22 Januari 2001

Deddy Stanzah: Hidup dan Mati Untuk Rock N Roll

Oleh: Nuran Wibisono - 22 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Deddy Stanzah dikenal sebagai bassist dan vokalis grup rock asal Bandung, The Rollies.
tirto.id - Arthur Conan Doyle, sang pencipta karakter Sherlock Holmes, pernah berkata bahwa cara terbaik untuk sukses akting adalah menjadi apa yang kamu perankan. Tepat di situ, Deddy Stanzah menemukan pembenaran dari kalimat Doyle.

Pada era 1970-an, ada banyak musisi yang ingin menjadi Mick Jagger, figur sentral band Rolling Stones. Dari semua yang mencoba, lebih banyak gagal. Dari sedikit yang berhasil, ada dua nama yang paling tenar: Mickey Mackelbach dari grup Jaguar, dan Stanzah dari The Rollies. Namun menurut wartawan senior Denny MR, ada satu perbedaan besar dari dua nama ini.

“Mereka sangat menjiwai Jagger. Bedanya, kalau Mickey menjiwainya cuma di atas panggung. Kalau Deddy menjiwai Jagger sampai ke keseharian,” tutur Denny.

Stanzah lahir di Bandung pada 14 April 1949 dengan nama asli Deddy Sutansyah. Orang tuanya adalah pemilik hotel yang cukup terkenal di Bandung kala itu. Stanzah memanfaatkan privilese keluarganya dengan baik dan benar: bikin band. Apa boleh bikin, di era itu hanya orang berduit yang bisa main band. Beruntung, orang tua Stanzah dengan senang hati menjadi pemodal bagi band anaknya.

Maka pada 1967 terbentuklah The Rollies, band yang Stanzah bentuk bareng drummer Iwan Krisnawan, gitaris Tengku Zulian Iskandar, dan Delly Djoko Alpin yang main organ serta gitar. Belakangan, bergabung pula Bangun Sugito alias Gito Rollies dan Benny Likumahuwa yang main saksofon.


Dilihat dari segi manapun, Rollies adalah sebuah nama yang paten sebagai band. Ada unsur keren, singkat, dan mudah diingat. Ada dua versi penamaan Rollies. Ada yang bilang itu adalah gabungan dari Rolling Stones dan The Hollies. Juga ada yang bilang Rollies merujuk pada rambut mereka yang keriting dan lurus. Pada pengarsip musik Denny Sakrie, Deddy merujuk yang kedua.

“Roll itu berarti rambut ikal, dan lies itu artinya lurus. Jadilah Rollies,” tulis Sakrie tentang obrolannya dengan Stanzah pada 1997 lampau.

Bersama Rollies, Stanzah main bass dan turut sumbang suara, malah belakangan lebih banyak dikenal sebagai vokalis. Mereka sempat melakukan residensi alias menjadi home band cafe atau bar di luar negeri, praktik mencari pengalaman manggung yang lazim dilakukan oleh band-band Indonesia era 1970-an. Di Singapura, Rollies sempat merekam dua album, yakni The Rollies dan Halo Bandung.

Total jenderal, Stanzah bikin lima album bareng The Rollies. Di band ini juga, Stanzah menjiwai jargon sex, drugs, rock n roll yang amat populer. Dia mulai pakai narkoba. Hidupnya jadi sungsang. Berantakan. Dia jadi tak disiplin. Sering teler di waktu yang tak tepat. Ujungnya, Stanzah dipecat dari band yang dibentuknya sendiri.


Dalam arsip majalah Aktuil, Stanzah resmi keluar dari The Rollies pada 6 Januari 1974. Dia dapat “pesangon” Rp 450 ribu, yang dianggap sebagai uang jasa dan penghargaan. Sebenarnya pemecatan Stanzah adalah hal yang berat. Gito, kawan karib yang juga pernah bikin duo bernama Happines bareng Stanzah, sempat mengeluarkan keluh kesahnya.


“Mau omong apa lagi kalau keputusannya begitu. Gue sih maunya gak ada pilih kasih, Stanzah tetap gabung sambil kasih dia kesempatan memperbaiki kelakuan jeleknya. Gue yakin dia bisa berubah. Biar bagaimana juga Stanzah banyak jasanya, sebagai pendiri, sebagai yang kasih nama, dan sebagai yang mengangkat nama The Rollies,” ujar Gito.

Sempat limbung, Stanzah toh jalan terus. Dia sempat bikin Silvertrain bareng Harry Minggoes, Delly dari Rollies, Agus, dan Yaya Moektio. Perjuangan Stanzah tak mudah. Band ini kerap dibayar murah. Terpaksa Stanzah sering nombok. Bahkan pada sebuah duel meet—istilah untuk menyebut dua band yang dipertemukan untuk adu kemampuan di atas panggung—bareng Brotherhood, Stanzah menggadaikan jam tangan Rolex miliknya.

“Honor band ini cuma Rp 500 ribu. Gak cukup, total pengeluaran kami Rp 950 ribu. Gue mumet cari tambahannya. Jadi gue maunya jual saja jam tangan Rolex buat show, gue kasih murah harga cuma Rp 2 juta,” kata Stanzah.

Dari semua proyek bermusiknya—termasuk sempat gabung dengan God Bless dan bikin Tripod bareng Yaya Moektio, Chris Manusama, serta Triawan Munaf—tak ada yang lebih tenar ketimbang Superkid. Ini adalah supergrup pada masanya, yang dibentuk oleh Denny Sabri, jurnalis kesohor sekaligus impresario yang membawa Deep Purple ke Jakarta pada 1975.

Meski Sabri pernah bekerjasama sebagai penulis lagu di album duet Stanzah dan Gito, mengajak Stanzah gabung dengan Superkid tak mudah. Padahal saat itu Stanzah sedang bujangan, alias tak punya band tetap. Baru setelah dikabari bahwa band ini trio dan akan memainkan musik seperti Grand Funk Railroad, Stanzah mulai tertarik.

“Gue memang pengangguran tapi gak gampang bikin band baru,” ujarnya.

Superkid kemudian mengentak. Personelnya memang cuma tiga, tapi ramainya seperti satu peleton. Selain Stanzah yang pegang bass dan nyanyi, band ini juga diperkuat Deddy Dores pada gitar, keyboard, dan vokal, juga Jelly Tobing yang main bedug Inggris. Album pertamanya, Trouble Maker (1976), adalah sebuah album yang solid. Perpaduan hard rock, blues, rock n roll, psikedelik, juga pop yang gagah.

Simak “Trouble Maker” yang part awal gitarnya mengingatkan pada “Immigrant Song” dan di bagian solo gitarnya akan membuat orang lupa bahwa Dores adalah orang di balik lagu-lagu pop mendayu di era 1980 dan 1990-an. Atau dengar “Further in the Sea” yang seolah dibuat dan dimainkan oleh tiga musisi teler. Mengawang dan mengambang dalam bentuk terbaiknya.


Bersama Superkid, nama Stanzah kembali melambung dan bikin enam album, termasuk album dahsyat Dezember Break dan album terakhir Gadis Bergelang Emas (1988). Lepas dari Superkid, dia menekuni karier sebagai solis yang cukup sukses, termasuk membawakan “Sepercik Air” yang merupakan lagu dari Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1978.

Infografik Mozaik Deddy Stanzah
Infografik Mozaik Deddy Stanzah. tirto.id/Sabit


Album terakhir Stanzah adalah Paradox yang dirilis pada 2001. Vokalis The Upstairs, Jimi Multazham punya pengalaman menarik soal album ini. Ketika album ini dirilis, posternya banyak ditempel di jalan sekitar Matraman. Kovernya, menurut Jimi, menarik dengan rambut Stanzah yang warna-warni, lengkap dengan pemberitahuan “The Last Album”. Maka Jimi pun tertarik membelinya di toko buku Gunung Agung.

Mbak penjaga toko kaset mengambil kaset permintaan Jimi. Lalu memutarnya. Musik mengalun keras dari speaker hingga luas. Gitarnya renyah, beat drumnya asyik. Hingga Stanzah buka suara.

“Aku suka mabuk-mabukan!”

Si Mbak penjaga toko kaset langsung kaget dan mematikan kasetnya.

“Ini lagu apa sih, Mas?!”

Si Mbak kesal dan bilang kaset ini tak boleh diputar. Jimi mengalah dan langsung membayar kaset incarannya itu.

“Kaset itu langsung gue beli, dari satu line itu,” kenang Jimi.

Album Paradox digarap Stanzah sejak 2000-an. Tak lama setelah itu, Stanzah meninggal dunia di usia 51 tahun, pada 22 Januari 2001, tepat hari ini dua dekade lalu. Album itu pas betul sebagai karya perpisahan Stanzah, sebab mungkin tak ada kata lain selain paradoks yang amat cocok menggambarkan Stanzah.


Terlahir dari keluarga kaya, alih-alih meneruskan bisnis keluarga, Stanzah memutuskan menapaki jalan ingar bingar yang saat itu dekat dengan kepahitan: jalan musik. Di dunia yang dicintainya ini, Stanzah mengorbankan nyaris segalanya. Dari kekayaan sampai kesehatan.

Stanzah adalah seorang mega bintang tapi kelakuannya tak semena-mena seperti banyak mega bintang lain. Dia bahkan rela nombok, atau tak dibayar, untuk manggung. Yang penting naik ke panggung dan gila-gilaan. Di forum-forum penggemar musik, seperti Aktuil the Legend, ada banyak kisah menarik tentang Stanzah. Seperti bagaimana ia dikenal banyak orang, mulai dari penjual teh botol, preman, hingga para pejabat. Semua orang Bandung merasa amat mengenalnya, menganggap Stanzah adalah bagian dari mereka. Bukan seorang mega bintang yang mustahil dijangkau.

Dia beberapa kali jatuh, walau terus bangun. Sebagai seorang penyanyi, dia sadar pentingnya citra. Dengan citranya, Stanzah mengukuhkan namanya sebagai vokalis paling dikenal dan eksentrik di Indonesia kala itu. Apa boleh buat, dalam bangunan citra itu, ada bopeng yang terus diingat orang. Meski demikian, karya-karyanya seakan menutup semua kekurangan itu.

“Deddy waktu itu dekat dengan 'kriminalitas'. Narkoba dan sebagainya. Cuma cerita miring Deddy itu berbanding lurus dengan prestasinya di dunia musik. Banyak orang memandang Deddy dari segi miring tapi melupakan karyanya di musik, itu kurang fair,” ujar Denny MR.

“Paradox” adalah salah satu karya terbaik Stanzah. Ia adalah tuturan biografis mengenai kehidupannya, juga sifatnya. Ya, dia pemakai narkoba. Dan sebagai musisi dia kerap tak disiplin. Tapi Stanzah adalah orang yang mengabdikan diri untuk rock n roll, orang yang “…siang jadi mentari, dan malam jadi rembulan.” Dia Stanzah yag membenci orang sok bersih, sok bener, sok tahu, dan sok kaya. Dengan “Paradox” pula, Stanzah melambaikan salam perpisahan.

Aku sahabat kematian
Selamat jalan kawan-kawan

Baca juga artikel terkait THE ROLLIES atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh
DarkLight