Menuju konten utama

Cina Larang Impor Besi dari Korut dan Mulai Peringatkan AS

Cina mulai memberlakukan larangan impor bijih besi, besi, timah, dan batubara dari Korea Utara yang sejak hari ini sekaligus mengirimkan ancaman soal koalisi pada pemerintahan Trump.

Cina Larang Impor Besi dari Korut dan Mulai Peringatkan AS
Kendaraan militer membawa rudal dengan huruf bertuliskan "Pukkuksong" dalam parade militer memperingati 105 tahun pendiri Korea Utara, Kim Il Sung, dalam foto tidak bertanggal yang disiarkan oleh Pusat Agensi Berita Korea Utara (KCNA), Minggu (16/4). Foto diambil tanggal 16 April 2017. ANTARA FOTO/REUTERS/KCNA.

tirto.id - Cina dikabarkan mulai memperketat tekanan ekonomi terhadap Korea Utara dengan menerapkan paket sanksi PBB terbaru pada Senin (14/8/2017) waktu setempat. Secara bersamaan, Cina juga memberi peringatan untuk pemerintahan Presiden AS Donald Trump: “Jangan merusak koalisi yang baru dibentuk dengan memulai perang dagang.”

Kementerian Perdagangan Cina mengumumkan larangan impor bijih besi, besi, timah, dan batubara dari Korea Utara yang mulai berlaku sejak hari ini, Selasa (15/8/2017). Sementara itu, Cina masih akan terus membersihkan barang-barang impor dari Korea Utara yang telah tiba di pelabuhan sampai 5 September.

Pada saat yang sama, Beijing pun memperingatkan Presiden Trump untuk tidak memecah koalisi internasional mereka terkait Korea Utara dengan melakukan provokasi perang dagang antara Cina dan Amerika Serikat.

Trump sebelumnya telah menandatangani sebuah memorandum eksekutif pada Senin sore yang menginstruksikan negosiator terkemuka AS untuk memulai penyelidikan atas pelanggaran hak kekayaan intelektual Cina, sebuah langkah yang dapat menghasilkan sanksi perdagangan yang cukup berat.

Baca juga: PBB Sepakati Sanksi Nuklir Terbaru untuk Korea Utara

Sementara itu di Cina, langkah-langkah yang diusulkan ini dilihat sebagai upaya untuk menekan Beijing untuk bertindak lebih kuat melawan Korea Utara dan sebagai upaya untuk menggeser kesalahan atas kegagalan dunia mengendalikan program nuklir dan rudal Pyongyang kepada Cina sendiri.

"Jelas tidak pantas menggunakan satu hal sebagai alat untuk menekan orang lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying pada sebuah konferensi pers rutin, seperti dikutip dari Washington Post.

Dengan hubungan komersial antara kedua negara menjadi lebih terjalin dari hari ke hari, katanya, perang dagang bukanlah ide bagus. "Tidak akan ada pemenang," ujar Chunying. "Ini akan kalah-kalah."

Dalam sebuah editorial surat kabar milik negara China Daily mengatakan bahwa Trump meminta terlalu banyak pada Cina mengenai Korea Utara, yang juga dikenal sebagai Republik Rakyat Demokratik Korea, atau DPRK.

Pendekatan transaksional Trump untuk urusan luar negeri tidak membantu, katanya, sementara menegaskan bahwa "mempolitisasi perdagangan hanya akan memperparah kesengsaraan ekonomi Amerika Serikat, dan meracuni hubungan Cina dan AS keseluruhan."

Langkah serupa juga tidak akan membawa hasil ketika ditujukan untuk Korea Utara pula, demikian dijelaskan dalam editorial tersebut.

"Dengan mencoba memberatkan Beijing sebagai kaki tangan dalam percobaan nuklir DPRK (Korea Utara) dan menyalahkannya atas kegagalan yang pada dasarnya merupakan kegagalan semua pemangku kepentingan, Trump berisiko membuat kesalahan serius dalam membelah koalisi internasional yang merupakan sarana untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan damai," tulis editorial China Daily itu.

"Mudah-mudahan Trump akan menemukan jalur lain. Hal-hal akan menjadi lebih sulit lagi jika Beijing dan Washington saling berhadapan satu sama lain. "

Cina menyumbang sekitar 90 persen dari perdagangan Korea Utara namun berkurang pada Februari lalu karena menunda impor batu bara Korea Utara sampai akhir tahun. Batu bara biasanya menyumbang sekitar setengah dari ekspor Korea Utara. Namun meski ada larangan batubara, perdagangan secara keseluruhan antara kedua negara tetap sehat.

Bulan lalu, Cina mengumumkan bahwa impor dari Korea Utara turun menjadi 880 juta dolar AS dalam enam bulan yang berakhir pada bulan Juni, turun 13 persen dari tahun sebelumnya. Khususnya, impor batu bara Cina dari Korea Utara turun drastis, dengan hanya 2,7 juta ton yang dikirim pada paruh pertama tahun 2017, turun 75 persen dari tahun 2016.

Namun impor bijih besi tumbuh tajam, mencapai 1,34 juta ton, diperkirakan mencapai 68 juta dolar AS, meningkat 60 persen pada paruh pertama tahun ini.

Lonjakan 29 persen ekspor Cina ke Korea Utara - Korea Utara membeli produk Cina senilai 1,67 miliar dolar AS dalam enam bulan pertama tahun ini - juga membantu mendorong total perdagangan antara kedua negara naik 10 persen antara Januari dan Juni, dibandingkan dengan yang sama pada periode tahun lalu.

Langkah terakhir untuk menangguhkan impor besi, bijih besi, timbal dan timbal bijih, serta produk makanan laut, akan memberi tekanan lebih besar pada Pyongyang. Namun tidak mungkin cukup untuk membujuk Korea Utara untuk meninggalkan program nuklirnya, yang dianggapnya penting untuk kelangsungan hidupnya sendiri, demikian para ahli mengatakan.

Cina sangat enggan melakukan apapun yang mungkin mengguncang rezim tersebut, karena merupakan sekutu lama. Cina menyalahkan permusuhan Amerika terhadap Pyongyang yang memaksa untuk mengembangkan program nuklirnya, dan mendesak dialog untuk mengurangi ketegangan.

Langkah melawan Cina atas perdagangannya juga terlihat di sini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik Trump.

Melawan Cina tidak dapat memecahkan masalah ekonomi AS, kata para ahli seperti dilanasir kantor berita Xinhua.

Koran nasionalis Global Times puna mengatakan bahwa perang dagang dengan China bisa menjadi "bumerang" bagi Trump, karena masyarakat AS tidak akan dapat menahan kerugian yang akan terjadi.

"Jika sebuah perang perdagangan Cina-AS dimulai, banyak dari mereka yang sekarang mendukung sikap keras terhadap Cina akan berbalik melawan pemerintahan Trump," tulis media itu dalam sebuah editorial.

Bahkan Global Times mencoba untuk menghubungkan perkembangan ketidakstabilan dunia dengan kekerasan dan "kebencian rasial" yang baru-baru ini terjadi di Charlottesville akhir pekan lalu.

"Sumber ketidakstabilan global mungkin bukan karena ambisi nuklir Korea Utara atau krisis pengungsi Eropa, tapi kekacauan di AS," tulisnya dalam sebuah opini terpisah. "Masyarakat juga khawatir Trump menggunakan perselisihan internasional untuk mengalihkan perhatian publik dari gejolak domestik."

Baca juga artikel terkait NUKLIR KOREA UTARA atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Politik
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari