Faedah dan Bahaya di Balik Live Streaming

Kontributor: Arif Abdurahman, tirto.id - 16 Okt 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Tren live streaming menawarkan pelbagai keuntungan sekaligus risiko. Para streamer bisa mendulang uang, juga membawa risiko bullying dan doxing.
tirto.id - Layaknya foto yang menggelitik otak dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh teks, live streaming tampaknya menyuntik sensasi voyeuristik dalam dosis tinggi. Dengan video langsung, kamu tak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bagaimana bisa mempertontonkan diri yang sedang bermain gim bakal mendulang dana sekitar Rp350 juta? Disiarkan selama tiga jam, YouTuber Windah Basudara dengan Rahmat alias Amat melakukan itu pada Selasa, 11 Oktober 2022. Sambil bermain gim bersama, rupiah demi rupiah terkumpul hasil sumbangan para penonton siaran tersebut.

Chia-Chen Chen dan Yi-Chen Lin dalam "What drives live-stream usage intention? The perspectives of flow, entertainment, social interaction, and endorsement" menyebut, alasan orang menikmati menonton live streaming gim karena mereka percaya akan mendapat ganjaran langsung, apakah dengan merasa terhibur, melepaskan ketegangan, memperoleh informasi, atau mendapatkan rasa kebersamaan.

Tentu saja, kamu masih bisa menonton siaran ulangnya. Meski begitu, video langsung hanya sekali. Ada alasan mengapa acara olahraga seperti sepak bola masih mendorong orang untuk menonton televisi. Jika kamu ingin mengikuti skor dan alur ceritanya, kamu harus menonton di waktu bersamaan.

Riset itu juga mengungkapkan kaum muda cenderung menyukai live-stream ketimbang generasi lebih tua. Ini yang jadi alasan kebanyakan penonton Windah adalah para "bocil kematian", sebuah julukan yang dibuatnya, mengacu pada bocah kecil yang sering rusuh dalam obrolan.

Kebanyakan orang memang ingin melihat hal-hal terjadi di sini dan sekarang. Konten langsung selalu lebih menggoda. Live streaming hanyalah evolusi alami dari teknologi yang sama yang mengambil akarnya kembali pada awal 1900-an, ketika siaran radio pertama mengudara.

Kelahiran Live Streaming di Era TV Tabung

Jalan live streaming menjadi salah satu bentuk penyiaran yang paling menonjol seperti sekarang tidak mudah. Keberhasilan besar yang terjadi saat ini terjadi setelah tahun-tahun penuh uji coba yang panjang, yang dimulai tahun 1990-an.

Live streaming pertama terjadi pada saat orang-orang masih menonton di TV CRT, ketika terhubung ke internet membutuhkan kesabaran ekstra. Pada 24 Juni 1993, band yang digawangi para geek komputer melakukan pertunjukan biasa, dan rekan-rekan mereka di Xerox Palo Alto Research Center di California memutuskan untuk mencoba beberapa teknologi baru.

Randy Alfred menulis di WIRED bahwa band bernama Severe Tire Damage itu meletakkan perlengkapan mereka di teras Xerox PARC pada suatu sore di bulan Juni. Mereka mengirim pertunjukan selama satu setengah jam lewat internet dengan Multicast Backbone, atau M-Bone. Pertunjukan langsung itu menarik perhatian sampai menjangkau Australia.

Setahun kemudian, Rolling Stones melakukan siaran langsung pertama kali lewat internet, menggunakan teknologi M-Bone. Uniknya, Severe Tire Damage kembali ikut manggung. Para rocker garasi itu memainkan beberapa lagu, yang juga disiarkan lewat M-Bone, sebelum dan sesudah konser resmi band mayor itu.

Rolling Stones jengkel, sampai melabeli band itu sebagai "para geek Palo Alto berbulu." Dibalas kemudian oleh Severe Tire Damage, yang dengan bangga menyatakan bahwa mereka adalah band pertama dalam sejarah yang memainkan set pemanasan di kota yang berbeda untuk para headliner.

Bagaimanapun, teknologi M-Bone masih jauh dari siap untuk mengganti televisi. Pertunjukan Rolling Stones menunjukkan kualitas suara dan gambarnya masih rendah, dan hanya dapat diterima oleh beberapa komputer.

Pada tanggal 5 September 1995, ESPN Sportszone menyiarkan radio internet dari permainan bisbol antara Seattle Mariners dan New York Yankees kepada ribuan pelanggannya di seluruh dunia menggunakan teknologi mutakhir yang dikembangkan Progressive Networks, perusahaan startup yang berbasis di Seattle.

Perusahaan teknologi yang mengubah namanya menjadi RealNetWorks itu mengembangkan pemutar media pertama untuk live streaming bernama RealPlayer. Kemudian pada 1997, meluncurkan RealVideo yang bisa mengomersilkan video live streaming. Inovasi yang bagus, tapi masih terlalu dini di era tersebut.

Kelahiran sejati dari live streaming perlu dialamatkan pada Bill Clinton. Presiden AS yang masa jabatannya merentang sejak tahun 1993, melihat internet menjadi media massa baru.

Video web memang masih dalam masa pertumbuhan, dan hanya segelintir orang punya perangkat yang tepat. Koneksi internet rumahan masih berada dalam zaman modem dial-up. Tapi Clinton bertekad untuk berada di depan.

Pada 8 November 1999, webcast presiden pertama diadakan di George Washington University di Washington DC. Acara diproduksi oleh Excite@Home Network dan Democratic Leadership Council. Siaran web itu bertajuk "Third Way Politics in the Information Age".

Format acara pada dasarnya adalah diskusi online, presiden dan peserta membahas berbagai masalah, seperti sistem kesehatan Medicare dan isu kontrol senjata. Selain itu, ada pertanyaan yang diajukan oleh lebih dari 50.000 pengguna daring yang masuk ke obrolan.


Lebih dari Televisi

Pada tahun 2005, YouTube lahir, dengan itu muncul nubuat soal langkah maju dalam kemampuan video internet. Google tergiur akan potensi ini, dan setahun kemudian mengakuisisi platform ini.

YouTube kini menjadi dominator media global, menciptakan bisnis multi-miliar dolar yang telah melampaui sebagian besar stasiun televisi dan pasar media lainnya, sekaligus memicu kesuksesan bagi banyak penggunanya yang disebut YouTuber.

Alex Bybyk dalam "The History of Live Streaming" menyebut bahwa YouTube yang benar-benar meledakkan industri live streaming. Pada tahun 2008, platform berbagi video ini menyiarkan acara langsung pertamanya bernama YouTube Live.

Siaran itu langsung dialirkan dari San Francisco dan Tokyo pada saat bersamaan, dan menampilkan wawancara serta pertunjukan dari bintang seperti Katy Perry, Smosh, Mythbusters, dan Bo Burnha. Meski acara live streaming itu dianggap berhasil, ada sesuatu yang belum klop.

YouTube memang tak menjadi platform live streaming khusus, hanya sesekali melakukannya suka-suka. Yang paling terkenal adalah konser U2 pada tahun 2009, dan sesi tanya jawab langsung dengan Barack Obama pada tahun 2010. YouTube memang terlalu lambat untuk mendorong live streaming sampai perusahaan lain berhasil memanfaatkannya.

Pada tahun 2011, Twitch.tv meluncurkan platform streaming baru yang dirancang untuk video gim. Ide yang tampaknya tak menguntungkan. Namun, hanya dua tahun kemudian, Twitch memiliki lebih dari 45 juta pemirsa per bulan. Keberhasilan Twitch adalah titik balik lain dalam sejarah live streaming.

YouTube dengan cepat mengadaptasi kebijakan live streaming mereka. Media sosial lain juga ikut-ikutan. Pada 2015, Twitter mengakuisisi aplikasi live streaming Periscope. Sementara pada tahun 2016, Facebook dan Instagram juga mempresentasikan fitur live streaming mereka.

Sejak media sosial menggabungkan teknologi live streaming, fitur ini terus meningkat dan stabil. Pada tahun 2020, dunia menghadapi pandemi global COVID-19. Meski ekonomi global menerima pukulan hebat, live streaming justru menemukan peluang baru.

Live streaming memungkinkan orang untuk tetap terhubung saat tinggal di rumah. Teknologi ini telah banyak membantu dalam upaya menghentikan penyebaran virus corona.

Streamer dapat berkomunikasi dengan pemirsa mereka melalui obrolan langsung dan membuatnya benar-benar interaktif sekaligus menarik untuk ditonton.

Menjadi streamer bahkan digadang-gadang membuka pekerjaan menggiurkan. Streamer profesional dapat menghasilkan pendapatan yang layak dari langganan dan donasi pemirsa, serta iklan platform dan sponsor dari organisasi eSports.


Infografik Mozaik Jedag Jedug
Infografik Mozaik Jedag Jedug. tirto.id/Ecun


Bahaya yang Mengintai

Faktanya, streamer adalah tenaga kerja yang berbahaya, jelas Jamie Woodcock, seorang dosen senior di University of Essex. Pada 2017, ia ikut menyusun makalah yang meneliti ketegangan yang melekat ketika menjadikan live streaming sebagai mata pencaharian.

"Ada kesempatan Anda bisa menghasilkan uang dengan bermain video gim," kata Woodcock. “Maksud saya, itu tampak jauh lebih menarik ketimbang mencatat registrasi di pekerjaan perhotelan dan uang tips diambil oleh bos, kemudian harus bekerja lembur. Benar 'kan?"

Sayangnya, sudah terbukti bahwa basis pengguna adalah piramida, hanya beberapa yang beruntung meraup semua uang dan fokus perhatian. Namun yang berada di puncak ini masih merayu banyak orang untuk mengambil perjudian tak kenal ampun ini.

Selain itu, banyak contoh kejahatan serius seperti pemerkosaan dan penyerangan, bersama dengan bunuh diri, telah disiarkan secara langsung. Live streaming ke pemirsa dalam jumlah besar juga membawa risiko bullying dan doxing. Para streamer populer mungkin juga menjadi korban penguntitan seperti halnya selebritas.

Kejahatan yang disiarkan langsung makin jadi tren pada pertengahan 2010-an, dengan insiden yang dilaporkan seperti penyerangan dan bunuh diri. Beberapa di antaranya seperti penembakan massal di Jacksonville, Florida, terjadi selama turnamen gim Madden NFL 19. Lalu penembakan di masjid Christchurch pada 2019 yang disiarkan di Facebook Live oleh pelaku selama 17 menit.

Live streaming memang menawarkan kesempatan sekaligus risiko di baliknya. Yang pasti, media baru ini terbukti membuat korporasi top seperti Google, Microsoft, Nvidia, Apple, Amazon, dan lainnya meraup profit menggunung.

Baca juga artikel terkait LIVE STREAMING atau tulisan menarik lainnya Arif Abdurahman
(tirto.id - Teknologi)

Kontributor: Arif Abdurahman
Penulis: Arif Abdurahman
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight