Damir Skomina, Wasit Kontroversial Pengadil Ajax vs Real Madrid

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 13 Februari 2019
Dibaca Normal 2 menit
Damir Skomina, wasit pengganti dadakan yang diplot UEFA untuk memimpin laga Ajax vs Real Madrid. Ia punya rekam jejak kontroversial selama jadi pengadil pertandingan.
tirto.id - Hanya dua hari sebelum waktu kickoff atau Senin (11/2/2019) kemarin, secara mendadak UEFA mengganti wasit untuk duel leg pertama 16 besar Liga Champions antara Ajax vs Real Madrid. Dalam laga yang akan dihelat di Johan Cruyff Arena, Kamis (14/2/2019) dini hari waktu Indonesia, Szymon Marciniak sebelumnya diplot sebagai pengadil, tapi kemudian diganti Damir Skomina.

"Damir Skomina akan menjadi wasit bagi laga leg pertama babak perdelapan final Champions League yang akan dimainkan antara Ajax dan Real Madrid di Johan Cruyff Arena. Ini merupakan yang kesembilan kalinya ia memimpin laga Los Blancos di kompetisi ini," tulis Real Madrid dalam pengumuman di laman resmi klub.

Pergantian ini langsung memicu perdebatan. Pasalnya, Skomina--entah kebetulan atau tidak--merupakan wasit yang memimpin pertemuan Ajax dan Real Madrid di fase grup Liga Champions, 15 September 2010 lalu. Saat itu Los Blancos menang lewat sepasang gol Gonzalo Higuain.

Skomina juga tercatat sebagai wasit dengan beberapa pengalaman memimpin laga yang melibatkan Ajax maupun El Real di Eropa. Jika dibandingkan, Madrid lebih sering mendapat kemenangan saat dipimpin wasit ini.

Total delapan kali sudah Los Blancos diadili Skomina sejak periode 2010-2011, seluruhnya di Liga Champions. Masing-masing menghadapi Ajax, Lyon, Manchester City (dua kali), Borussia Dortmund, FC Basel, Schalke, dan Napoli. Hanya dua kali mereka kalah, yakni saat berhadapan dengan klub Jerman: Dortmund dan Schalke.

Adapun pada enam laga sisanya, di bawah pengawasan Skomina, Real Madrid selalu menang.

Sebaliknya, Ajax Amsterdam punya rekam jejak lebih mengkhawatirkan saat dipimpin Skomina. Empat kali bersua wasit tersebut, de Amsterdammers cuma bisa sekali menang, tepatnya saat bertemu Manchester United di Liga Eropa musim 2011-2012. Dua kali mereka kalah (termasuk lawan Madrid), dan sekali bermain imbang kontra Dynamo Kiev.

Kontroversi Damir Skomina

Damir Skomina sebenarnya bukan nama sembarangan. Ia pernah ditunjuk sebagai wasit pada final Liga Eropa 2016-2017. Namun, pencapaian tersebut tidak lantas membuatnya bisa dipisahkan dari rekam jejak kontroversial.

Pada 2015, Skomina pernah jadi bahan cacian pelatih Chelsea saat itu, Jose Mourinho. Mourinho menuding Skomina 'lemah dan naif' karena tidak berani mengambil keputusan tegas saat memimpin laga Chelsea vs Dynamo Kiev dalam kompetisi Liga Eropa.

Mou menuding Skomina memihak lawan karena tidak memberikan tendangan penalti untuk Chelsea, padahal menurutnya pemain Dynamo Kiev terlihat melakukan pelanggaran keras terhadap Cesc Fabregas di dalam kotak terlarang. Laga itu sendiri berkesudahan dengan imbang skor 0-0.

"Wasit yang memimpin pertandingan lemah dan naif, harusnya jelas penalti. Saya tidak tahu lagi apa yang dilakukannya, dia bahkan tidak membuat sebuah keputusan," ucap Mou kepada BT Sport.

Kritik atas kejadian serupa pernah dilontarkan pengamat sepakbola dan legenda Chelsea, Michael Ballack atas keputusan Skomina pada Liga Champions tahun lalu. Dalam laga 16 besar antara Chelsea vs Barcelona, sang wasit lagi-lagi tak berani tegas karena tidak memberikan penalti atas pelanggaran Gerrard Pique terhadap Marcos Alonso.

"Cerita yang sama #wasit," tulis Ballack lewat akun Twitter resminya.


Tak cuma jadi bahan gunjingan dua orang Chelsea, Skomina sempat diprotes keras oleh eks pelatih Arsenal, Arsene Wenger. Pria asal Perancis itu bahkan berani memprotesnya di atas lapangan, saat timnya bersua AC Milan pada Liga Champions tahun 2012.

Pertandingan itu dimenangkan Arsenal 3-0. Namun, Meriam London tetap tak lolos ke fase berikutnya karena kalah agregat 3-4.

Wenger menuding Skomina tidak adil karena memberikan terlalu banyak tendangan bebas untuk AC Milan. Akibat protes tersebut, Wenger bahkan dijatuhi UEFA hukuman larangan mendampingi klub di tiga laga dan denda 40 ribu euro.

Namun, Wenger sama sekali tak menyesali protes itu. Ia justru menyerang UEFA atas hukumannya, dengan menyebut Skomina dilindungi secara subjektif oleh induk sepakbola Eropa tersebut.

"Jika saya [dihukum], jelas bukan hal yang benar, dan saya akan banding. Saya percaya bahwa para wasit sudah mengubah kompetisi UEFA jadi ikon tak tersentuh, di mana Anda bahkan tidak dapat mengkritik. Satu-satunya yang mereka pahami setelah laga adalah melaporkan orang yang mengkritik mereka," sebut Wenger.

Atau, tidak usah jauh-jauh. Baru pada semifinal Liga Champions antara AS Roma vs Liverpool musim lalu, kepemimpinan Skomina mendapat cecaran massal. Tak cuma oleh pemain dan pelatih AS Roma, kepemimpinan Skomina dikritik editor Corriere dello Sport, Alessandro Vocalelli.

Menurut Vocalelli, setidaknya ada dua penalti yang seharusnya diberikan Skomina untuk Roma dan barangkali dua kartu merah untuk pemain Liverpool.

"Sebuah pertandingan yang hampir sempurna dirusak wasit," tulis Vocalelli setelah laga, seperti diwartakan The Guardian.

Seolah ingin menimpali komentar Vocalelli, Presiden AS Roma, James Pallotta bahkan tak tanggung-tanggung mengatai Skomina dengan menyebut kinerja sang wasit sebagai sebuah lelucon. Ia bahkan sampai menyuarakan permintaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) yang musim lalu belum dipakai di Liga Champions.

"Liverpool adalah tim yang hebat, selamat [telah mengamankan kami]. Tapi jika VAR tidak segera diterapkan di Liga Champions, saya rasa hal seperti ini adalah lelucon yang sempurna," tandasnya.

Musim ini, VAR telah diterapkan di Liga Champions sesuai permintaan Palotta. Namun tidak ada jaminan teknologi tersebut bisa memperbaiki rekam jejak Skomina yang penuh kontroversi.


Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mufti Sholih