Di Sepak Bola Israel, Politik adalah Pemain ke-12 yang Sukar Diusir

Penulis: R. A. Benjamin - 12 Mar 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Banyak klub di Israel yang berasosiasi dengan gerakan atau ideologi politik. Sulit diudar, meski klub telah diprivatisasi.
tirto.id - Ditilik dari segi permainan, agaknya tak banyak penikmat sepak bola yang bakal meluangkan waktu khusus demi menonton Israeli Premier League (IPL). Klub-klub terbaik di liga itu bisa dikategorikan sasaran empuk bagi klub-klub Eropa yang lebih mapan. Lagi pula, tak banyak alasan untuk menonton liga yang berada di posisi 22 dalam peringkat UEFA—di bawah Liga Siprus dan Norwegia.

Intinya, IPL bukanlah liga populer. Meski begitu, tidak populer bukan lantas berarti tidak menarik. Fakta bahwa ada liga yang tetap berjalan di tengah kegaduhan konflik Israel-Palestina saja merupakan hal yang menarik. Lantas, seperti apa “rupa” liga sepak bola yang berlangsung di negara zionis Israel itu?

Di Israel yang selalu dibayangi ancaman perang, sepak bola tetap menjelma olahraga terpopuler. Sejak 1955, telah berlangsung Liga Leumit yang kini menjadi divisi kedua dalam strata liga di Israel. Strata tertingginya tentu saja IPL yang dibentuk sekitar dua dekade lalu, tepatnya pada 1999.

Kendati bukan liga populer, liga di Israel memiliki keunikan tersendiri. Pasalnya, sepak bola di Israel berkait pula dengan politik. Contohnya bisa ditilik dari “pola” penamaan klub sepak bola di sana yang berkait dengan identitas etnis, ideologi, dan kelas sosial-ekonomi. Hal itu kemudian memunculkan laga-laga derby atau rivalitas antarklub yang terbilang banyak untuk negara sekecil Israel.

(Maksudnya) Alat Pemersatu

Israel sejatinya merupakan salah satu negara pendiri Asian Football Confederation (AFC). Tim nasional “putih-biru” bahkan menjuarai turnamen Piala Asia pada edisi ketiganya (1964). Namun, keanggotaan Israel di AFC tidak bertahan lama lantaran konfliknya dengan negara-negara Arab.

Gara-gara konflik dengan Yordania pada 1967 dan Perang Yom Kippur pada 1973, Israel diboikot dan didepak dari AFC. Setalah itu, Israel sempat berpindah-pindah konfederasi. Israel tercatat pernah Oceania Football Confederation (OFC) hingga akhirnya diterima oleh Union of European Football Associations (UEFA) pada 1994.

Singkatnya, kelangsungan persepakbolaan Israel secara umum sangat bergantung pada situasi geopolitik. Sedari awal, kondisi politik yang melingkupinya sama sekali tak membantu cita-cita negara zionis itu menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu.

Menurut analisis Profesor Sejarah Pennsylvania State University Tamir Sorek, Israel menggunakan olahraga untuk mendobrak batasan antarbangsa dan perspektif mereka terhadap Palestina, sekaligus meredakan ketegangan antara warga Yahudi dan Arab di bawah satu bendera, satu tim nasional. Tapi di sisi lain, orang-orang Arab menjadikannya sarana kebanggaan nasional Palestina. Semua itu tentunya berarti konflik dan perbedaan kepentingan.

Lebih lanjut, negara yang dibangun oleh (mayoritas) Yahudi Eropa itu juga menjadi titik temu komunitas dari beragam latar—entah dari negara-negara Arab dan kawasan utara Afrika maupun dari timur Eropa dan Amerika.

Rivalitas lama pun terus berkembang di antara komunitas-komunitas itu, misalnya antara Yahudi dan Arab, Yahudi Ashkenazim dan Yahudi Mizrahim, ideologi kanan dan kiri, kaum religius dan sekuler, dan sebagainya. Sejarah, tradisi, hingga konteks sosial-politik membungkus aksi di lapangan hijau. Gesekan di bangku penonton tak jarang berlanjut di jalanan.

Perbedaan dan rivalitas itu juga tercermin dalam nama klub-klub Liga Israel, yang di antaranya terbagi menjadi Maccabi, Beitar, dan Hapoel.

Polarisasi Ideologi Maccabi, Beitar, dan Hapoel

Sejumlah klub Israel menggunakan simbol Bintang Daud pada logonya, sementara yang lain memajang simbol menorah. Keduanya adalah perlambang ideologi dan tradisi Zionisme. Dari sisi yang berlawanan, sejumlah klub memacak simbol palu-arit ala gerakan Komunisme pada logonya.

Meski tampak sama-sama lambang Zionisme, simbol Bintang Daud dan Menorah sebenarnya punya asosiasi politik yang berbeda. Bintang Daud biasa digunakan oleh tim-tim berhaluan zionis yang identik dengan kelas sosial tinggi. Klub macam ini dapat ditengarai dari nama depan Maccabi, seperti Maccabi Haifa dan Maccabi Tel Aviv.

Kata Maccabi sendiri berasal dari Maccabees, kelompok pejuang Yahudi yang berhasil mengambil alih Yudea dari Kekaisaran Seleukia.

Sementara itu, simbol menorah erat dengan klub-klub yang menyandang nama depan Beitar. Klub-klub itu berasosiasi dengan gerakan zionis revisionis dan berkait dengan Partai Herut (kini Likud)--partai nasionalis sayap kanan. Kendati jumlahnya tak sebanyak klub-klub Maccabi, dua tim Beitar—yaitu Beitar Tel Aviv Bat Yam dan Beitar Jerusalem—mampu menjaga eksistensinya di dua divisi teratas Liga Israel.


Jika klub-klub berhaluan nasionalis dan sayap kanan itu mengenakan simbol-simbol Yahudi, klub-klub bernama depan Hapoel—seperti Hapoel Tel Aviv dan Hapoel Jerusalem—menggunakan lambang ideologinya untuk logo mereka. Palu-arit tertera dalam logo mereka berikut merah sebagai warna utama. Pendukung klub-klub itu pun kerap mengibarkan bendera-bendera bergambar Karl Marx hingga Che Guevara.

Hapoel sendiri merupakan asosiasi olahraga terbesar di Israel yang didirikan oleh Histadrut—Serikat Buruh Israel. Bagi kaum pekerja dan penganut sosialisme maupun komunisme, cabang Hapoel di kota masing-masing otomatis menjadi klub pilihan. Ia jadi kontras dengan klub-klub Maccabi yang dianggap menjadi naungan kalangan borjuis.

Hapoel seolah menjadi ruang aman untuk koeksistensi masyarakat Israel yang multikultural.

Klub-klub bernama depan Hapoel, Maccabi, dan Beitar mendominasi liga-liga teratas Israel. Di IPL yang pada musim 2021/22 dihuni oleh 14 klub, misalnya, terdapat 1 klub Beitar, 4 klub Maccabi, dan 6 klub Hapoel.

Lantas, di mana ruang untuk orang-orang Palestina atau Arab-Israel di persepakbolaan Israel?

Infografik Sepak Bola Israel
Infografik Sepak Bola Israel. tirto.id/Quita


Posisi Arab dan Politik yang Tetap Tinggal

Di IPL, hanya ada satu klub yang mewakili komunitas Arab, yaitu Bnei Sakhnin. Klub ini berasal dari sebuah kota di utara, Sakhnin, yang 95 persen penduduknya adalah etnis Arab atau orang Palestina. Para suporternya menyemangati pemain mereka dalam bahasa Arab dan memaki tim atau pemain lawan dengan bahasa Ibrani.

Sebenarnya, sebagian warga Arab di Israel juga tak keberatan mendukung klub-klub Hapoel atau Maccabi. Hapoel yang berhaluan kiri memang lebih inklusif sehingga lumrah saja ada orang Arab yang mendukungnya. Tapi, mengapa ada orang Arab mendukung klub Maccabi?

Kendati berawal dari gerakan Zionisme, klub-klub Maccabi setidaknya lebih inklusif daripada klub Beitar. Klub Beitar Jerusalem, misalnya, dikenal sangat eksklusif dan menerapkan kebijakan antipemain Arab. Sebagian suporternya pun kerap meneriakkan yel-yel anti-Arab.

Tentu tak semua orang datang ke stadion dengan kepala yang dipenuhi gagasan politis. Dalam risetnya yang berjudul Football and Politics in Israel, Szymon Beniuk mencatat bahwa sebagian orang memilih sepak bola sebagai tontonan hiburan yang apolitis, integratif, dan adil.

Pesepak bola Arab juga tampil di klub-klub dari Haifa. Bagi pendukung asal Palestina, menjadi penggemar Maccabi Haifa tidaklah mutlak menjadi pendukung klub Israel. Bagi mereka, tim tersebut tak ubahnya representasi sebuah kota tempat budaya Yahudi dan Arab hidup berdampingan.

Pada awal dekade 1980-an, klub-klub di Liga Israel mulai diprivatisasi. Salah satu pengaruh privatisasi klub itu adalah kebebasan para pemain berpindah klub, sekali pun ke klub yang ideologinya berseberangan. Tak kalah penting, klub-klub Israel kini bisa menanggalkan asosiasi politiknya dan beroperasi sepenuhnya sebagai tim sepak bola profesional.

Namun, perubahan sepertinya tak serta-merta menjadikan segala lini membaik. Selain ideologi yang masih melekat, rivalitas kini bisa dibilang kian meruncing akibat kesenjangan finansial. Contohnya seperti kesenjangan yang terjadi antara dua klub ibu kota, Maccabi Tel Aviv dan Hapoel Tel Aviv.

Di Jerusalem, kondisinya pun sebelas-dua belas. Pemilik Beitar Jerusalem Moshe Hogeg sampai dibuat menyerah menghadapi basis penggemar anti-Arab. Upayanya mendobrak tradisi klub yang tak pernah membeli pemain Arab gagal dalam tiga tahun yang penuh gejolak. Hogeg akhirnya memutuskan untuk menjual setengah kepemilikan klub kepada seorang pengusaha Uni Emirat Arab pada akhir 2021.

Meski tantangannya besar, upaya mendorong sepak bola sebagai alat pemersatu terus dilakukan. Namun, yang lebih sukar lagi sebenarnya adalah mendepak politik dari stadion-stadion Israel. Mungkin tak akan pernah.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight