Menuju konten utama

Di Jamika, Sebuah Pesawat Latih Jatuh dan Membakar Pertokoan

Sebuah pesawat latih jatuh di daerah Jamika, Bandung, pada Januari 1996. Sebanyak 16 orang meninggal, dan 13 lainnya mengalami luka berat.

Di Jamika, Sebuah Pesawat Latih Jatuh dan Membakar Pertokoan
Header Mozaik Jamika Lautan Api. tirto.id/Tino

tirto.id - Kamis pagi, 18 Januari 1996, langit Bandung sangat cerah. Orang-orang di kota yang dikelilingi pergunungan ini menjalani aktivitasnya seperti biasa, termasuk di Jamika, sebuah kelurahan yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Alun-alun Bandung.

Mendengar namanya, barangkali kita akan teringat salah satu negara di Laut Karibia. Peta lama Bandung sudah mencantumkan nama Jamika sebagai nama sebuah jalan yang menghubungkan Jalan Raya Pos dengan kawasan Sukahaji dan Babakan Ciparay.

Jalan ini kemudian menjadi bagian dari jalan Lingkar Selatan yang terbentang dari pertigaan Jalan Jenderal Sudirman sampai perempatan Jalan Ahmad Yani dan Jalan R. E. Martadinata. Sampai saat ini, penulis belum menemukan sumber primer mengenai toponimi penamaan jalan tersebut.

Jamika berdekatan dengan Pasar Andir yang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi dan hiburan. Orang-orang kerap berdatangan mengunjungi pertokoan yang berjejer di bagian barat dan timur jalan untuk berbelanja atau sekadar jalan-jalan. Menjelang sore, mereka menyasar sebuah bioskop yang pernah menjadi primadona di kawasan ini.

Hari Kamis itu, orang-orang berkegiatan seperti biasa. Para pedagang, baik pedagang kaki lima maupun pemilik toko mulai menjajakan dagangannya. Sementara beberapa penarik becak bersiap di sejumlah titik, menunggu calon penumpang.

Di waktu yang sama, sebuah pesawat latih Beechcraft Baron 58 lepas landas sekitar pukul 11 siang dari Bandar Udara Husein Sastranegara. Pesawat milik lembaga Pendidikan dan Latihan Penerbang (PLP) Curug ini akan terbang menuju Curug, Tangerang, melalui Bandara Halim Perdana Kusumah, Jakarta.

Penerbangan ini membawa tiga siswa penerbang, yakni Syamsu Rizal, Kasna Riansyah, serta Emil Rochimil. Di bawah arahan pilot sekaligus instruktur Elvan Ardy, ketiganya secara bergantian melakukan latihan penerbangan dari Curug menuju Bandung dan rencananya kembali ke Curug melalui Jakarta.

Latihan ini mereka butuhkan untuk menambah jam terbang, sebelum lulus dari PLP. Program latihan terbang ke Bandung merupakan sesi latihan terakhir sebelum mereka diwisuda pada Maret 1996. Ketiganya termasuk dalam 28 siswa yang akan direkrut Garuda Indonesia dari Angkatan 52.

Beberapa saat setelah lepas landas, Elvan Ardi melapor kepada menara kontrol Bandara Husein Sastranegara bahwa salah satu mesin pesawatnya mengalami kerusakan dan meminta izin untuk mendarat kembali. Pesawat yang dijadwalkan mendarat di Bandara Halim Perdana Kusumah pukul 12.13 ini kemudian menukik tanpa terkendali sekitar pukul 11.30.

Dikutip dari harian Kompas edisi 19 Januari 1996, seorang saksi mata melihat pesawat datang dari arah barat dalam keadaan oleng. Menurut pria yang berprofesi sebagai tukang tambal ban dan mangkal 30 meter dari lokasi kejadian itu, mesin pesawat sudah mati dan tidak terdengar suaranya.

Saksi mata lain yang berada di seberang lokasi kejadian mengungkapkan, pesawat sempat menyambar parabola rumah berlantai tiga di Jl. Jamika No 6 dan selanjutnya menukik tajam, melaju ke jalan raya, menyambar tiang listrik dan menyeruduk toko kain Citra di Jl. Jamika nomor 13. Menurut pria yang berjualan alat tulis ini, terdengar ledakan keras dan api berkobar dari bahan bakar pesawat. Api dengan cepat menjalar ke toko di sampingnya, toko kelontong PD Agung dan toko arloji Idola.

Seorang tukang becak membeberkan, dirinya terkejut ketika pesawat datang dari arah depan. Dengan sigap, ia menyelamatkan diri walau sempat tersambar api. Menurutnya, pesawat yang menukik tajam itu sempat melaju di jalan raya sepanjang 5 meter sebelum menabrak tiang listrik dan toko.

Kedatangan pesawat dari arah udara membuat para pejalan kaki dan pedagang kaki lima berhamburan. Nahas, sebagian mereka yang merupakan penjaga toko, pejalan kaki, pedagang kaki lima, pengemudi becak, dan penumpang mobil tersapu oleh api yang membakar pesawat dan pertokoan.

Selain membakar empat bangunan toko, kobaran api melumat mobil Chevrolet yang kebetulan sedang parkir di depan toko kelontong PD Agung dan juga mobil Kijang yang sedang melaju di sekitar lokasi kejadian. Api juga membakar sebuah becak dan tiga sepeda motor bebek yang sedang parkir.

Dalam video milik TVRI yang diunggah oleh kantor berita Reuters, api yang besar dengan cepat membakar sejumlah toko. Juga sebuah becak dan dua mobil di tengah jalan dalam keadaan hangus terbakar. Besarnya api membuat petugas pemadam kebakaran bekerja keras.

Kejadian ini mengundang perhatian masyarakat Bandung. Mereka berbondong-bondong mendatangi lokasi kejadian dan segera memadatinya.

Irfan Noormansyah, salah satu saksi mata yang dihubungi penulis mengatakan, Jamika saat itu menjadi lautan manusia, jalanan macet. Ia yang saat itu berusia 8 tahun dibawa oleh orang tuanya untuk melihat lokasi kejadian.

Sebanyak 16 orang termasuk penumpang pesawat meninggal, dan 13 orang mengalami luka berat karena tidak sempat menyelamatkan diri. Para korban yang meninggal dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk diidentifikasi. Sedangkan korban selamat dan mengalami luka bakar dibawa Rumah Sakit Rajawali, RS Kebonjati, RS Immanuel, dan RSHS.

Kerusakan salah satu mesin pada pesawat Beechcraft Baron 58 diyakini menjadi penyebab jatuhnya pesawat latih ini. Dugaan ini berdasarkan pada laporan terakhir dari Elvan Ardi yang diterima oleh menara kontrol Bandara Husein Sastranegara, sesaat sebelum pesawat jatuh dan terbakar.

Infografik Mozaik Jamika Lautan Api

Infografik Mozaik Jamika Lautan Api. tirto.id/Tino

Namun, pihak Kementerian Perhubungan dan Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kol Pnb. Gaharudin G mengatakan bahwa pesawat yang dipakai untuk latihan ini sangat laik untuk terbang. Gaharudin menambahkan, kecelakaan bisa disebabkan oleh human and technical error.

Sayangnya, tim investigasi Ditjen Perhubungan Udara mengalami kesulitan saat meniliti penyebab musibah ini. Keping-keping pesawat di tempat kejadian sudah dikumpulkan di satu tempat sehingga menghilangkan banyak petunjuk berharga.

Salah satu petunjuk berharga yang ditemukan adalah posisi tuas throttle mesin kanan, yakni tuas yang mengatur kecepatan. Posisi tuas ini menguatkan laporan Elvan Ardi tentang matinya mesin pesawat bagian kanan saat pesawat berada di udara.

Dalam laman website yang berisi database daftar kecelakaan pesawat di Indonesia tahun 1996, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melaporkan bahwa pesawat dengan kode PK-ABE jatuh setelah mesin No. 2 mengalami masalah.

Setelah diidentifikasi, para korban diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing. Penyerahan jenazah tiga taruna dan instruktur dilakukan di PLP Curug, Tangerang. Mereka dimakamkan di TPU Sirnaraga dan Pandu, Bandung. Seorang lagi di salah satu permakaman di Kabupaten Garut.

Baca juga artikel terkait KECELAKAAN PESAWAT atau tulisan lainnya dari Hevi Riyanto

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Hevi Riyanto
Penulis: Hevi Riyanto
Editor: Irfan Teguh Pribadi