai.
Penelitian ini salah satunya telah menilai keamanan vaksin Covid-19 periode 2023–2024 pada kelompok usia di atas 65 tahun. Langkahnya dengan menganalisis data sekitar 7,5 juta penerima Medicare, sebagaimana dilaporkan oleh The New York Times.
Penelitian membandingkan kondisi kesehatan dalam 21 hari setelah vaksinasi dan 20 hari berikutnya, dengan mengevaluasi 14 potensi efek samping seperti serangan jantung, stroke, dan Guillain-Barre syndrome.
Hasilnya menunjukkan bahwa anafilaksis merupakan satu-satunya efek samping yang cukup mengkhawatirkan, kendati kejadiannya tetap sangat jarang. Kemunculannya ditemukan sekitar satu kasus per satu juta penerima vaksin Pfizer.
Studi lain yang juga ditangguhkan FDA yakni riset melibatkan sekitar 4,2 juta individu berusia 6 bulan hingga 64 tahun, dengan menilai berbagai kondisi seperti pembengkakan otak, pembekuan darah, hingga radang otot jantung (miokarditis).
Hasilnya tetap konsisten bahwa sebagian besar efek samping jarang terjadi dan manfaat vaksinasi lebih besar dibandingkan risikonya. Namun, FDA tetap memblokir hasil riset tersebut.
Pada Februari lalu, studi tentang vaksin shingles (herpes zoster) seperti Shingrix, beberapa hasil penelitian tidak sempat dipresentasikan di konferensi keamanan obat karena tidak mendapat persetujuan FDA.
Menurut juru bicara HHS, Andrew Nixon, keputusan FDA untuk memblokir publikasi tentang vaksin Covid-19 dan Herpes Zoster ini diambil karena para peneliti dianggap menarik kesimpulan yang terlalu luas dan tidak sepenuhnya didukung oleh data yang ada.
Ia menegaskan bahwa langkah FDA tersebut bertujuan menjaga integritas proses ilmiah dan memastikan semua penelitian yang terkait dengan lembaga tersebut memenuhi standar tinggi.
"Studi-studi tersebut ditarik karena para penulis menarik kesimpulan luas yang tidak didukung oleh data yang mendasarinya. FDA bertindak untuk melindungi integritas proses ilmiahnya dan memastikan bahwa setiap pekerjaan yang terkait dengan badan tersebut memenuhi standar tingginya," katanya dalam email kepada Reuters, dan dilaporkan pada 6 Mei 2026.
Keputusan ini menimbulkan kontroversi karena sebagian ahli menilai tindakan tersebut justru menghambat penyebaran informasi yang mendukung keamanan vaksin.
“Fakta bahwa dalam satu kasus ini diterima oleh sebuah jurnal dan mereka secara terbuka menyatakan tidak menyukai kesimpulannya membuat hal ini lebih mengejutkan,” ujar Dorit Reiss, seorang profesor hukum di UC Law San Francisco, dikutip The Guardian (5/5/2026).
Mantan pejabat FDA Janet Woodcock melihat adanya pola penahanan informasi yang justru mendukung keamanan vaksin.
“Ada pola di sini untuk tidak membiarkan informasi yang mungkin mendukung keamanan umum vaksin keluar, dengan alasan metodologis yang diberikan oleh juru bicara non-ilmuwan,” selidiknya.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































