ESDM Sebut Realisasi Proyek Pembangkit 35 GW Mundur karena COVID-19

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 30 Juli 2020
Dibaca Normal 1 menit
Kementerian ESDM sebut realisasi operasional atau COD proyek pembangkit listrik 35.000 MW (35 GW) dipastikan akan bergeser dari rencana akibat pandemi COVID-19.
tirto.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan realisasi operasional atau COD proyek pembangkit listrik 35.000 MW (35 GW) dipastikan akan bergeser dari rencana. Hal ini disebabkan karena penurunan permintaan selama pandemi COVID-19 yang dikhawatirkan berdampak negatif bagi PLN.

Nantinya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) akan disesuaikan mengikuti revisi ini.

"Karena ada penurunan demand, nanti di RUPTL digeser jadwal COD untuk tidak membebani lebih jauh operasional PLN,” ucap Direktur Jenderal Ketenagalistrikan ESDM Rida Mulyana dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/7/2020).

Rida mencatat realisasi proyek pembangkit listrik 35.000 MW per semester I 2020 atau Juni 2020 baru mencapai 23 persen. Angka itu merupakan setara 200 unit pembangkit yang sudah beroperasi atau COD dengan daya 8.187 MW.

Realisasi program 35.000 MW ini naik dari capaian Mei 2019 yang berkisar 10 persen dari total 35.530 MW atau setara 397 unit pembangkit.

Ia bilang saat ini sudah ada 98 unit pembangkit yang sedang dalam proses konstruksi. Dayanya setara 19.250 MW atau 54 persen dari target.

Sisanya 24 unit (839 MW) sedang proses pengadaan, 45 unit (6.528 MW) sudah kontrak tapi belum konstruksi, 30 unit (724 MW) masih dalam perencanaan.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu menyatakan saat ini pemerintah belum dapat memastikan mana saja proyek yang akan ditunda dan sampai kapan penundaan berlangsung. Ia juga mengaku belum memperoleh hitungan pasti karena masih ingin membahasnya bersama Kementerian Keuangan terkait prospek ekonomi ke depannya.

“Jadi intinya bahwa sampai sekarang PLN belum menyampaikan RUPTL baru kepada kami,” ucap Jisman dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/7/2020).

Meski demikian Jisman mengakui bila penurunan permintaan listrik saat ini cukup terasa. Di Jawa-Bali saja sudah ada 3.000 MW pembangkit yang dimatikan atau shutdown.

“Belum lagi sistem Sumatra dan kita berharap ke depan sudah ada rebound lah. Berharap supaya ya memang kita tertolong dengan adanya kenaikan rumah tangga,” ucap Jisman.


Baca juga artikel terkait PLN atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Reja Hidayat
DarkLight