Debat Pilpres 2019: 'Duel' Infrastruktur Langit vs Sedekah Putih

Oleh: Felix Nathaniel - 19 Maret 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ma'ruf Amin bicara soal "infrastruktur langit", sementara Sandiaga Uno "sedekah putih". Keduanya membuat tim kampanye saling serang.
tirto.id - Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahuddin Uno sama-sama mengeluarkan istilah yang tidak biasa dalam debat ketiga Pilpres 2019 yang digelar Ahad (17/3/2019) lalu. Ma'ruf bicara soal "infrastruktur langit", sedangkan Sandiaga "sedekah putih".

Dua hal ini memicu kritik dari masing-masing kubu.

Sandiaga mengatakan bahwa sedekah putih termasuk dalam program Indonesia Emas. "Gerakan ini adalah untuk memastikan ibu-ibu, emak-emak, mendapatkan protein yang cukup susu maupun asupan protein yang lain, ikan dan lain sebagainya, juga anak-anaknya," jelas Sandi.

Setelah Sandiaga menjelaskan maksudnya itu, Ma’ruf Amin langsung menanggapi dengan menyebut kalau banyak pihak menangkap bahwa sedekah putih adalah memberikan susu setelah anak selesai disusui oleh ibunya. Padahal, kata Ma'ruf, susu yang paling baik untuk mencegah stunting adalah air susu ibu yang diproduksi sejak masa kehamilan.

"Stunting sudah tidak bisa diatasi setelah dua tahun [anak] disusukan. Karena itu menurut saya istilah itu menimbulkan pemahaman yang mengacaukan masyarakat," katanya.

Sandiaga kemudian menjawab dengan memberi contoh kasus istrinya, Nur Asia Uno, yang melahirkan anak bungsu di usia 42 tahun. Air susu istrinya, beber Sandi, berhenti di masa-masa masih menyusui, dan ia yakin banyak ibu yang mengalami hal serupa.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mengatakan harusnya Sandiaga paham bahwa pangkal masalahnya adalah pada ibu si anak. Mereka sepatutnya didorong untuk bisa memenuhi dan memproduksi air susu sendiri.

"Padahal yang ingin ditegaskan kiai Ma'ruf adalah anak akan tumbuh dengan baik kalau [si ibu] dari mulai awal pernikahan sampai anak berusia dua tahun mendapat gizi yang bagus," ucap Ace di Jakarta, Senin (18/3/2019) kemarin.

Politikus Partai Golkar ini kemudian menilai ucapan Sandiaga yang malah mencontohkan kasus istrinya tidak tepat. Ace menuturkan Sandiaga tak menjawab substansi masalah.

"Jadi 'jaka sembung, enggak nyambung," kata Ace lagi.


Sedangkan soal infrastruktur langit, Ma'ruf mengatakan bahwa itu terkait dengan "infrastruktur digital" semisal Palapa Ring. Infrastruktur seperti ini yang akan dia tingkatkan sehingga akan semakin banyak perusahaan rintisan di Indonesia.

"Pemerintah kita sekarang sudah bisa membangun infrastruktur, baik infrastruktur darat, infrastruktur laut, infrastruktur udara, dan infrastruktur langit. Infrastruktur langit itu adalah melalui Palapa Ring, mengenai infrastruktur digital, sehingga sekarang tumbuh usaha-usaha seperti startup, bahkan juga unicorn. Bahkan juga kemungkinan sebentar lagi akan ada decacorn," kata Ma'ruf.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Ferdinand Hutahaean mencela pernyataan itu dengan menyebut kalau infrastruktur langit itu untuk orang tua menuju akhirat. Ini ia katakan di Twitter, memicu keributan, dan lalu dihapus. Ferdinand sendiri menampik bahwa cuitannya itu berkaitan dengan pernyataan Ma'ruf Amin.

Politikus Partai Demokrat itu kemudian mengatakan kalau pernyataan Ma'ruf terlalu bertele-tele. Ferdinand menyatakan Ma'ruf sama saja dengan Jokowi. Dulu Jokowi juga pernah menyebut soal tol laut yang, katanya, tidak jelas apa artinya.

"Sekarang bicara infrastruktur langit. Kenapa enggak bicara saja soal akan membangun dunia digital yang bagus, malah bicara soal infrastruktur langit," kata Ferdinand kepada reporter Tirto.

Ferdinand menambahkan bahwa urusan langit seharusnya tentang akhirat, bukan infrastruktur. Diksi yang digunakan Ma'ruf dianggap membingungkan.

"Jangan bicara infrastruktur langitlah kalau enggak bicara soal surga. Gunakan saja bahasa yang normal," imbuhnya.


Dituntut Inovatif


Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin menyampaikan bahwa kedua cawapres memang berusaha membuat debat menjadi ajang mengeluarkan sesuatu yang baru. Soalnya, selama ini masyarakat menuntut paslon melakukan inovasi.

"Mereka terdesak keadaan. Masyarakat menginginkan sesuatu yang baru [...] Selain itu mereka ingin menunjukkan sebagai orang terdidik," kata Ujang kepada reporter Tirto, coba menjelaskan kenapa keduanya mengeluarkan istilah-istilah tak lazim.

Istilah baru--meski sekali lagi tak lazim--juga penting dalam rangka menggaet pemilih.

"Jadi ada terapi kejut. Memunculkan sesuatu yang baru agar diingat terus oleh masyarakat," tegasnya lagi.

Meski tujuannya memenuhi ekspektasi pemilih, tapi bagi Ujang debat kemarin belum mencukupi. Tim sukses perlu bicara ke masyarakat hingga tataran teknis agar program yang dijanjikan tak sekadar jadi 'kosmetik'.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAWAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino