Dilema Gerbong Khusus Perempuan

Gerbong Kereta Api khusus wanita. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Oleh: Patresia Kirnandita - 18 Mei 2017
Dibaca Normal 3 menit
Media sosial baru-baru ini diramaikan berita tentang dua perempuan saling jambak di KRL dan disaksikan oleh puluhan penumpang lain. Tagar #GerbongKRLWanita pun sempat menjadi tren dan ajang warganet mencurahkan pengalamannya berada di gerbong khusus perempuan.
Transportasi publik yang aman dan nyaman merupakan hal yang cukup sulit ditemukan, terutama di kota-kota besar, termasuk di Jakarta. Angkutan umum yang tersedia bisa disebut masih jauh dari kata nyaman dan aman. Kasus-kasus kriminal di angkutan umum masih sering terjadi. Mulai dari pencopetan, penodongan, hingga yang paling ekstrem adalah pelecehan seksual.

Pemerintah bukannya tidak menyadari hal ini. Upaya-upaya untuk memberikan keamanan dan kenyamanan transportasi publik sudah dirintis. Salah satunya dengan menyediakan gerbong atau tempat duduk khusus perempuan. Banyaknya kasus pelecehan seksual yang dialami perempuan saat melakukan mobilisasi di dalam kota menjadi landasan dibuatnya kebijakan yang merupakan aksi afirmatif semacam ini.

Sayangnya, upaya pemerintah untuk memberikan kenyamanan bagi perempuan yang menggunakan transportasi umum ini belum membuahkan hasil maksimal. Bukan sekali dua kali sejumlah perempuan memberikan testimoni soal tidak enaknya berada di gerbong khusus perempuan yang mereka pilih dengan sengaja. Alih-alih merasa aman dan nyaman, mereka mengaku harus mengecap pengalaman sepat seperti berebut tempat, saling cibir, bahkan tengkar mulut dengan sesama perempuan yang justru membikin naik pitam dan letih kian menjadi. Sebagian memandang gerbong khusus perempuan sebagai arena tempur di mana yang cekatan melihat peluang, dia yang menyabet kenikmatan. Lirik saja cuitan pemilik-pemilik akun Twitter berikut ini.

@vansuk_ #GerbongKRLWanita ini udah sumpek, tp tetep mbak2 dan Ibu2 pada maksa masuk. Yg berdiri deket pintu aja bisa kegeser sampe tengah gerbong :(

@GlowNop kalo tata cara berdiri di #GerbongKRLWanita salah, drama nya panjang, udah bisa di terka berapa banyak yang siap nyinyir alus

@miss_nidy #GerbongKRLWanita itu arena hunger games yang sesungguhnya.

Masih ingat cerita tentang perempuan yang meluapkan unek-uneknya di Path lantaran seorang ibu hamil meminta kursi yang sedang didudukinya di kereta, lantas dirundung warganet pada 2014 silam? Kejadian semacam ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, peduli setan dengan solidaritas sesama perempuan—terlebih kepada yang perlu diprioritaskan seperti ibu hamil, orang berusia senja, atau sedang sakit. Dengan alasan perjalanan jauh yang mesti ditempuh atau kepenatan luar biasa yang seolah cuma mereka yang rasa, segelintir perempuan memilih meredupkan empati.

Menimbang Efek Samping Gerbong Khusus Perempuan

Bicara tentang aksi afirmasi tidak pernah terlepas dari pro-kontra terhadapnya. Di satu sisi, penyediaan ruang khusus perempuan memfasilitasi kebutuhan perlindungan perempuan dari risiko pelecehan seksual di transportasi publik. Cheon Eun-hye, mahasiswi di Korea Selatan menyatakan kepada Korea Times, “Saya sering merasa tidak aman saat menumpangi kereta dan memakai rok pendek karena adanya kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi baru-baru ini.” Lain lagi dengan opini Stevi (30) yang setiap hari berkomuter dari domisilinya di Depok ke pusat Jakarta, “Kalo pulang kantor, gue lebih seneng naik gerbong cewek, soalnya lebih 'ramah' terhadap hidung.”

Ada hal menarik dari opini Stevi ini. Ia mengindikasikan bahwa mayoritas laki-laki tidak terlalu peduli terhadap bau badan mereka. Dikotomi gender secara implisit tersampaikan di sini, bahwa umumnya, laki-laki kurang perhatian dalam merawat tubuhnya dibanding perempuan. Bicara tentang bau badan juga mengindikasikan bahwa warga dari kelas menengah hingga bawah harus rela berkeringat dalam jangka waktu tidak pendek, berbeda dari mereka yang berprivilese menumpangi taksi atau kendaraan pribadi setiap hari. Commuter Line adalah simbol kelas, dan dua kutubnya menjadi penanda kaum marjinal yang mesti berjibaku dalam kepadatan untuk bertahan hidup di Ibu Kota.

Di lain sisi, ada hal implisit yang ditangkap dari pengadaan gerbong atau ruang khusus perempuan: peneguhan bahwa perempuan tidak berdaya dan pelecehan seksual tidak bisa terelakkan, demikian dikemukakan oleh Laura Bates, penggagas Everday Sexism Project dalam program BBC Woman’s Hour.

Selain itu, terdapat pendapat mengajarkan laki-laki untuk tidak berbuat mesum dan menghormati perempuan di mana pun berada jauh lebih penting dan lebih efektif untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan. Hal ini mengindikasikan adanya suatu pengotakan sifat yang menjadi stereotip atau digeneralisasi bahwa laki-laki tidak bisa dipercaya dan perempuan tidak bisa melakukan mobilisasi tanpa kekhawatiran akan keamanannya.

Argumen lain seperti dikutip dari The Week, jika laki-laki memang menjadi ancaman bagi perempuan, akan lebih baik bila dibuat gerbong khusus laki-laki dibanding gerbong khusus perempuan.

Bates juga menyatakan, pengadaan gerbong khusus perempuan malah memperbesar kemungkinan penyalahan korban. Pilihan untuk menempati gerbong khusus seolah-olah menjadi tanggung jawab setiap perempuan yang mau menghindari pelecehan seksual. “Jika kamu punya gerbong khusus perempuan, lantas seorang perempuan tidak memilih gerbong itu dan mendapat pelecehan seksual, apakah orang-orang akan menyalahkannya atas apa yang terjadi kepada perempuan itu?” tanya Bates.

Keresahan Bates ini bukan tidak beralasan. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa di Jepang, para perempuan yang menempati gerbong campur khawatir dianggap "korban sukarela" dari pelecehan-pelecehan seksual yang marak terjadi di sana.

Selain munculnya perdebatan perlu tidaknya gerbong khusus perempuan, efek samping lain dari pengadaan hal ini dapat diamati secara langsung dalam praktik keseharian. Baik untuk alasan tuntutan ekonomi atau aktualisasi diri, para perempuan terjun ke lapangan-lapangan pekerjaan publik dan otomatis, berkontribusi terhadap kepadatan transportasi publik pada jam berangkat dan pulang kantor. Semakin bertambahnya pekerja perempuan belum bisa dibalap dengan pengadaan moda transportasi yang aman dan nyaman bagi mereka. Bayangkan, hanya dalam dua gerbong perempuan bisa merasa sedikit lebih aman dari jamahan-jamahan laki-laki yang tidak diinginkan. Mau tidak mau, mereka mesti berimpitan bak ikan sarden di kaleng. Gerbong perempuan yang semula dibuat untuk menciptakan kenyamanan, malah memunculkan ketidaknyamanan reguler bagi para perempuan sendiri. Apa daya, paranoid terhadap tindak kriminal berbasis gender serta gangguan kenyamanan sebagaimana diungkapkan Stevi membuat mereka pasrah berdiri satu kaki, terombang-ambing setiap penumpang masuk dan keluar, dan terinjak oleh kaki-kaki asing.



“Aku Perempuan, Maka Aku Benar?”

Kalimat ini sering sekali dijadikan lawakan seksis di mana-mana. Namun, apakah lawakan ini muncul seperti Mr. Bean yang jatuh dari langit? Aneka pengalaman mirip membuat kalimat bernada generalisasi ini populer. Terkadang, yang mengalaminya juga kaum perempuan sendiri.

Lebih lanjut mengenai gerbong khusus perempuan, Stevi menceritakan pengalamannya sebagai perempuan yang tengah hamil enam bulan. “Bukannya mau mendiskreditkan perempuan atau seksis, ya, apalagi gue juga perempuan. Tapi kadang-kadang, ibu-ibu di gerbong cewek lebih galak dibanding ibu-ibu kehilangan Tupperware,” ujarnya sembari berseloroh, “Itu sebabnya kalau berangkat, gue lebih milih naik gerbong campuran selain karena belum pada bau keringet juga.”

Stevi juga mengungkapkan, saking sengitnya persaingan mendapat kenyamanan di kereta, dibutuhkan strategi sendiri untuk mencapainya. Contohnya, ia lebih memilih naik kereta ke Kota terlebih dahulu dari kantornya di bilangan Cikini untuk menuju rumah di Depok. Hal ini Stevi lakukan supaya ia bisa mendapat kursi dan menjaga kondisinya serta kandungannya. “Soalnya orang suka nggak mau ngalah sama ibu hamil, padahal perut gue udah nonjol gede banget. Temen gue yang lagi hamil juga ada yang sampe gemetar dan mau pingsan, baru dikasih tempat duduk. Itu pun setelah dibantu petugas gerbong yang awalnya nggak sadar ada ibu hamil. Bisa jadi karena temen gue badannya mungil walau hamilnya udah cukup besar dan kondisi kereta yang padat banget sampai-sampai dia nggak kelihatan,” cerita Stevi.

Kali lain, Stevi juga pernah mendapati ibu hamil lainnya di gerbong khusus perempuan. Kursi prioritas saat itu telah diisi oleh lansia dan ibu hamil lainnya. Saat hendak meminta kursi reguler kepada salah satu penumpang perempuan, ia malah disemprot dengan ucapan, “Minta ke gerbong campuran aja, Bu. Jangan minta di sini.” Stevi yang waktu itu tengah mengandung juga hanya bisa memendam kekesalan melihat ketiadaan empati dari sesama perempuan.

Melihat fakta-fakta semacam ini, maka tidak heran bila ujaran gerbong perempuan itu lebih ganas jadi populer dan diamini banyak orang, meski tidak selamanya orang-orang dengan kepekaan tinggi absen dari gerbong perempuan.

Baca juga artikel terkait GERBONG PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Patresia Kirnandita
DarkLight