Awan Panas Guguran Semeru

Erupsi Semeru: Status Awas, 1.979 Pengungsi, Tak Ada Korban Jiwa

Reporter: Farid Nurhakim, tirto.id - 5 Des 2022 09:51 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, meluncurkan awan panas guguran dengan jarak bervariasi antara 5-7 kilometer.
tirto.id - Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, meluncurkan Awan Panas Guguran (APG) pada Minggu (4/12/2022) sejak pukul 02.46 WIB. Erupsi Gunung Semeru terus berlangsung hingga Minggu pagi pukul 07.42 WIB dengan jarak luncur APG bervariasi antara 5-7 kilometer (km).

Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Geologi, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), sumber APG itu berasal dari tumpukan di ujung lidah lava yang berada sekitar 800 meter (m) dari puncak atau Kawah Jonggring Seloko.

Saat itu, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah tenggara dan selatan setinggi kurang lebih 1.500 m di atas puncak. Aktivitas erupsi Gunung Api Semeru itu terekam di seismograf dengan aplitudo maksimum 35 milimeter (mm) dan durasi nol detik.


Akibat erupsi tersebut, status Gunung Api Semeru naik menjadi level IV atau awas.

"Status Gunung Semeru dinaikkan dari siaga (level III) menjadi awas (level IV) terhitung hari Minggu, 4 Desember 2022 pukul 12.00 WIB,” kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan.

PVMBG merekomendasikan agar tidak ada aktivitas masyarakat dalam radius delapan kilometer dari puncak Gunung Semeru. Kemudian, sektoral arah tenggara seperti daerah Besuk Kobokan dan Kali Lanang sejauh 19 kilometer dari puncak.

Selanjutnya sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 13 km dari puncak. Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.

Lebih lanjut, masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Hasil pemantauan di lapangan oleh tim PVMBG dan BPBD Kabupaten Lumajang, luncuran APG sudah mencapai 19 kilometer bahkan telah melewati Jembatan Gladak Perak.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 1.979 jiwa mengungsi akibat erupsi Gunung Semeru. Mereka tersebar di 11 titik pengungsian.


Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB merinci 11 titik pengungsian itu meliputi 266 jiwa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 4 Supiturang, 217 jiwa di Balai Desa Oro-oro Ombo, 119 jiwa di SDN 2 Sumberurip, 228 jiwa di Balai Desa Sumberurip, dan 131 jiwa di Balai Desa Penanggal.

Kemudian, 52 jiwa mengungsi di Pos Gunung Sawur, 216 jiwa di Balai Desa Pasirian, 150 jiwa di Lapangan Candipuro, 600 jiwa di Kantor Kecamatan Candipuro, dan sisanya di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Pronojiwo.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan daerah terdampak erupsi Gunung Merapi meliputi Desa Capiturang dan Sumberurip di Kecamatan Pronojiwo; Desa Sumbersari di Kecamatan Rowokangkung; Desa Penanggal dan Desa Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro; dan Desa Pasirian di Kecamatan Pasirian.

“Hingga siaran pers ini diterbitkan, belum ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa. Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Lumajang, Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan lintas instansi terkait terus melakukan upaya penyelamatan, pencarian, dan evakuasi,” kata Muhari dalam siaran pers BNPB, Minggu.


Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG SEMERU atau tulisan menarik lainnya Farid Nurhakim
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Farid Nurhakim
Penulis: Farid Nurhakim
Editor: Gilang Ramadhan

DarkLight