5 Oktober 2011

Di Balik Sukses Bisnis Steve Jobs: Ada Anak & Istri yang Diabaikan

Infografik Mozaik Steve Jobs
Steve Jobs. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Ahmad Zaenudin - 5 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Di balik gemerlap sebagai selebritas teknologi, Steve Jobs menyimpan catatan buruk terkait hubungan dengan istri dan anaknya.
tirto.id - Tiga bulan menjelang kematian ayahanda, Lisa, wanita berumur 33 tahun, mengendap-endap memasuki kamar tidur sang ayah. Alih-alih berbincang akrab atau menatap ayahnya yang tengah sekarat, Lisa malah mencuri berbagai barang, seperti pasta gigi, blush-on, mangkuk, cat kuku, dan sarung bantal.

“Usai mencuri, saya merasa lega,” aku Lisa.

Beberapa waktu kemudian, Lisa kembali ke kamar ayahnya. Bukan untuk kembali mencuri.

Menyadari ayahnya sudah sangat sekarat dan kini ditemani seorang biksu, Lisa mendekat, mendekap tubuh sang ayah.

“Lis?”
“Kenapa, Yah?”
“Kamu kok bau pesing!”

Sebelum adegan aneh itu terjadi, sang ayah menjalani operasi pada 2004, menerima transplantasi hati lima tahun kemudian, dan mengambil tiga kali cuti medis tatkala berstatus sebagai bos di sebuah perusahaan.

Sang ayah bernama Steve Jobs itu meninggal, tepat hari ini delapan tahun lalu.

Namun, menengok kembali fragmen ayah-anak itu, hubungan Steve Jobs dan anaknya, Lisa Brennan-Jobs, memang aneh, kalau tidak bisa dibilang buruk.

"28 Persen Populasi Pria Amerika Serikat adalah Ayah Lisa"

Dalam memoar berjudul Small Fry (2018) yang ditulis Lisa, Steve Jobs bertemu sang istri tatkala mereka masih sama-sama belajar di Homestead High School di Cupertino, California, Amerika Serikat, pada musim semi 1972. Kala itu, Jobs adalah siswa SMA sementara calon istrinya SMP.

Pertemuan mereka bermula saat Chrisann Brennan, ibunda Lisa, tengah mengerjakan proyek ekstrakurikuler membuat film, kombinasi antara animasi 2D, claymation (animasi tanah liat), dan aktor manusia.

“Pada Rabu malam, ayah melihat ibu tengah menggerak-gerakan boneka claymation. Lalu, ia menghampirinya dan memberikan album Bob Dylan berjudul Sad-Eyed Lady of the Lowlands,” kenang Lisa dalam Small Fry.

“Balikin, ya, kalau sudah selesai,” ucap Jobs sembari memberikan album itu.

Chrisann Brennan menuangkan kesan pertemuan perdana itu dalam memoar berjudul The Bite in The Apple: A Memoir of My Life With Steve Jobs (2013). Ia menyebut calon suaminya “pangeran jins lusuh yang canggung, tetapi pemberani.”


McCollum, salah seorang pengajar di sekolah Jobs dan Brennan, menyebut calon bos Apple itu sosok “penyendiri”.

Waktu pun berlalu. Jobs dan Brennan memutuskan untuk hidup bersama di sebuah kabin yang terletak di ujung jalan Stevens Canyon. Untuk membiayai hidup, Jobs bekerja bersama Steve Wozniak menciptakan The Blue Box, sebuah perangkat yang memungkinkan penggunanya melakukan sambungan telepon secara gratis alias ilegal.

Keputusan hidup bersama sebetulnya ditentang oleh keluarga kedua belah pihak. Namun, latar belakang kedua keluarga, terutama dari pihak Brennan, tidak memungkinkan keinginan hidup bersama itu dicegah. Ibu dan ayah Brennan bercerai. Bahkan, ibu Brennan mengidap penyakit mental. Sementara itu, ayah Jobs hanya bisa marah-marah mengetahui anaknya tinggal bersama Brennan.

Dalam Apple Confidential 2.0: The Definitive History of the World’s Most Colorful Company (2004) yang ditulis Owen W. Linzmayer, The Blue Box terbilang sukses. Perangkat itu dibuat dengan biaya $40, dan dijual Jobs seharga $150. Selepas 200 unit terjual, The Blue Box ditinggalkan Jobs dan Wozniak.

Lalu, pada 1976, kala Jobs berusia 21, Jobs dan Wozniak mendirikan Apple dengan modal sebesar $1.300 hasil dari menjual mobil Volkswagen miliknya. Brennan bekerja di bagian pengepakan perusahaan ini. Namun, tatkala hamil, Brennan keluar karena merasa malu. Bukan cuma keluar dari perusahaan, Brennan pun memilih untuk tidak tinggal bersama Jobs yang tengah sibuk membesarkan Apple.

Brennan tinggal di rumah kawannya. Kadangkala, sambil menunggu kelahiran, menurut Lisa dalam memoarnya, Brennan berpikir untuk menggugurkan kandungan. Ia urung menggugurkan kandungan karena berkali-kali bermimpi tentang “obor yang berdiri di antara kakinya”.

Saat Brennan hamil Jobs hanya sesekali mampir. Dan kemudian sikap buruk itu muncul. Jobs dengan tegas mengatakan bahwa bayi dalam kandungan Brennan bukan anaknya. Namun, tatkala si jabang bayi lahir ke dunia, Jobs-lah yang memberikan nama "Lisa".

“Bu, kenapa Ibu membolehkan dia memberikan nama ini padaku padahal dia terus-terusan mengatakan aku bukan anaknya?” tanya Lisa suatu waktu.

Dengan tegas, ibunya menjawab: “Karena Steve Jobs benar-benar ayahmu!”

Didorong biaya untuk membesarkan Lisa, Brennan mengajukan gugatan hukum kepada Jobs. Tes DNA dilakukan dan menyatakan bahwa Jobs 94,4 persen merupakan ayah kandung Lisa. Dalam wawancara dengan majalah Time (3/1/1983), Jobs mengomentari tes DNA itu. Dia mengklaim bahwa 28 persen dari total populasi laki-laki di Amerika Serikat bisa menjadi ayah Lisa.


Menurut Brennan, masih dalam memoarnya, komentar Jobs atas tes DNA yang dilakukannya adalah sesuatu yang “kejam dan menghina.”

Keberengsekan Jobs tak sebatas menyangkal tes DNA. Pada Januari 1983 Apple merilis komputer bernama Apple Lisa. David T. Craig dalam studi berjudul “The Legacy of the Apple Lisa Personal Computer: An Outsider's View" (1993) mengatakan bahwa proyek penciptaan Lisa mulai dilakukan pada 1979. Apple Lisa sendiri adalah proyek komputer yang didesain mudah digunakan oleh orang awam.

Craig mengatakan Apple membutuhkan 200 pekerja dan dana pengembangan sebesar $50 juta. Awalnya, Lisa dikembangkan dengan pendekatan komputer pada umumnya, yakni komputer berbasis teks. Sayangnya, ini akan membuat orang-orang awam kesulitan menggunakan Lisa—sesuatu yang tidak diinginkan Apple.

Guna mengubah rancang awal tersebut, mengutip pemberitaan Vox (9/9/2014), Steve Jobs memperoleh akses untuk melihat demonstrasi teknologi yang dikembangkan Xerox di salah satu fasilitas penelitian mereka di Palo Alto, AS. Teknologi yang ditunjukkan Xerox itu adalah konsep Graphical User Interface (GUI), yang memungkinkan pengoperasian komputer hanya dengan klik dan klik sederhana (Microsoft mempopulerkan konsep ini dengan nama N2F—Next, Next, and Finish), ketimbang menggunakan teks-teks pengkodean yang dibenci awam. Konsep windows, menu, ikon, dan konsep-konsep GUI lainnya, muncul dalam demonstrasi tersebut.

Apple Lisa menggunakan teknologi itu.

Sedihnya, alih-alih mengakui bahwa Apple Lisa diambil dari nama sang anak, Jobs tegas mengatakan bahwa Lisa adalah singkatan dari Locally Integrated Software Architecture.

Atas perlakuan ayahnya itu, Lisa menyatakan sering kali merasa aneh tatkala melihat foto Steve Jobs yang kini sudah jadi orang dan fotonya dimuat di banyak sampul majalah.

Lisa dan ibunya hidup merana karena tak diakui sang ayah. Mereka hidup berpindah-pindah karena masalah keuangan.

“Di California, ibu membesarkan saya sendirian. Kami orang tak punya, tapi ibu sangat baik dan saya bahagia. Kami sering pindah rumah. Kami tak punya rumah dan hanya ngontrak,” kenang Lisa dalam blog pribadinya.

Seiring waktu Jobs mengakui Lisa sebagai anaknya. Ia membayar biaya asuransi Lisa hingga $6.000 per bulan untuk kehidupan anaknya itu. Suatu waktu, Jobs mengajak Lisa berlibur. Saat itulah Lisa mengaku “melihat dunia yang lain, yang lebih glamor di sisi ayahnya” dan kontras dengan kehidupan ibunya.


Pebisnis Ulung

Mustahil memisahkan Steve Jobs dan Apple. Namun, dalam Apple Confidential 2.0: The Definitive History of the World's Most Colorful Company (2004) Owen Linzmayer menyebut bahwa Steve Wozniak punya peran lebih besar membentuk Apple.

Woz, sapaan akrab Wozniak, adalah penggemar berat dunia IT. Terinspirasi dari buku-buku bertema teknologi garapan Tom Swift dan pekerjaan ayahnya sebagai teknisi Lockheed, Woz senang mengutak-atik benda elektronik sejak kecil. Di usianya yang sangat belia, Woz sukses menciptakan komputer pertamanya, “Cream Soda Computer,” yang terbuat dari material bekas pabrik kosmetik.

Kala memasuki usia sekolah menengah, Woz bertemu Jobs yang usianya jauh lebih muda.

Duo Steve ini pun bersahabat. Suatu kali, tatkala Jobs bekerja untuk Atari, seorang atasan menantang Jobs untuk menciptakan versi baru dari gim Pong milik Atari. Menurut Linzmayer, Jobs awalnya yakin sanggup membuatnya seorang diri. Namun, karena pekerjaan membuat versi baru dari game itu sangat kompleks, Woz membantunya.

Iming-iming Jobs kepada Woz sebetulnya sederhana saja: jika sukses membuat varian game itu, Jobs akan mendapat $700. Jobs berjanji membagi separuhnya pada Woz. Benar saja, Woz sukses membantu Jobs menciptakan varian Pong itu.

Beberapa tahun kemudian, terkuak fakta bahwa Jobs tidak dijanjikan $700 oleh bosnya di Atari, tapi $5.000.

“Saya hanya menangis mendengar nilai imbalan sesungguhnya itu,” kenang Woz sebagaimana diutarakan Linzmayer.

Woz memang sedih atas ketidakjujuran temannya itu. Namun, itulah sifat Jobs. “Jika kamu menciptakan barang dengan biaya 30 sen dan menjualnya seharga $6, kamu tidak perlu bercerita apapun soal itu. Itulah filosofi bisnis Jobs," ujar Jobs.

Pada dasarnya Jobs adalah pebisnis. Pebisnis ulung alih-alih ahli IT.

“Steve tidak memiliki kemampuan merancang perangkat dengan kompleksitas tinggi,” tegas Woz.

The Blue Box, Apple I, Apple II adalah rancangan Woz, bukan Jobs.

“Steve tidak menciptakan satu sirkuit, rancangan, atau kode pemrograman,” tambah Woz.

Pada setiap perangkat yang diciptakan Woz, Jobs selalu bersemangat. “Ayo tunjukan produk ini ke dunia dan jual,” ujar Woz menirukan ucapan temannya itu,

Meskipun Jobs lebih cocok disebut pebisnis daripada ahli IT, tak bisa dipungkiri, Apple jauh berkembang di tangannya ketimbang saat dipimpin Tim Cook. Ketika Jobs masih hidup hingga ia meninggal pada 5 Oktober 2011, tepat hari ini 8 tahun lalu, Apple menciptakan Apple I, Apple II, Apple III, Apple Lisa, Macintosh, Apple Newton, iMac, iBook, iPod, Macbook, iPhone, iPad, hingga Apple TV.

Di tangan Cook, Apple hanya menciptakan Apple Watch. Tentu, dengan merilis versi pembaruan Macbook, iPhone, iPad, iPod yang telah dinaikkan harganya.

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight