Cerita Para Seniman Perempuan Melawan Korupsi Lewat Karya

Reporter: Andrian Pratama Taher, tirto.id - 10 Des 2022 09:12 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Pameran Art Collaboration ini memiliki tema yang beragam. Mulai dari konflik kepentingan dalam kegiatan pengerukan pasir yang dikemas dengan komik strip.
tirto.id - Para seniman memamerkan karyanya di Uncorrupt-Fest: Suara Rakyat Melawan Korupsi. Karya-karya mereka dipamerkan di Kalijaga, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (9/12/2022)- Minggu (11/12/2022).

Acara tersebut merupakan bentuk perayaan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) yang jatuh pada 9 Desember 2022. Para seniman itu yaitu Adelia Maghfira, Bivisyani Q, Nadiyah Suyatna, Faza, dan Muhammad Reza.

Hasil karya seni yang disajikan melalui pameran Art Collaboration ini memiliki tema yang beragam, antara lain, konflik kepentingan dalam kegiatan pengerukan pasir, konflik lahan adat, dan pelayanan publik yang dikemas dengan komik strip.
Para seniman mengaku senang bisa berpartisipasi dalam acara tersebut. Salah satunya, Adelia Magfirah mengakuI menyiapkan karyanya sejak September lalu.


"Sebenarnya kalau waktunya tepat aku sangat ingin berpartisipasi lagi ya karena kemarin juga sebenarnya prosesnya panjang banget untuk menciptakan karya-karya kita ini. kayak kurang lebih dari bulan September sampai awal Desember kemarin baru rampung. jadi kalau di tahun depan ada kesempatan lagi sih aku mau," kata Magfirah di acara Uncorrupt Fest 2022, Jakarta, Jumat (9/12/2022).


Tema yang dipilih Adelia yaitu pelayanan publik dan pelayanan dasar. Banyak tantangan yang dihadapi. Dalam prosesnya, dia berdialog langsung dengan korban yang terdampak akibat aksi korupsi.

"Jadi macam-macam dari berbagai LSM aku ngumpulin data, kayak ngejar seseorang buat mewawancarai dia kayak sebenarnya tantangannya di situ aja," ungkapnya.







Tidak hanya Adelia, Bivisyani Q. Bivi, sapaan Bivisyani justru mengalami tantangan dalam proses pengerjaan karyanya. Salah satu kesulitan yang dialami yaitu sulit menggambar detail. Karena objek gambar adalah masyarakat adat yang tidak memperkenankan pengambilan foto.

"Jadi referensi apapun yang mau kupakai harus mau-enggak-mau sketsa sendiri dan itu juga harus cepat-cepat karena misalnya mau gambar baju orang-orang di situ kayak gimana [...] ya mau enggak mau percaya aja sama yang digambar benar dan akurat kalo pas bikin komik," kata Bivi.

Sementara itu, seniman lain, Nadiyah Suyatna mengaku observasi langsung ke masyarakat selama dua hari di lapangan. Dia mengaku materi yang diterima kebanyakan dari masyarakat adat.

Tetapi, rintangan juga dialami. Karena informasi yang disampaikan banyak dan menggunakan bahasa daerah.

"Karena ngobrol-ngobrol ini lama banget jadi banyak banget jadi banyak banget materi. Gimana caranya ngerangkum materi ini 6 halaman," kata Nadiyah.

Koordinator Divisi Penggalangan Dukungan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Sigit Wijaya mengatakan mereka memilih kegiatan Hakordia dengan pendekatan seni karena ICW melihat seni adalah instrumen yang mudah diterima publik.

Dia menilai, karya seni memudahkan publik menangkap pesan daripada lewat rilis pers yang disebar ke publik. Sementara itu, untuk pemilihan seni komik strip adalah upaya ICW untuk mengenalkan konsep anti korupsi pada generasi muda.

"Kenapa kita milih komik ini kan komik online lagi booming dan banyak pembacanya anak muda. target kita memang anak-anak muda dan ini yang diangkat hal-hal yang berat," kata Sigit saat berbincang di acara Uncorrupt Fest 2022 di Jakarta, Jumat.

Lebih lanjut, dia menuturkan komik yang diangkat bukan topik mudah. Seperti isu konflik kepentingan, isu konflik adat hingga pelayanan publik yang belum tentu dipahami anak muda. Mereka juga memilih perempuan karena kerap jadi korban.

"Kenapa perempuan? pertama kita mau coba ajak kelompok perempuan untuk melihat sudut pandang mereka, yang seringkali banyak menjadi korban dan dengan komik ini kelompok perempuan akan terwakili," kata Sigit.

Proses yang dilakukan para seniman memakan waktu hingga 4 bulan. Semua dilakukan agar seniman bisa memahami kondisi dan bisa menggambarkan sesuai ekspresi mereka.

Sigit juga menjelaskan para seniman yang diajak untuk ikut bukan mengejar kuantitas. Mereka mencari seniman yang punya kualitas dan mampu menyederhanakan data yang sulit ke dalam komik. Di sisi lain, mereka memilih komik strip agar lebih mudah disebarkan di media sosial.

Sigit berharap, Uncorrupt Fest dapat membuat warga bisa lebih paham dan memahami bahwa korupsi itu berbahaya. Korupsi, kata Sigit, juga bukan bicara soal kerugian negara saja, tetapi kebutuhan dasar warga, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, transportasi dan lain sebagainya sampai ke keberlangsungan masyarakat adat itu terancam oleh kejahatan korupsi.

"Makanya lewat ini mungkin bisa menggugah warga untuk sama-sama berpihak kepada gerakan antikorupsi untuk melakukan perubahan supaya menjadi Indonesia yang bebas korupsi," kata Sigit.

Rule of Law Advisor Office of Democratic Resilience and Governance (DRG) selaku perwakilan USAID Dondy Setya juga mengakui karya seni merupakan medium yang efektif untuk mencari perhatian dan menyampaikan pesan ke publik. Dia juga melihat bahwa penggunaan komik strip juga bisa menjadi alat untuk kampanye dan penyampaian semangat anti korupsi kepada publik lewat karya anak muda.

"Saya rasa karya seni seperti termasuk misalnya, komik ini itu kan merupakan wahana bagi anak muda untuk bisa mengekspresikan perasaan mereka ya. Tidak hanya melulu melalui karya ilmiah yang mungkin berhalaman-halaman itu tetapi dengan ini mungkin mereka punya alternatif lain yang bisa juga mendapatkan audience," kata Dondy.

Dondy mengakui topik yang diangkat seniman di Uncorrupt-Fest berat dan berbeda. Dia menuturkan seniman merasakan proses imajinasi secara langsung dengan turun ke jalan dengan tema yang berbeda. Mereka juga membawa materi pemahaman korupsi yang tidak khalayak umum seperti white collar crime atau korupsi yang kompleks, tetapi lebih isu keseharian.

"Meskipun tentu tidak semua identitas diungkap, tapi intinya adalah yang kita lihat, saksikan ini itu merupakan cerita yang nyata, yang dialami masyarakat di lapangan," pungkasnya.



Baca juga artikel terkait UNCORRUPT FEST 2022 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Intan Umbari Prihatin

DarkLight