tirto.id - Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Dhenni Ribowo, menilai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok hingga persoalan ketersediaan BBM subsidi, menjadi pemantik gelombang aksi mahasiswa dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, persoalan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat berpotensi mendorong makin banyak kelompok turun ke jalan menyampaikan protes kepada pemerintah.
“Ruang-ruang perjuangan di jalanan ini akan masif ketika menyentuh dua hal, yang pertama ruang-ruang penindasan terhadap isu kemanusiaan, yang kedua yaitu isu perut masyarakat,” kata Dhenni saat ditemui di sela aksi mahasiswa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa mengusung Tritura atau Tiga Tuntutan Rakyat, yakni memulihkan ekonomi dan politik nasional, memberantas inkompetensi pejabat negara, serta mengembalikan supremasi sipil.
Tuntutan itu dijabarkan ke dalam sejumlah poin, antara lain menurunkan harga bahan pokok, meningkatkan ketersediaan BBM subsidi, menghentikan pemborosan APBN, mengevaluasi total program Makan Bergizi Gratis (MBG), memperbaiki komunikasi pemerintah kepada publik, menolak revisi UU Polri, membebaskan tahanan politik, menghentikan represivitas aparat dan militerisme di ranah sipil, hingga menolak proyek strategis nasional yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Dhenni menilai persoalan ekonomi menjadi keresahan yang paling dekat dirasakan masyarakat saat ini. Ia menyoroti kondisi daya beli yang melemah di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan, serta kelangkaan BBM subsidi yang menurutnya membebani masyarakat.
“Hari ini mereka menaikkan tanpa aba-aba dan juga BBM subsidi yang katanya buat rakyat hari ini kosong semua. Hari ini semuanya menjerit dan itu berdampak kepada masyarakat dengan daya beli yang lemah dan juga lapangan kerja yang tidak bisa disediakan secara masif,” ujarnya.
Menurut Dhenni, pemerintah perlu segera memprioritaskan stabilitas harga kebutuhan pokok dan memastikan ketersediaan BBM subsidi. Ia menyebut dua persoalan tersebut sebagai kebutuhan paling mendesak yang harus segera ditangani.
“Perbaikan paling mendesak adalah jaga stabilitas kebutuhan pokok. Masyarakat belum dibekali dengan pekerjaan yang layak, belum dengan upah yang layak, belum semuanya dapat pekerjaan,” kata dia.
Dhenni juga mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menggunakan anggaran pendidikan. Menurutnya, kebijakan tersebut menyimpang dari amanat konstitusi yang menempatkan anggaran pendidikan untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan, bukan membiayai program makan bergizi.
“Kesalahan pertama MBG menurut saya pribadi adalah dia menghianati mandatory spending 20 persen yang sudah diberikan konstitusi. Makna pendidikan yang dimaknai oleh konstitusi itu bukan makan, makna pendidikan yang dimaknai oleh konstitusi itu pencerdasan,” ujarnya.
Dhenni menegaskan aksi mahasiswa akan terus berlangsung selama pemerintah belum mampu menjawab persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama terkait kebutuhan pokok dan BBM subsidi. Menurutnya, keresahan publik akan semakin membesar ketika tekanan ekonomi terus meningkat.
“Kalau sudah mulai terasa lapar, nantinya akan secara otomatis entah rakyat, entah mahasiswa, atau siapa pun akan keluar dengan sendirinya protes terhadap pemerintah,” pungkasnya.
Penulis: Nanda Surya
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id
































