Menuju konten utama

Face ID Teknologi Lama yang Disematkan di iPhone X

iPhone X yang baru dirilis Apple menghadirkan teknologi pengamanan baru untuk kali pertama pada iPhone bernama Face ID.

Face ID Teknologi Lama yang Disematkan di iPhone X
iPhone X. FOTO/iDB

tirto.id - Craig Federighi, Senior Vice President of Software Engineering Apple malam itu begitu percaya diri berada di atas panggung Jobs Theater di Kantor Pusat Apple di Cupertino, California, Amerika Serikat. Ia petinggi Apple yang diberi tugas memperkenalkan dan memperagakan fitur terbaru iPhone X yang bernama Face ID.

“Jadi ayo lihat, ini adalah iPhone X. Sekarang membukanya bisa dilakukan dengan sangat mudah. Tinggal lihat ke sini,” kata Federighi seraya menatap ponsel pintar tersebut.

Sialnya, kunci dengan pengenal wajah itu tak sukses membuka layar iPhone X. Fitur Face ID justru meminta Federighi memasukkan kata kunci. Sayangnya, Federighi telah gagal mempertontonkan kecanggihan Face ID. Ia tak langsung patah semangat, Federighi masih bisa mengendalikan panggung, dengan tenang ia mengambil iPhone X cadangan.

“Hohoho, ayo coba ke iPhone cadangan ini,” katanya sambil mengusap wajahnya untuk menghindari Face ID iPhone X tak bekerja.

Akhirnya dengan memanfaatkan iPhone X cadangan, Federighi sukses memperagakan Face ID kepada para undangan peluncuran produk Apple malam itu.

Usai kejadian yang memalukan itu, Apple akhirnya buka suara. Perusahaan yang berbasis di Cupertino tersebut beralasan bahwa iPhone X yang gagal telah diautentikasi oleh pengguna lain, bukan wajah Federighi. Sehingga petinggi Apple ini tak bisa mengakses iPhone X itu dengan Face ID. Alasan ini bisa jadi benar atau juga salah, karena untuk acara sebesar dan sepenting itu Apple begitu sembrono untuk bagian terpenting peluncuran iPhone X.

Face ID memang merupakan fitur baru bagi iPhone. Ia hadir selepas Apple memutuskan mengusung konsep edge-to-edge di iPhone X. Konsep edge-to-edge membuat tampak depan iPhone X didominasi oleh layar dengan rasio screen-to-body mencapai angka 82,9 persen. Rasio layar yang paling tinggi yang pernah dimiliki iPhone. iPhone 8 yang diluncurkan berbarengan dengan iPhone X hanya memiliki rasio screen-to-body sebesar 65,4 persen.

Baca juga:iPhone X, Saat Apple Mengekor Kompetitor

Konsep edge-to-edge memang harus menumbalkan tombol “home” iPhone yang selama ini menjadi ciri khasnya. Suatu tombol yang juga berfungsi sebagai pemindai sidik jari, yang dipanggil dengan sebutan Touch ID. Touch ID bertugas untuk melakukan penguncian dan autentikasi bagi pengguna iPhone. Saat fitur tersebut dihilangkan, Face ID yang kemudian menggantikan fungsinya.

Face ID bekerja dengan memanfaatkan 3 bagian utama yakni Dot Projector yang berguna untuk memproyeksikan wajah pengguna ke dalam 30.000 titik tak kasat mata. Infrared Camera yang berguna untuk menangkap atau merekam pola bentuk wajah dari kumpulan titik. Juga ada Flood Illuminator yang berfungsi memberikan pencahayaan infra merah tak kasat mata guna mendukung kerja di saat minim cahaya. Secara sederhana, ketiga bagian tersebut membentuk model wajah 3 dimensi bagi penggunanya. Dari proses ini semua, autentikasi bekerja untuk mengenali wajah pemilik atau orang lain.

Face ID merupakan salah satu produk teknologi pengenal wajah dan cikal bakalnya sudah lama dikembangkan. Beberapa jurnal lama sudah banyak membahasnya, antara lain Shang-Hung Lin dalam jurnal berjudul An Introduction to Face Recognition Technology mengatakan teknologi pengenal wajah merupakan salah satu ragam dari kerangka teknologi biometrik. Dalam aspek teknologi pengamanan, biometrik jadi metode verifikasi atau pengidentifikasian dengan memanfaatkan identitas karakteristik fisiologis seperti sidik jari serta bagian-bagian wajah.

infografik wajah adalah koentji

Metode verifikasi dan identifikasi dengan biometrik sangat sulit dipalsukan dan sangat stabil bila dibandingkan teknologi lainnya. Sayangnya, merujuk apa yang diutarakan Lin, pengamanan biometrik tidak terlalu nyaman digunakan oleh pengguna dibandingkan menggunakan teknik verifikasi atau autentikasi seperti kata kunci, tanda tangan, dan sejenisnya.

Teknologi pengenal wajah mulai digarap secara serius sejak dekade 1970-an. Dua produk teknologi pengenal wajah yang hadir awal ialah Miros Trueface dan Visionics Facelt. Kedua produk itu muncul pada tahun 1999. Penggunaan teknologi pengenal wajah bagi ponsel pintar juga bukanlah barang baru.

Sebelum Face ID diterapkan pada iPhone X, ponsel pintar lainnya yang telah menggunakan teknologi ini adalah Samsung Galaxy S8. Bahkan Samsung Galaxy Note 7 disebut-sebut smartphone yang pertama menggunakan teknologi ini. Selain pengenal wajah, pada seri Samsung S8 juga diterapkan teknologi pemindai iris mata. Teknologi yang sama-sama masuk dalam kerangka biometrik. Pada 2005, teknologi pembaca wajah juga sudah diterapkan pada PDA.

Di luar persoalan kegagalan Craig Federighi dan sanggahan Apple, teknologi pengenal wajah memang bukanlah suatu teknologi yang sederhana. Lin mengemukakan bahwa teknologi pengenal wajah sempat menjadi masalah tersulit dalam dunia komputer. Henry A. Rowley dalam tesisnya berjudul Neural Network-Based Face Detection mengatakan bahwa dalam teknologi pengenal wajah pembacaan objek adalah masalah terpenting dan bagian paling mendasar.

Masalah terpenting dan mendasar itu merupakan faktor di balik rumitnya teknologi ini. Lin mengatakan bahwa wajah manusia sebagai objek teknologi pengenalan wajah tidaklah semata-mata sebuah objek 3 dimensi. Wajah merupakan objek tidak kaku yang tidak bisa serta merta memiliki pola baku dan bisa dipetakan dengan mudah. Apalagi, latar belakang dan perbedaan pencahayaan saat penangkapan citra dilakukan membuat teknologi ini semakin rumit.

Secara sederhana, teknologi pengenal wajah bekerja dengan melatih algoritma pengenalnya melalui ribuan atau bahkan jutaan foto wajah. Sayangnya, foto yang dijadikan alat latih algoritma tersebut kebanyakan merupakan foto orang-orang kulit putih dan dengan kondisi pencahayaan yang bagus. Akibatnya terjadi sebuah fenomena bernama “bias algoritma.” Orang berkulit putih, berwajah Asia dengan mata sipit, dan berbagai bentuk non-kulit putih dalam konteks orang Eropa, akan terasa sulit dikenali oleh teknologi ini.

Rowley lebih lanjut mengemukakan bahwa salah satu cara mengakali kerumitan teknologi pengenalan wajah dalam pendeteksian objek adalah dengan memanfaatkan teknologi jaringan syaraf. Teknologi jaringan komputer yang meniru sistem kerja jaringan syaraf manusia.

Secara sederhana, dengan memanfaatkan teknologi jaringan syaraf, komputer pendeteksi bisa melakukan estimasi berbagai kemungkinan orientasi wajah sebagai objek yang hendak dipindai atau dideteksi. iPhone X hadir dengan prosesor A11, sebuah prosesor yang telah ditanamkan teknologi neural engine, teknologi yang umum disematkan dalam kecerdasan buatan dan memang memiliki kemampuan teknologi jaringan syaraf.

Selain rumit, teknologi pengenal wajah memiliki masalah soal privasi. Stefanos Zafeiriou dari Imperial College London mengatakan pada New Scientist bahwa “tidak akan merekomendasikan siapapun percaya pada verifikasi wajah milik iPhone.” Hal senada diucapkan Edward Snowden melalui akun resmi Twitternya. “#FaceID Bagus: Desain terlihat sangat kuat, sudah tidak mengalami kepanikan. Buruk: Membiasakan pemindaian wajah, teknologi yang pasti disalahgunakan,” cuitnya.

Baca juga:Membongkar Identitas dengan teknologi Pengenal Wajah

Apa yang dikhawatirkan Zafeiriou dan Snowden memang memiliki dasar. Face ID yang tersemat pada iPhone X mampu dengan mudah mengumpulkan data wajah bagi siapapun pengguna iPhone X. Penyalahgunaan basis data wajah pengguna Apple bisa saja terjadi. Basis data wajah pengguna itu bisa “dicuri” pihak-pihak tak bertanggungjawab, termasuk oleh penguasa.

Biro investigasi federal AS alias FBI terbongkar memiliki basis data wajah setengah penduduk dewasa AS. Dari jumlah itu, 80 persen merupakan orang-orang yang tidak pernah tersentuh dengan hukum sama sekali. Ini menandakan bahwa privasi seseorang terancam dengan hadirnya teknologi pengenal wajah, meski tak pernah berurusan dengan hukum.

Namun meskipun teknologi Face ID memiliki ancaman privasi, diduga kuat bahwa Apple akan tetap melenggang mulus menjual iPhone X. Ini karena Apple memiliki basis masa pecinta produk mereka yang sangat kuat yang sering dipanggil dengan sebutan Fanboy.

Baca juga:Rahasia Apple Merawat Para 'Fanboy'

Persoalan apakah iPhone X berhasil mengatasi permasalahan rumit teknologi pengenal wajah atau tidak, tentu saat ini masih terlalu dini menilainya. Apalagi iPhone X baru akan benar-benar dipasarkan pada awal November nanti. Namun, para Fanboy pastinya sudah tak sabar dengan kedatangan iPhone X yang modelnya mengekor kompetitor dan menghadirkan teknologi bernama Face ID yang sejatinya bukan teknologi benar-benar baru. Tentu sangat memalukan bila Apple sampai gagal dalam mengadopsi teknologi ini.

Baca juga artikel terkait IPHONE X atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra