Daftar Paham Besar Ideologi yang Pengaruhi Sejarah Asia-Afrika

Kontributor: Alhidayath Parinduri - 10 Nov 2021 12:23 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Masuknya ideologi besar memberikan pengaruh terhadap sejarah pergerakan di wilayah Asia-Afrika.
tirto.id - Beberapa paham besar seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, dan pan-islamisme mempengaruhi sejarah di kawasan Asia-Afrika.

Ideologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu idea yang berarti ide atau gagasan dan logos yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi, secara istilah ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang ide atau gagasan.

Ideologi pertama kali dikenalkan oleh seorang filosof berkebangsaan Prancis bernama Destutt de Tracy tahun 1796.

Firdaus Syam dalam Pemikiran Politik Barat: Sejarah, Filsafat, Ideologi dan Pengaruhnya Terhadap Dunia Ketiga (2007: 238), menyebutkan Ideologi dapat dikatakan sebagai mitos yang menjadi political doctrin (doktrin politik) dan political formula (formula politik).

Inilah yang menjadikan ideologi dipandang sebagai sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam serta dipegang teguh oleh masyarakat.

Sejak pertama kali berkembang di Prancis, ideologi memberikan pengaruh penting terhadap berbagai peristiwa diberbagai belahan dunia. Masuknya ideologi, seperti nasionalisme, liberalisme, sosialisme, demokrasi, dan pan-islamisme memberikan pengaruh terhadap sejarah pergerakan di wilayah Asia-Afrika.


Nasionalisme


Nasionalisme berasal dari bahasa Inggris nation atau natie dalam bahasa Belanda yang berarti bangsa.

Mengutip pandangan Hans Kohn dari Modul Pembelajaran Sejarah Kelas XI SMA karya Yuliani (2020: 8), nasionalisme merupakan suatu paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara dan bangsa.

Paham ini awalnya berkembang di Eropa, tepatnya pada akhir abad pertengahan. Masih dari Yuliani, perkembangan nasionalisme dipengaruhi dari peristiwa perang agama antara Belanda (Kristen Protestan) dengan Spanyol (Kristen Katolik).

Perjuangan Belanda terhadap penjajahan Spanyol merupakan upaya untuk menegakkan nasionalisme di Eropa untuk pertama kalinya pada abad ke-17.

Di Asia-Afrika, paham nasionalisme muncul sebagai akibat dari kolonialisme dan imperialisme yang dilakukan bangsa Barat. Sebagai contoh di Indonesia paham ini lahir pada 1920 setelah terjadi penjajahan dan perbudakan yang dilakukan Belanda.

Selain itu, di Mesir paham ini muncul dari pemberontakan Arabi Pasha (1881-1882). Awalnya gerakan itu anti terhadap bangsa asing, kemudian menjadi gerakan untuk menuntut perubahan sistem pemerintahan.

Liberalisme


Mengutip dari Semangat Melawan Penjajah di Asia Afrika karya Soepriyatno (2018: 5), liberalisme merupakan suatu paham yang menghendaki kebebasan individu, baik dalam bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, agama, maupun kebebasan sebagai warga negara.

Paham ini muncul sebagai reaksi penindasan oleh kaum bangsawan dan agamawan pada masa perkembangan feodalisme dengan pemerintahan monarki absolute.

Puncaknya adalah peristiwa Revolusi Prancis tahun 1789-1815. Pengaruh paham liberalisme di Asia-Afrika dapat dirasakan saat terjadi penjajahan oleh bangsa Barat, seperti Indonesia saat dijajah Belanda, dan Mesir saat dijajah oleh Prancis.

Sosialisme


Mengutip kembali dari Soepriyatno, sosialisme merupakan paham yang menghendaki masyarakat disusun kolektif dan menghendaki sektor alat produksi terpenting dikuasai negara demi kemakmuran masyarakat.

Dalam pelaksanaannya paham ini menganut prinsip sama rata sama rasa. Sosialisme lahir atas reaksi terhadap melebarnya sayap-sayap ideologi liberalisme.

Saat itu, industrialisasi dikuasai oleh kaum kapitalis. Dalam menjalankan perusahaan, kaum kapitalis telah menyengsarakan pekerja (buruh). Sementara itu, kaum kapital semakin kaya dan menguasai ekonomi rakyat.

Perjuangan tokoh-tokoh sosialisme dunia antara lain Karl Marx dan Friedrich Engels yang menulis buku berjudul Das Capital.

Perjuangan mereka kemudian melahirkan paham komunisme. Paham inilah yang kemudian memberi pengaruh bagi kehidupan di Asia-Afrika, seperti di Tiongkok, Vietnam, Kuba, dan Korea Utara.

Demokrasi


Dikutip dari Yuliani dalam Modul Pembelajaran Sejarah Kelas XI SMA (2020: 4), Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno pada abad ke-5 SM.

Demokrasi berasal dari kata demos yang artinya rakyat, dan kratos yang berarti pemerintahan. Secara bahasa demokrasi diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat.

Saat itu pelaksanaan demokrasi melibatkan rakyat secara langsung dalam pemikiran, pembahasan, dan pengambilan keputusan mengenai berbagai hal yang mengangkut kehidupan negara.

Namun, pada perjalanannya, saat memasuki abad pertengahan demokrasi sempat hilang di Eropa. Demokrasi kembali muncul di Eropa ketika memasuki abad pencerahan (Renaissance).

Saat itu, ada dua tokoh terkenal yang mendukung demokrasi, yaitu John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Montesquieu dari Perancis (1689-1755).

Hingga saat ini, demokrasi menjadi suatu ideologi yang dianut oleh banyak negara di dunia salah satunya Indonesia.

Pan-Islamisme


Dikutip dari Soepriyatno (2018: 6), Pan-Islamisme merupakan manifestasi dari prinsip-prinsip Islam mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan antar umat di seluruh dunia.

Ideologi ini lazim disebut al-wahdah alIslamiyyah atau al-ittihad al-Islamiyyah. Tokoh yang mencetuskan paham ini ialah Jamaluddin Al-Afghani.

Jamaluddin mencetuskan ideologi ini karena pada abad ke-19 Islam mengalami kemunduran dalam segala hal. Menurut Jamalauddin, kemunduran Islam disebabkan beberapa faktor, diantaranya:
  • Umat Islam meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang murni,
  • Berpegang kuat pada taklid,
  • Bersikap fatalis,
  • Meninggalkan akhlak mulia,
  • Melemahnya persaudaraan Islam,
  • Menyerahkan urusan administrasi negara kepada yang bukan ahlinya,
  • Melupakan ilmu pengetahuan.

Pengaruh dari paham ini dapat dilihat dari kemunculan banyak negara-negara Islam di kawasan Asia-Afrika. Selain itu pengaruh dari semangat Pan-Islamisme ikut membentuk Liga Dunia Islam tahun 1962 dan Organisasi Konferensi Islam tahun 1969.


Baca juga artikel terkait IDEOLOGI atau tulisan menarik lainnya Alhidayath Parinduri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Aditya Widya Putri

DarkLight